KESENIAN

SELAMAT DATANG
DI BLOG LooKM4N G4R3NG.
BLOG INI TERLAHIR KARENA KEINGINTAHUAN DAN KEHAUSAN
TENTANG KESENIAN

Jumat, 15 Agustus 2014

BENTUK PERTUNJUKAN TOPENG DHALANG MADURA UNTUK KEMASAN PARIWISATA

Oleh : Lukman Riyadi
ABSTRAK
Salah satu cara agar seni pertunjukan tidak rebah atau mati, perlu diolah menjadi kemasan yang menarik, sarat akan nilai estetis, namun juga tidak meninggalkan bentuk asli dari kesenian itu sendiri. Aspek yang sangat menjanjikan untuk dapat membantu seni pertunjukan agar tetap hidup adalah mengemas seni pertunjukan ini kedalam aspek wisata. Pariwisata ada karena adanya wisatawan, orang-orang yang ingin kemana-mana untuk melihat sebanyak mungkin, seaneh mungkin, dengan biaya yang serendah mungkin dan dalam waktu sependek mungkin (Kayam, 1981: 179). Maka pengusaha-pengusaha wisata yang dibingkai dalam keadaan demikian mulai tergerak untuk menciptakan sarana prasarana untuk menunjang dan memuaskan kondisi tersebut. Daerah yang telah mengeksplorasi kekayaan alam dan kebudayaan termasuk seni pertunjukan yang dimiliki daerahnya di Indonesia adalah daerah Bali, seniman Bali sangat peka terhadap selera masyarakat termasuk wisatawan.
Seperti halnya Bali, di Jawa Timur khususnya daerah Madura yang sangat kental dan erat dengan tradisi daerahnya memiliki bentuk-bentuk kesenian khas dan berbeda dari daerah-daerah lain, gaya hidup masyarakatnya yang sangat mencintai budaya asli daerahnya membuat kebudayaan termasuk kesenian Madura tetap lestari didaerahnya. Namun, dengan adanya Jembatan Suramadu yang merupakan sarana transportasi untuk mempermudah akses masyarakat luar Madura berkunjung ke pulau itu. Masyarakat luar atau lazim disebut dengan wisatawan itu sengaja berkunjung ke Pulau Madura bukan semata-mata hanya ingin mencoba jembatan Suramadu saja, namun para wisatawan menginginkan untuk mengetahui lebih dalam tentang bagaimana Pulau Madura secara luas. Masuknya unsur modernisasi yang menginginkan segala sesuatu serba instan mendorong masyarakat Madura ikut memikirkan cara mengolah aset-aset daerahnya untuk mendapat point lebih, agar wisatawan yang awalnya hanya ingin tahu bagaimana keadaan pulau Madura ingin datang lagi dan kembali lagi berkunjung kesana.
Seni Pertunjukan Topeng Dhalang Madura merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional masyarakat Madura yang mulai berkurang peminatnya. Untuk mengembalikan eksistensi seni pertunjukan Topeng  Dhalang ini, seniman Madura perlu berupaya mengubah kemasan atau bentuk pertunjukan Topeng  Dhalang menjadi suatu kemasan dengan tujuan untuk konsumsi pariwisata. Usaha seperti ini sesungguhnya bukanlah sekedar ikhtiar agar seni tradisi tetap lestari tetapi juga memberikan berbagai dimensi baru bagi kebudayaan tradisi tanpa harus terjebak oleh cita-cita luhur berlebihan sebagai penjaga tradisi (lama). Upaya seperti ini memiliki kepentingan sebagai usaha pelestarian yang handal. Tantangan terbesar dari kesenian tradisi dalam berhadapan dengan modernisasi dan globalisasi adalah perubahan pemaknaan fungsi dan perannya, terutama ketika berbenturan dengan seni kontemporer dan kepentingan pariwisata, hal ini telah menjelma menjadi sebuah tuntutan yang apabila tidak segera ditanggapi secara kreatif, mengandung resiko ditinggalkan oleh masyarakat "baru". Generasi muda yang dapat menghafal tradisi dan menyenangi seni tradisi semakin sedikit, dapat menyebabakan seni tradisi terancam punah.
Kata Kunci: Topeng Dhalang, Pariwisata, eksistensi.

I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Madura merupakan salah satu daerah di Jawa Timur yang terkenal akan pesona keindahan alam, dan mempunyai berbagai kebudayaan yang menarik dan memiliki nilai jual. Tidak hanya kebudayaannya saja, namun kesenian yang merupakan bagian dari kebudayaan adalah suatu wujud atau hasil karya dari masyarakat Madura. Kesenian merupakan produk asli yang diciptakan dan berkembang disuatu daerah tertentu lazim disebut kesenian tradisional, merupakan local genius masyarakat sangat menarik untuk dipelajari dan diolah secara kreatif agar dapat digunakan dalam segala aspek.
Hegel dalam Bastomi (1992:36) mengatakan bahwa perkembangan seni mengakibatkan tumbuhnya bermacam-macam seni. Seni adalah pencerminan jiwa atau gagasan yang tertuang dalam bermacam-macam bentuk dengan berbagai media ungkap. Ditinjau dari bentuk perwujudannya, seni terbagi tiga jenis, yaitu: seni rupa, seni sastra dan seni pertunjukan, untuk membedakan ketiga jenis seni tersebut dapat ditinjau dari cara menikmati wujudnya. Seni rupa dikatakan seni yang kekal, dari kata kekal dapat disimpulkan bahwa seni rupa kapanpun dan dimanapun tempatnya apabila wujudnya sama akan sama pula orang memaknainya, sedangkan seni pertunjukan dikatakan seni yang hilang waktu, walaupun melihat pertunjukan yang sama akan terasa berbeda makna yang dirasakan ketika pertama menonton dan selanjutnya. Seni pertunjukan di Indonesia berangkat dari suatu keadaan dimana seni itu tumbuh dalam lingkungan-lingkungan ethnik yang berbeda satu sama lain. Dalam lingkungan-lingkungan ethnik ini, adat, atau kesepakatan bersama yang turun temurun mengenai perilaku, mempunyai wewenang yang amat besar untuk menentukan rebah-bangkitnya kesenian, seni pertunjukan pada pertunjukannya.
Salah satu cara agar seni pertunjukan tidak rebah atau mati, perlu diolah menjadi kemasan yang menarik, sarat dengan nilai estetis, namun juga tidak meninggalkan bentuk asli dari kesenian itu sendiri. Aspek yang sangat menjanjikan untuk dapat membantu seni pertunjukan agar tetap hidup adalah mengemas seni pertunjukan ini kedalam aspek wisata. Pariwisata ada karena adanya wisatawan, orang-orang yang ingin kemana-mana untuk melihat sebanyak mungkin, seaneh mungkin, dengan biaya yang serendah mungkin dan dalam waktu sependek mungkin (Kayam, 1981: 179). Maka pengusaha-pengusaha wisata yang dibingkai dalam keadaan yang demikian mulai tergerak untuk menciptakan sarana prasarana untuk menunjang dan memuaskan kondisi tersebut. Di Indonesia yang telah melakukan hal ini adalah daerah Bali, seniman Bali sangat peka terhadap selera masyarakat termasuk wisatawan.
Seperti halnya Bali, di Jawa Timur khususnya daerah Madura sangat kental dan erat dengan tradisi daerahnya memiliki bentuk-bentuk kesenian khas dan berbeda dari daerah-daerah lain, gaya hidup masyarakatnya yang sangat mencintai budaya asli daerah membuat kebudayaan termasuk kesenian Madura tetap lestari. Namun, dengan adanya Jembatan Suramadu yang merupakan sarana transportasi untuk mempermudah akses masyarakat luar Madura berkunjung ke pulau itu, masyarakat luar atau lazim disebut dengan wisatawan itu sengaja berkunjung ke Pulau Madura bukan semata-mata hanya ingin mencoba jembatan Suramadu saja, melainkan para wisatawan menginginkan untuk mengetahui lebih dalam tentang bagaimana Madura secara luas. Masuknya unsur modernisasi yang menginginkan segala sesuatu serba instan mendorong masyarakat Madura ikut memikirkan cara mengolah aset-aset daerahnya untuk mendapat point lebih agar wisatawan yang awalnya hanya ingin tahu bagaimana keadaan pulau Madura ingin datang lagi dan kembali lagi berkunjung kesana.
Seni pertunjukan Topeng  Dhalang Madura merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional masyarakat Madura yang mulai berkurang peminatnya. Untuk mengembalikan eksistensi seni pertunjukan Topeng  Dhalang ini, seniman Madura perlu berupaya mengubah kemasan atau bentuk pertunjukan Topeng  Dhalang menjadi suatu kemasan dengan tujuan untuk konsumsi pariwisata. Usaha seperti ini sesungguhnya bukanlah sekedar ikhtiar agar seni tradisi tetap lestari tetapi juga memberikan berbagai dimensi baru bagi kebudayaan tradisi tanpa harus terjebak oleh cita-cita luhur berlebihan sebagai penjaga tradisi (lama). Upaya seperti ini memiliki kepentingan sebagai usaha pelestarian yang handal, tantangan terbesar dari kesenian tradisi dimanapun ketika berhadapan dengan modernisasi dan globalisasi adalah perubahan pemaknaan fungsi dan perannya, terutama saat berbenturan dengan seni kontemporer dan kepentingan pariwisata, hal ini telah menjelma menjadi sebuah tuntutan, yang apabila tidak segera ditanggapi dengan kreatif, dapat beresiko ditinggalkan oleh masyarakat "baru". Generasi muda yang mampu menghafal tradisi dan menyenangi seni tradisi semakin sedikit dapat mengakibatkan seni tradisi terancam punah. Perubahan nilai dan paradigma sosial masyarakat dalam konteks hubungan dengan seni dan penikmat seni ini merupakan satu hal penting yang harus disiasati dengan kreatif tanpa mesti dikhawatirkan akan mencairkan kemurnian seni tradisi itu sendiri.
Berdasarkan  kondisi diatas perlu adanya kesadaran dari generasi muda terutama masyarakat lokal untuk selalu berupaya melestarikan seni pertunjukan Topeng  Dhalang yang merupakan kesenian tradisi masyarakat Madura, sehingga penulis tertarik untuk mengangkat seni pertunjukan Topeng  Dhalang dalam penulisan yang berjudul "Bentuk Pertunjukan Topeng  Dhalang Madura Untuk Kemasan Pariwisata", dengan judul yang telah diangkat penulis telah menemukan permasalahan yang akan dibahas dalam tulisan ini, yaitu: Bagaimana bentuk pertunjukan Topeng  Dhalang Madura untuk kemasan pariwisata?, setelah pendapatkan permasalahan penulis memiliki tujuan dalam penulisan ini untuk mengetahui bentuk pertunjukan Topeng  Dhalang Madura dalam kemasan pariwisata. Banyak manfaat yang dapat diambil ketika membaca tulisan ini, manfaat yang dapat diambil baik bagi penulis maupun pembaca antara lain: (1) Bagi penulis dapat menambah ilmu dengan mengadakan kajian pustaka dan pengamatan dalam penulisan makalah ini. Selain itu, penulisan makalah ini juga dapat menambah wawasan, pengetahuan, dan pengalaman penulis tentang teater tradisional Topeng  Dhalang, (2) Bagi pembaca, sebagai bacaan yang memberikan pengetahuan tentang kesenian Topeng  Dhalang sehingga menjadi pencerahan untuk mempertahankan dan melestarikannya.

II. PEMBAHASAN
A.       Bentuk Pertunjukan Topeng Dhalang
Seperti halnya Ludruk, salah satu jenis seni pertunjukan di Jawa Timur, yang mengawali setiap pementasannya dengan ngremo, Topeng Dhalang juga membuka pagelaran dengan penampilan tarian Ksatria Kelana Tunjungseta yang membawa serta empat raksasa pengiring. Cerita yang terkandung dalam tari pembuka ini sendiri adalah tentang Dewa Siwa yang sedang mengirim Kelana Tanjungseta beserta anak buahnya untuk mengawasi keadaan serta perilaku manusia di bumi. Setelah tari pembukaan, Dhalang membuka dengan pemaparan prolog atau panorama, kemudian disusul tembang-tembang Suluk. Alunan tembang ini mengantarkan para penonton untuk memasuki inti cerita yang akan dipentaskan. Suluk dan dialog dalam Topeng Dhalang Madura memakai bahasa Madura halus, sedangkan suluk pembukaan menggunakan bahasa Jawa kuno, hal ini membuktikan bahwa topeng awalnya berasal dari satu sumber.
Dalam setiap pertunjukan, tokoh utama yang menggerakkan semua pemeran adalah dhalang. Ki Dhalang sebagai pemimpin orkestra gamelan, menyajikan suluk, narasi dan mengucapkan dialog. Dengan suaranya yang lembut dan kadang menghentak keras Ki Dhalang memimpin penari-penari yang bergerak di belakang topeng. Semua pemeran lakon atau penari tidak berdialog, kecuali tokoh Punakawan karena dialog dan nyanyian seluruhnya diucapkan oleh Dhalang yang duduk di belakang layar. Pada layar tersebut dibuat lubang kecil yang berbentuk segi empat, disinilah Dhalang mengisahkan lakon sesuai dengan cerita, sedangkan di depan layar para pemain lakon menyesuaikan dengan gerakan-gerakan tari setiap alur cerita yang dikisahkan Dhalang.
Setiap lakon yang dibawakan selalu sarat dengan gaung cinta, adegan heroik ataupun beragam petuah bermakna filosofis kehidupan yang kental,  ditambah dengan gerak tarian yang terangkai dalam gerak yang kompleks, seperti gerakan tarian yang halus, lemah lembut lalu kemudian berubah kasar, kaku dan sedikit naif, namun dibawakan dengan penuh emosi yang ekspresif. Dalam setiap pementasan, penampilan para penari sangat sederhana, tetapi ekspresif sekalipun setiap gerak tari sedikit kaku, tetapi mengandung nilai spiritual yang tinggi merupakan salah satu nilai tambah, karena nilai-nilai yang terkandung dalam setiap gerakan masih brilian, bersih dan otentik.
Gerakan atau gaya tarian yang dipakai dalam pertunjukan Topeng Dhalang ada beberapa macam, diantaranya: Tandhang Alos (tari halus), Tandhang baranyak (tari sedang), Tandhang ghalak (tari kasar) dan putri (gerak penari perempuan). Masing-masing tandhang ini diiringi oleh gending-gending tersendiri, seperti: Tandhang Alos yang diiringi gending-gending Puspawarna, Tallang, dan Rarari, tandhang Baranyak diiringi gending-gending Calilit, Pedat dan Lembik, sedangkan tandhang Ghalak diiringi gending-gending Gagak, Pucung, Kewatang Serang dan Gunungsari. Alat musik yang dipakai adalah gamelan, ditambah crek-crek yang dipakai oleh dhalang.
Nilai positif pada Topeng Dhalang Madura adalah suasana dengan nuansa magis yang dibangun oleh bunyi gemerincing gongseng, getaran gongseng seakan menyebar ke seluruh arena membentuk suasana yang diperlukan, baik suasana sedih, gembira ataupun tegang. Nuansa magis yang lain adalah disaat penari menghentak-hentakkan kaki, sepanjang pertunjukan tak sepi dari suara ghungseng (gongseng), apabila disimak memang suara satu dan lainnya memberikan ekspresi tersendiri.
Lakon yang dimainkan dalam Topeng Dhalang banyak mengambil kisah Panji atau kisah-kisah seperti Damar Wulan, namun dalam perkembangannya kisah-kisah yang dipentaskan saat ini banyak mengambil cerita dari epik Ramayana dan Mahabharata, dengan ditambah cerita-cerita carangan, dimana tokoh-tokohnya tetap merupakan tokoh-tokoh Ramayana atau Mahabharata.
Dalam setiap pementasan kisah Mahabharata lebih sering ditampilkan, karena kisah-kisah dalam Mahabharata terdapat lebih banyak pertentangan, perseteruan dan konflik. Konflik multi dimensi dari masalah cinta, perang saudara, perebutan tahta, ideologi maupun pertentangan antara anak dengan orang tua, murid dengan guru, saudara dengan saudara. Konflik-konflik tersebut dibumbui dengan adu kedigdayaan, baik berupa senjata mustika maupun kesaktian yang dimiliki oleh para ksatria. Setelah pertunjukan selesai dilanjutkan dengan seni macopat atau mamaca sebagai lanjutan upacara ritual.
B.       Seni Tradisi Dapat Dinikmati Oleh Wisatawan
Sejak pariwisata menjadi industri yang populer terutama karena manfaat-manfaat ekonomisnya, membuat setiap negara berminat mengembangkan dirinya menjadi salah satu tujuan wisata. Setiap negara akan mulai mengembangkan potensi yang dimiliki agar dapat dieksploitasi secara komersial, salah satu caranya adalah mengadakan pembangunan, pengembangan, dan pembaharuan disemua bidang termasuk bidang seni pertunjukan.
Soedarsono dalam bukunya Seni Pertunjukan Indonesia dan Pariwisata (1999:3) mengemukakan ada lima ciri utama dari seni pertunjukan wisata di negara yang sedang berkembang, yaitu: (1) tiruan dari aslinya, ini berarti bahwa seni pertunjukan yang disajikan untuk kemasan periwisata tidak harus sama dengan yang asli, namun tidak menghilangkan unsur-unsur didalamnya; (2) singkat dan padat atau bentuk mini dari aslinya, wisatawan yang hanya memiliki sedikit waktu untuk menyaksikan seni pertunjukan disuatu daerah, tetapi membutuhkan bentuk pertunjukan yang utuh, dan tidak dalam waktu yang lama, sehingga seniman harus membuat kemasan seni pertunjukan yang singkat, padat namun tidak meninggalkan bentuk aslinya; (3) penuh variasi, kreativitas seniman untuk mengemas pertunjukan yang diinginkan wisatawan menjadi salah satu unsur yang sangat penting, karena wisatawan ingin melihat sesuatu yang baru dan unik, seperti penggunaan kostum, tata rias, tata panggung, serta unsur pendukung lainnya yang menarik dan tidak ketinggalan zaman; (4) ditanggalkan nilai-nilai sakral, magis, serta simbolisnya, wisatawan luar daerah tidak mengetahui tentang hal-hal sakral, magis, maupun simbolis dari daerah tempat wisata yang dikunjungi, sehingga membuat seni pertunjukan yang dikemas untuk pariwisata menghilangkan unsur-unsur tersebut, karena ada atau tidaknya unsur tersebut tidak membuat kemasan pertunjukan ini berubah; (5) murah harganya, harga merupakan satu hal yang selalu diperhitungkan wisatawan sebelum berkunjung disuatu daerah, maka dari itu pemilihan harga harus tepat agar wisatawan tidak perlu berpikir dua kali untuk datang dan melihat pertunjukan yang ditawarkan di daerah tersebut.
            Seni tradisi yang merupakan produk asli di suatu daerah adalah sebuah aset yang bisa menjadikan tujuan wisatawan berkunjung. Kesenian tradisi yang lahir dari masyarakat yang mendiami suatu daerah tertentu juga dapat dieksplorasi menjadi satu pertunjukan yang menarik dan memiliki nilai jual di indutri pariwisata.
C.       Bentuk Penyajian Topeng Dhalang Untuk Kemasan Parawisata
Dalam pengemasan pertunjukan wisata, para seniman Madura khususnya seniman Sumenep mulai peka terhadap selera para wisatawan, hal itu dilakukan tidak lain untuk mengangkat nilai-nilai seni tradisi dan memperkenalkannya kepada masyarakat luar, salah satu upaya yang dilakukan adalah mengemas pertunjukan Topeng Dhalang untuk konsumsi pariwisata. Hal ini tentunya berbeda sekali dengan kemasan pertunjukan yang sudah ada dan berkembang dikalangan masyarakat, dimana masih mengedepakan nilai-nilai spiritual yang dikemas dalam bentuk upacara ritual, sehingga masyarakat hanya bisa menonton pertunjukan Topeng Dhalang di acara-acara tertentu saja, seperti ritual tase' (upacara laut) dan acara pernikahan. Masyarakat masih sangat percaya akan tradisi leluhur, meskipun sudah banyak masyarakat yang mulai meninggalkan kepercayaan itu.
Seni Topeng Dhalang yang dikemas untuk tujuan parawisata mengalami banyak perubahan, baik dari segi gerak, blocking, bahasa, durasi, cerita maupun settingnya.
1.    Gerak
Gerak merupakan suatu unsur utama dalam tari maupun dalam seni teater, maka ini menjadi tugas seorang sutradara dan koreografer untuk mengemas dengan baik, karena pertunjukan Topeng Dhalang tidak akan pernah lepas dari unsur tersebut, yaitu tari dan teater.
Gerakan pembentuk cerita dan tari-tarian dalam pertunjukan topeng dhalang mestinya tidak berubah dilihat dari segi seni tradisi yang lebih mengutamakan unsur pakem, tetapi dengan adanya kemasan baru maka dimasukkan beberapa karakteristik yang sebelumnya belum ada dalam pertunjukan lama, seperti memadukan gerakan tradisi dan modern,dengan kata lain gerakan-gerakan yang digunakan tidak semua pakem, tetapi tidak menghilangkan nilai kepakeman kesenian ini tentunya, ini untuk menambah warna dalam pertunjukan tersebut. Salah satu gerakan perpaduan tradisi dan modern misalnya, gerakan goyangan pinggul yang mirip dengan goyangan orang mendengarkan musik, padahal pada seni pertunjukan Topeng Dhalang yang asli hampir tidak tampak gerakan goyang tersebut.
2.     Blocking
Blocking adalah kedudukan tubuh pada saat diatas pentas. Dalam permainan teater, blocking yang baik sangat diperlukan, yang dimaksud dengan blocking yang baik adalah blocking tersebut harus seimbang, utuh, bervariasi dan memiliki titik pusat perhatian serta wajar.
Dalam penataan pertunjukan diatas panggung, perlu adanya struktur pemetaan yang kuat, sehingga panggung kaya dan mempunyai banyak dimensi ruang. Seni tradisi cenderung bersifat kaku, karena nilai luhur benar-benar dijaga, tetapi apabila kesenian tradisi tersebut diangkat untuk kepentingan hiburan maka perlu adanya sentuhan yang berbeda, meskipun tidak mengubah semuanya, sehingga esensinya tidak berubah. Topeng Dhalang yang diangkat dari ritual ke profan sangat menarik ketika mendapatkan sentuhan-sentuhan baru yang lebih memperkaya bentuk pemanggungan.
3.    Bahasa
Bahasa merupakan faktor penyambung komunikasi antara pertunjukan dan penonton. Bahasa tidak hanya berbentuk verbal, tetapi juga bisa lewat tubuh dan nada-nada dalam musik, sehingga melalui bahasa tersebut penonton dapat menangkap maksud yang dsampaikan, seperti pesan moral, maupun konteks cerita. Walija (1996:4), mengungkapkan definisi bahasa ialah komunikasi yang paling lengkap dan efektif untuk menyampaikan ide, pesan, maksud, perasaan dan pendapat kepada orang lain.
Bahasa yang digunakan dalan pertunjukan topeng Topeng Dhalang ketika diangkat untuk konsumsi pariwasata sudah mengalami perubahan, sebelumnya bahasa yang digunakan dalang menggunakan bahasa Madura dan sedikit campuran bahasa Jawa, tetapi disini sudah mulai ditambahkan dengan menggunakan bahasa Indonesia, karena melihat kondisi wisatawan tidak hanya dari pulau Madura dan Jawa saja, tetapi dari luar pulau Jawa banyak wisatawan yang ingin menikmati pertunjukan kesenian Topeng Dhalang Madura, seperti wisatawan dari Jakarta dan Semarang. Hal ini terbukti ketika ada pertunjukan Topeng Dhalang dalam acara peringatan hari jadi Kabupaten Sumenep, acara ini berlangsung rutin setiap tahun, banyak wisatawan dari Jakarta dan Semarang khususnya mengapresi pertunjukan Topeng Dhalang, ketika  beberapa wisatawan tersebut ditanyakan  tentang ketertarikan menonton Topeng Dhalang, mereka menjawab dengan penuh antusias bahwa pertunjukan Topeng tersebut menarik dan tidak membosankan, karena setiap pertunjukan selalu ada hal baru yang dimasukkan didalam unsur pertunjukannya, salah satu contohnya unsur cerita yang selalu dikaitkan dengan fenomena sosial budaya yang terjadi disaat itu.
4.    Cerita atau lakon
Cerita atau lakon merupakan suatu unsur utama dalam pertunjukan teater, baik teater tradisional maupun teater modern. Lakon yang diangkat dalam pertunjukan Topeng Dhalang Madura yang semula cenderung mengangkat cerita Mahabrata dan Ramayana sudah mengalami perluasan, seperti cerita-cerita rakyat setempat, dan cerita sosial masyarakat modern tidak luput dari penggarapan sutradara, baik cerita politik dan kekuasaan, tetapi tetap dikemas dalam lingkup pewayangan. Sehingga aroma tradisi Topeng Dhalang tidak lepas dari tubuh pertunjukan.
5.    Durasi
Tujuan kemasan untuk pariwisata tentunya mengubah durasi waktu pertunjukan Topeng Dhalang. Durasi pertunjukan tujuh sampai delapan jam merupakan waktu yang tidak efesien bagi  para wisatawan untuk melihat pertunjukan Topeng Dhalang sampai cerita selesai, mengingat banyak wisatawan yang tidak lama-lama berkunjung ketempat wisata, maka perlu adanya penyempitan durasi kurang lebih sampai satu sampai dua jam, tetapi tidak mengurangi makna cerita, sehingga penggarapan ceritanya lebih diperingkas tetapi kandungan dramaturgi didalamnya masih jelas dan tidak menghilangkan unsur pakemnya.
6.    Setting atau dekorasi
Penataan pentas adalah seni mewujudkan segi unsur visual yang spesifik, oleh karena itu dalam tata pentas selain aktivitas aktor memainkan lakon terdapat pula tatanan property dan hand property yang semua unsur tersebut adalah satu kesatuan.
Dekorasi yang digunakan dalam pertunjukan Topeng Dhalang kemasan baru menggunakan sebagian bentuk dekor asli tetapi tidak lengkap, tapi sangat mirip dengan aslinya, hanya saja menggunakan satu layar dekorasi yang digunakan dari awal sampai cerita atau pertunjukan slesai.

Tahapan  pertunjukuan Topeng Dhalang yang dikemas untuk pariwisata
1.      Macopat
2.      Tarian pembuka Kelana Tunjungseta
3.      Cerita
4.      Gendhing penutup

III. Penutup
  1. Kesimpulan
Topeng Dhalang  merupakan salah satu seni tradisi yang terdapat di Madura khususnya wilayah Sumenep. Jenis kesenian sudah mulai ditinggalkan oleh peminatnya, dengan adanya Jembatan Suramadu yang merupakan sarana transportasi untuk mempermudah akses masyarakat luar Madura berkunjung ke pulau itu. Masyarakat luar atau lazim disebut dengan wisatawan itu sengaja berkunjung ke Pulau Madura bukan semata-mata hanya ingin mencoba jembatan Suramadu saja, namun para wisatawan menginginkan untuk mengetahui lebih dalam tentang bagaimana Madura secara luas. Masuknya unsur modernisasi yang menginginkan segala sesuatu serba instan mendorong masyarakat Madura ikut memikirkan cara mengolah aset-aset daerahnya untuk mendapat point lebih dari biasanya. Sehingga perlu adanya kemasan baru untuk tetap melestarikan kesenian luhur.


DAFTAR PUSTAKA

Achmad, A.Kasim.2006.Mengenal Teater Tradisional Di Indonesia.Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.
Jazuli, M. 2008. Paradigma Kontekstual Pendidikan Seni. Surabaya: Unesa University Press
Kayam, Umar.1981. Seni,Tradisi,Masyarakat. Jakarta: PT.Jaya Pirusa

Koentjaraningrat. 1994. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka

Soedarsono, R.M. 2002. Seni Pertunjukan Indonesia Di Era Globalisasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Walija. 1996. Bahasa Indonesia dalam Perbincangan. Jakarta: IKIP








"Aku, kau dan kalian"


Jendela bukan batas kita,
kau harus lebih dekat denganku,
dan aku harus lebih dekat dengan kalian
jangan kau sembunyikan senyuman itu dibalik rasa malu
buatlah hari ini menjadi masa kesuksesanmu kelak
dan terjanglah selalu congkaknya dunia,
selimuti dengan semangad.
jangan kau padamkan api itu,
karena aku, kau dan kalian berada disini
dihati yang terdalam.


karya Lukman Riyadi

30 Oktober 2012, Pulupanjang, Sumba Timur-NTT

" Makna Yang Tak Berjudul"


Bukan ratusan kunang-kunang yang kulihat,
Tapi segerombolan siswa yang mengerubungi tempat dimana mereka memberi makan daya
HP yang telah sekarat untuk segera diisi sumber kehidupan.
Bukan barisan penonton panggung teater yang kulihat,
tapi kami menjadi tontonan siswa dibalik jendela dengan penuh senyum dan malu mereka,
sambil menyapa " selamat pagi Bapak dan Ibu guru".
Kulihat ada sejuta harapan dihati mereka yaitu pintar dan kesuksesan.
Ku ajarkan pada mereka tentang kesederhanaan hati
kuwajibkan untuk mempunyai cita-cita,
agar bisa mencicipi manisnya kesuksesan yang selama ini didambakan.
Ratusan anak sungai bukan penghalang yang besar
karena semangat juang selalu terpacu dalam diri masing-masing.
"selamat pagi Bapak guru", sapaan itu selalu merinding ketika mereka mengucapkannya.
Kekurangan menjadikan mereka kelebihan yang tak ternilai harganya.
Semuanya adalah harga mati buat mereka.

Lukman Riyadi

30 Oktober 2012, Satap Pulupanjang, NTT

Puisi "Purnama Merindu "



Dibalik bukit kau kabarkan tentang rindu
mengisyaratkan tentang kenangan lampau
memberikan setitik cahaya yang mungkin bisa aku rasakan,
meski menyusup hening yang begitu mendalam.

syair-syair pujangga berserakan di halaman padang kerinduan
melukiskan kata yang tak bisa dijawab
tak bisa di lihat
tak bisa di dengar
tetapi hulu hati bisa merasa

malam ini bulan yang kita lihat sama
sama dalam tiap bait-bait cahayanya
sama dalam baris-baris maknanya
sama dalam kalimat-kalimat setiap kabarnya
dan selalu bersama dalam pegangan yang selalu terikat
maka aku hias semunya dalam bulan yang merindu
karena aku yakin kau akan selalu melihatnya...



Karya : Lukman Riyadi

Puisi " Pelita Harapan"



Asap mengepul dikeheningan dan terpaan dingin
Mengantarku untuk segera berlayar ke pulau kapuk
Tetapi sebentar dulu...
Pekerjaanku belum selesai
Belum juga mulai
Belum lagi ku ulang sebaris pengetehuan tadi siang...

Syair-syair binatang malam selalu membujuk
Agar aku lekas menyelesaikan malamku
Tetapi, masih ku miliki pelita dalam hati
Yang tak bisa dipadamkan dengan angin topan sekalipun
Yaitu, kesederhanaan dan semangat juang...
Aku yakin akan merangkul kesuksesan kelak
semua itu akan indah...indah....dan indah...
Seperti mentari dengan cahaya dan kehangatan,
Bulan dengan purnama,
Dan bintang dengan gemerlapnya...




Karya : Lukman Riyadi               


Puisi " Dengkuran Kubuk Lusuh"


DENGKURAN GUBUK LUSUH


Dalam hening dimalam syahdu
ribuan nyanyian serangga menghantarkan malam panjang
mendendangkan iramanya
mengantarku menuju gubuk lusuh
disini aku berada
disini aku berbuat
disini aku menghelahkan nafas panjang syukur
dan disini aku mendengarkan dengkuran kenikmatan.

sapaan angin selalu menghantarkan malam berlayarku
menuju pulau impian yang tak mungkin aku temukan di sarang yang lain
hanya aku dapatkan disini
tidak disana
dan tidak disitu,
hanya disini
digubuk sederhana yang begitu tampak lusuh...

 Karya : Lukman Riyadi



Minggu, 20 Februari 2011

Teater Eksperimental Putu Wijaya

Tulisan ini dibuat untuk menyambut

Ulang tahun Teater Populer





Teater yang hadir dengan “bahasa” yang dipahami masyarakat, akan mendapat “wilayah”, “kedaulatan”, “bentuk” dan juga “kekuasaan”. Teater yang menguasai “bahasa yang diterima masyarakat” akan memiliki kekuatan, wewenang, hak, popularitas, pengaruh dan akhirnya juga “kekebalan” yang harus ditentang.

Kalau tidak akan terjadi kemacatan teater. Dalam keadan macat, tak akan pernah lagi teater melahirkan peristiwa teater,yang memberikan sumbangn spiritual pada perkembangan budi-daya manusia. Teater akan menjadi hiburan murni yang memperbodoh seperti bermacam-macam racun yang dilahirkan oleh kegiatan pasar. Panggung akan menjadi kuburan seniman teater dan lokalisasi pelacuran dari masyarakat penonton dekaden.

Kami adalah orang-orang yang memilih untuk melawan meriam-meriam teater yang sudah mengabdi kepada pelacuran pasar. Kami terpaksa membenci pasar, Selma kami melihat tempat itu sudah begitu menggoda imansaudara-saudara kami dan membunuh banyak bakat-bakat terbaik. Selama pasar menjadi reaktor yang menguras dana yang seharusnya dapat membangun pencakar-pencakar langit dalm kerajaaan spiritual setiap diri anggota masyarakat. Sehingga pribadi-pribadi yang selyaknya dapat tumbuh sebagai unit metropolitan budaya, semakin langka. Semakin menipis, semakinkehabisan darah untuk melakukan perlawanannya pada erosi di dalam sanubari yang demakin lama semakin membuasa, kurangajar bahkan juag, maaf biadab.

Kami menentang pasar , karena ketidakmampuan serta ketidaktegaan kami sendiri untuk mendamaikan ide-ide kami tentang tontonan dengan kehendak raja-raja yang telah menjadi diktator dan berbuat berbuat semena-mena untuk kepentingan kekuasaannya sendiri. Kami memilih jalan untuk melawan, karena kami percaya, jalan yang ditempuh teater sudah dibelokkan kearah yang bertentangan dengan kemanusiaan. Cerita yang diangkat ke atas lantai pertunjukkan bukan lagi bayang-bayang kebenaran, tetapi tarian strip dari uang yang mempergunakan politik, ilmu jiwa panutan moral atau kotbah filsafat yang sudah hampir mampus, sebagai buku sucinya.

Teater sudah menjadi kabing guling dalam sebuah pesta pengkhiantan mantan-mantan sukarelawan yang semula sudah teken untuk melakukan pengabdian sosial pada kemanusiaan. Untuk itu kami berpacu melawan arus dan melakukan apa saja yang memungkinkan kami bebas dari “bahasa” yang ada.

Kami melakukan terobosan, percobaan-percobaan, pengujian serta serangan-serangan, yang pada prakteknya memberikan alternative lain. Bukan saja mengucap sesuatu, cara melihat sesuatu, cara menila seuatu cara merasakan sesuatu, cara mendengar, menghayati, menghirup, mengecap meraba, menyebut, menamakan, mmempersoalkan dan memikirkan sesuatu. Kami terutama mencecer untuk mempertimbangkan kembali segala sesuatu yang sudah diterima sebagai sebuah kebenaran mutlak yang tak perlu dipersoalkan lagi,

Kami menggugat. Kami mengaum. Kami berontak. Untuk menggantikan teks teater yang sudah kadarluwarsa. Seluruh is tontonan yang sudah kalh dan tunduk di kaki bukit kemenangan mukibat orde pengemas. Kami menyerbu idiom-idiom karatan yang sudah jadi idiologi lamban dan gemuk, untuk dipensiunkan, karena dia tidak lagi meolong dialog kita, tetapi sudah menyesatkan bukan saja masyarakat teater, tetapi juga semua tetangganya yang lain, termasuk nyamuk pers, para maecenas, partner dagang dan para pejabat-pejabat berwenang yang pada prakteknya sudah mampu menentukan hidup dan mati.

Kami melakukan sesuatu yang berbeda dengan tujuan, tata cara, bahkan juga ritus dari bukan saja apa yang sudah galib dilaksanakan, tetapi juga dari apa yang sudah pernah kami lakukansendiri. Gebrakan ini adalah serangan yang menetang ke segalaarah, termasuk ke dalam tradisi kami pribadi atau mereka yang lebih suka disebut sebagai: para pembararu.

Karena kami tidak semata-mata dijajah oleh kehendak untuk memenangkan segala sesuatu yang baru. Tidak dihantui oleh cita-cita untuk memengkan pertempuaran. Tidak didorong oleh hasrat untuk mengibarkan sebuah panji-panji kami lebih tinggi dri panji-panji orang lain. Karena kalau sampai itu terjadi, segalanya kemudian akan berakhir kembali persis seperti apa yang kami tentang. Yakini tirani baru, yang bisa lebih lalim dari apa yang ada sekarang.

Kami lebih tertarik pada api yang berkobar-kobarabadi untuk memanggan apa saja yang menjadi mapan setiap saat.termasuk apa kini atau yang pernah kami sebut sendiri, sebagai sesuatu yang baru. Lebih dari apa yang terkandung dalam pengertian “baru” baik isi maupun bentuknya, kami menginginkan ada “pertimbangan”, ada “kemungkinan”, ada ”pilihan”. Kebimbangan adalah “suci”. Kami mengusahakan untuk selalu ada jalan lain berucap, mengucapkan dan berdialog, termasuk juga menetangsendiri apa yang sedang kami kecapkan.Jalan-jalan di dalam jalan kami sendiri harus tak terbendung. Mesti terus menerus lahir. Sehingga kemungkinan bersinggungan, tumpah tindih bahkan bertentangan dalam diri sendiri adalah sesuatu yang normal.

Di mata kami berbeda dengan kesimpulan yang sudah diterima, dunia ini makin lama bukannya makin bertambah sempit, namun bertambah lebar dan tak terjamah.globalisai menambah hiruk pikuk yang melaju kegelisahan makin parah, namun juga sekaligus dikuntiy oleh keterpencilan yang sangat sepi.

Perbedaan-perbedan lama yang sudah dibunuhdalam kesepakatan dan pengertian, membuat kita tiba-tiba ngeh pada perbedaan-perbedaan baru, yang sebelumnya tak penah terbayangkan. Perbedaan yang mungkin beberapa kali lipat dari perbedaan yang ada sebelumnya. Namun perbedaan yang bukannya membuat kita bertambah jauh, tapi justru semakin membutuhkan.

Teater mengingatkan penonton pada medan kehidupan kini yang lebih rumit dan memerlukan (eksperimental) ekstra awas. Karena itu besar kemungkinan, teater akan bertentang dengan kehendak penonton.bertentanga dengan kehendak ahli-ahli filsafat, politik dan ekonomi. Bahakan bisa bertolak-belakang dengan kehendak para kritisi dan ahli seketika. Teater tidak menghasilkan rasa nikmat.teater adalah “racun”.

Teater eksperimental akan terus-menerus berlawanan dengan kehendak pasar. Bermusuhan dengan kemauan banyak orang. Dan bukan mustahil bertentangan dengan kebahagiaaan kami sendiri.

Teater eksperimental adalah teater yang tak hanya melawan kekuasaan mutlak bahasa teater yang sudah mendapat pengesahan di dalam pasar dan hati masyarakat. Teater eksperimental adalah juga teater yang setiap kali berontak pada dirinya sendiri yang sudah terjebak dalam bahasa yang diam-diam mengandung opium kemapanan.

Teater eksperimental adalah teater yang selalu menolak untuk tahu. Teater yang sanggup mengingkari dirinya setiap kali. Teater yang anti pada statusquo. Teater yang tak ingin mengada. Teater yang tak pernah diam. Teater yang selalu dalam keadaan bergerak, bimbang, meragukan, merindukan dan akhirnya mampus dalam mencari sesuatu yang belum ada, tidak ada atau mungkin tidak pernah ada.

Walhasil teater yang nihil. Teater yang zero. Namun juga sekaligus teater yang amat penuh, ambisius dan pretensius.

Teater eksperimental adalah langkah ke zone terapung, di mana ruang berlapis-lapis dengan dimensi yang tak terjangkau. Di mana kebenaran hadir dalam jutaan nuansa yang pelik dan membingungkan siapa saja yang menginginkan kemutlakan. Satu langkah lagi, satu langkah kecil lagi ntuk mendekati “misteri” yang semakin banyak kita ketahui, semakin membuat kita ragu-ragu tentang kebenaran yang ada di kepala kita.

Teater yang membuat manusia lebih menyadari keadaan yang tak berdaya. Teater yang mengingatkan manusia pada dirinya sebagai noktah yang tak punya hak dan kekuatan, yang tak kekal, yang pasti akan musnah.apalgi kalu tidak melakukan apa-apa.

Teater eksperimental adalah sebuah idiologi tontonan. Adalah sebuah ritus. Adalah sebuah kebijakan. Dan sekaligus juga: sebuah terror mental.

Rabu, 17 November 2010

Naskah PADA SUATU HARI

PADA SUATU HARI
Karya : ARIFIN C. NOOR
Ijin Penyiaran dan pementasan pada Teater Kecil Jakarta

Para Tokoh:
Nenek
Kakek
Pesuruh
Janda, Nyonya Wenas
Arba, Sopir
Novia
Nita
Meli
Feri

SANDIWARA INI DIMULAI DENGAN MENG-EXPOSE LEBIH DULU:
1. POTRET KAKEK DAN NENEK KETIKA PACARAN
2. POTRET KAKEK DAN NENEK KETIKA KAWIN
3. POTRET KAKEK DAN NENEK DENGAN ANAK-ANAK
4. POTRET KELUARGA BESAR
5. POTRET KAKEK TUA
6. POTRET NENEK TUA
7. MAIN TITLE ETC-ETC

Kakek dan Nenek duduk berhadapan.
Beberapa saat mereka saling memandang, Beberapa saat mereka saling tersenyum. Suatu saat mereka sama-sama menuju ke sofa, duduk berdampingan, seperti sepasang pemuda dan pemudi. Setelah mereka ketawa kembali mereka duduk berhadapan. Lalu beberapa saat saling memandang, tersenyum, lalu ke sofa lagi duduk berdampingan, seperti pepasang pengantin, malu-malu dan sebagainya, demikian seterusnya..

TIGA
Kakek : Sekarang kau nyanyi.
Nenek menggeleng sambil tersenyum manja.
Kakek : Seperti dulu.
Nenek menggeleng sambil tersenyum manja.
Kakek : Nyanyi seperti dulu.
Nenek : Malu
Kakek : Sejak dulu kau selalu begitu.
Nenek : Habis kaupun selalu mengejek setiap kali saya menyanyi.
Kakek : Sekarang tidak, sejak sekarang saya tidak akan pernah mengejek kau lagi.
Nenek : Saya tidak mau menyanyi.
Kakek : Kapanpun?
Nenek : Kapanpun.
Kakek : Juga untuk saya.
Nenek : Juga untuk kau.
Kakek : Sama sekali?
Nenek : Sama sekali.
Kakek : Kau kejam. Saya sangat sedih. Saya mati tanpa lebih dulu mendengar kau menyanyi.
Nenek : Sayang, kenapa kau berfikir kesana? Itu sangat tidak baik, lagi tidak ada gunanya. Sayang , berhenti kau berfikir tentang hal itu.
Kakek : Mati saya tidak bahagia karena kau tidak maumenyanyi. Ini memang salah saya. Tetapi kalau sejak dulu kau cukup mengerti bahwa saya memang sangat memainkan kau, tentu kau bisa memaafkan segala macam ejekan-ejekan saya. Tuhan, saya kira saya akan menghembuskan nafas saya yang terakhir tatkala kau sedang menyanyikan sebuah lagu ditelinga saya.
Nenek : Sayang saya mohon berhentilah kau berfikir mengenai hal itu. Demi segala-galanya berhentilah. Tersenyumlah lagi seperti biasanya.
Kakek : Saya akan tersenyum kalau kau mau mengucapkan janji.
Nenek : Tentu, tentu.
Kakek : Kau mau menyanyi.
Nenek : Tentu, sayang, tentu.
Kakek : Kapan?
Nenek : Suatu ketika.
Kakek : Sebelum saya mati?
Nenek : Ya, sayang, ya, sayang.
Kakek : Sekarang.
Nenek : Tidak mungkin, sayang, kau tahu saya sedikit flu karena pesta beberapa hari yang lalu?
Kakek : (Tertawa) U, saya baru ingat sekarang.
Nenek : Selalu kau begitu. Selalu kau tak pernah ambil pusing setiap kali saya sakit.
Kakek : Kau melebih-lebihkan.
Nenek : Tapi acap kali kau begitu. Kalau saya batuk baru setelah satu minggu kau tahu.
Kakek : Ya, saya akui saya acap kali terlalu asyik dengan diri sendiri. Saya akui. Saya minta dimaafkan supaya sorga saya tidak tertutup, supaya kubur saya…….
Nenek : Sayang, saya tidak mau memberi maaf kalau kau tidak mau juga berhenti menyebut-nyebut soal kematian.
Kakek : Maaf, tidak lagi.
Nenek : Sekarang saya akan memaafkan kau dengan satu syarat.
Kakek : Apa?
Nenek : Kau harus menyanyi.
Kakek menggelengkan kepalanya.
Nenek : Kalu begitu, kau tak saya maafkan.
Kakek : Dan sorga saya…?
Nenek : Mungkin, tertutup.
Kakek : Baik, saya akan menyanyi. Tapi separo. Kalau terlalu lama nanti saya batuk.
Nenek : Tidak. Satu lagu.
Kakek : Nanti batuk.
Nenek : Setiap kali kau bilang begitu, padahal kau memang pintar menyanyi. Dan kau selalu menghabiskan sebuah lagu dengan sempurna tanpa batuk.
Kakek : Satu lagu?
Nenek : Ayolah, sayang. Penonton sudah tidak sabar lagi menunggu sang penyanyi.
Kemudian kakek menyanyi dua tiga baris dari no other love stand – Chen Schubert atau lainnya dan selebihnya play back. Begitu lagu berakhir nenek bertepuk tangan dengan semangat.
Nenek : Suara kau tidak pernah berubah.
Kakek : Mana album kesatu? Saya ingin melihat gambar saya ketika saya menyanyi di depan umum dimana kau juga ikut mendengarkan. Kau ingat kapan itu.
Nenek : Ketika itu kau baru saja lulus propaedus. Kau sombong betul ketika itu.
Kakek : Kau juga. Sepicingpun kau tak pernah membalas pandang saya.
Nenek : Habis pandangan kau nakal.
Kakek : Habis kau juga suka mencuri pandang.
Nenek : Kau sudah terlalu pintar berciuman ketika pertama kali kau mencium saya.
Kakek : Saya memang pintar berkhayal. Setiap kali saya menonton saya selalu mengkhayalkan adegan ciuman secara amat terperinci.

EMPAT
Pesuruh : Ada tamu, nyonya besar.
Nenek : Siapa?
Pesuruh : Nyonya Wenas, nyonya.
Nenek : (Melirik pada Kakek) Nyonya janda itu (kepada pesuruh) Sebentar saya ke depan.
Pesuruh exit.
Nenek : Kau surati dia?
Kakek : Tidak.
Nenek : Kau bohong. Bagaimana dia bisa tahu tentang pesta kita?
Kakek : Saya tidak tahu.
Nenek : Kau bohong (Exit) Demam saya mulai kambuh.

LIMA
Kakek : Seharusnya dia tidak perlu datang kemari.
Kemudian kakek mondar-mandir sambil bersungut-sungut.
Kakek : Saya takut dia betul-betul demam karena kedatangan janda itu. Ah. Lebih baik saya menyingkir ke ruang baca. (Exit)


ENAM
Nenek : Kami sangat berharap sekali nyonya hadir kemarin. Suami saya juga heran kenapa nyonya tidak datang kemudian.
Janda : Kami sakit.
Nenek : Kami? Maksud nyonya….
Janda : Ya, saya dan anjing saya sakit. Setiap kali saya sakit anjing saya juga ikut sakit. Saya agak senang karena sekarang saya agak sembuh, tetapi Bison agak parah sakitnya.
Nenek : Kasihan. Sayang. (Heran suaminya tidak ada). Dimana kau? Dia tadi disini. Sebentar, nyonya (beseru) Onda, dimana kau? (Exit)

TUJUH
Sambil mengamati ruangan tengah itu nyonya Wenas membenahi dirinya.
Janda : Terlaknat saya, kenapa saya jadi gemetar?
DELAPAN
Pesuruh muncul membawa minuman, ketika pesuruh itu akan pergi,
Janda : Nanti dulu.
Pesuruh : Ya, nyonya.
Janda : Siapa yang memilih minuman ini?
Pesuruh : Saya sendiri, nyonya, kenapa?
Janda : Ini memang kesukaan saya.
Pesuruh : Menyenangkan sekali. silahkan minum, nyonya.
Janda : (Minum) Segar bukan main. Bagaimana kau tahu saya suka minuman ini?
Pesuruh : Tuan besar sering menceritakan perihal nyonya kepada saya. Dan ketika saya tahu nyonya datang, segera saya buatkan minuman itu. Selamat minum nyonya.
Janda : Nanti dulu.
Pesuruh : Ya, nyonya?
Janda : Tuan besar masih suka…
Pesuruh : Menyirami kaktus?
Janda : Ya?
Pesuruh : Tidak, nonya, tapi tuan besar menyirami seluruh bunga sekarang, setiap pagi dan sore. Memang tengah malam seringkali diam-diam ia menyirami kaktus yang ditaruh di dalam kakus. Maaf nyonya, saya harus ke dalam.

SEMBILAN
Nenek : Selamat datang, nyonya.
Janda : Selamat atas….
Kakek : Terima kasih. Maaf , nyonya Tampubolon?
Nenek : Kau pelupa benar.
Kakek : Siapa bilang, Nyonya pasti nyonya Mangandaralam.
Nenek : Sayang, ini nyonya Wenas.
Kakek : Ya, saya maksud nyonya Wnas. Apa kabar suami nyonya?
Nenek : Maaf, Nyonya. Sayang, tuan Wenas telah meninggal sebelas tahun yang lalu.
Kakek : Maafkan kau benar sayang. Daya ingat saya jelek sekali. maafkan nyonya.
Janda : Tidak apa.
Nenek : (Berseru) Joni.!
Pesuruh : Ya, nyonya.
Nenek : Bawa minuman ini ke dalam.
Pesuruh membawa minuman tadi ke dalam.
Kakek : Baik-baik nyonya?
Janda : Berkat doa tuan dan nyonya. Tuan sendiri?
Kakek : Berkat doa nyonya.
Nenek : Nyonya suka minum jeruk?
Janda : Minuman apa saja saya suka. Tapi es susu saya paling uka.
Kakek : Saya sendiritidak begitu, tapi……..
Nenek : Kita berdua minum jeruk saja. Kita flue (Berseru) Joni!
Pesuruh : Ya, nyonya.
Nenek : Bikin es susu dan dua gelas jeruk panas.
Pesuruh : Dua es susu dan satu gelas jeruk panas, maksud nyonya?
Nenek : Dua es jeruk satu susu panas.
Kakek : Bagaimana anak-anak nyonya?
Nenek : Sayang, Nyonya dan tuan Wenas tidak diberkahi putera. Kenapa kau bertanya begitu?
Kakek : Maaf, saya lupa. Maksud saya apa tujuan nyonya datang kemari?
Nenek : Maafkan suami saya, Nyonya. Kadangkala dia amat kasar, tapi sebenarnya dia lelaki yang amat lembut.
Janda : Betul, nyonya. Onda adalah lelaki yang amat lembut, malah sangat amat lembut. Onda selalu cermat dalam memilih kata-kata dan juga saya kira ia tidak pernah memakai tanda seru selama hidupnya.
Kakek : Kita minum apa? Nyonya suka….
Nenek : Onda, kita baru saja memesan minuman (menyeret) Tingkahmu berlebihan sehingga memuakkan.
Kakek : kausendiri yang menyuruh agar saya berlaku pura-pura tidak kenal kepada nyonya itu.
Nenek : Ya, tapi kau berlebihan. Kau kurang wajar.
Kakek : Susah. Kalau saya wajar kau marah. Kalau saya berlebihan kau juga marah. Kalau saya jumput di perpustakaan kau juga marah. Saya tidak tahu bagaimana supaya kau tidak marah dan saya tidak mau marah agar kau tidak marah.
Nenek : Pendeknya berlakulah sedikit agak sopan.
Kakek : Saya coba.
Nenek : Kendorkan urat wajahmu.
Sementara itu pesuruh telah menyajikan minuman di atas meja dan baru saja akan melangkah pergi.
Kakek : Udara sangat baik akhir-akhir ini, di rumah nyonya sering turun hujan?
Janda : Ya, terutama belakangan ini.
Nenek : Memang musim hujan.
JAnda : Dan terutama kalau sore.
Kakek : Seperti di rumah kita, tidak begitu, sayang?
Nenek : Tentu saja. Kalau di rumah nyonya Wenas jatuh hujan di rumah kitapun turun hujan, sebab nyonya dan kita satu kota, bahkan satu wilayah kecamatan.
Kakek : memang satu kota, satu kecamatan. Tidak begitu nyonya eh, siapa? O ya nyonya Wenas? Tidak begitu?
Janda : Ya, kita satu kota.
Kakek : Mari kita minum, satu kota mari.
Nenek : Silahkan, nyonya.
Kakek : (Setelah minum) Alangkah hangat es jeruk ini.
Nenek : Ya, silahkan, nyonya. Nyonya tidak suka?
Janda : (Menjerit) Alangkah sejuknya. Terima kasih.
Kakek : Sejak kapan nyonya suka es susu yang panas?
Janda : Sejak, sejak kemarin. Ya, kemarin.
Kakek : Kami sendiri menyukai wedang jeruk yang sejuk baru saja. Tidak begitu sayang?
Nenek : Ya.
Janda : Terus terang saya sangat kagum pada nyonya. Saya tidak pernah melihat nyonya bertambah tua.
Nenek : Nyonya berlebihan.
Janda : Saya sungguh-sungguh, nyonya.
Nenek : Kalau begitu sayapun berterus terang. Nyonya semakin tua semakin cantik.
Kakek : Memang (Nenek melotot). Maksud saya, maksud saya ketuaan itu hanya timbul apabila kita merasa tua. Adapun tua itu sendiri hanya hasil dari suatu penjabaran, hanya sayangnya penjabaran tersebut dilakukan oleh waktu, sehingga menyebabkan kurang enak kita terima konsekuensinya.
Nenek : Saya kira tidak begitu. Tua adalah konsekuensi dari kesadaran kita.
Kakek : Ya, kalau saja kita punya matematika, kita tidak akan pernah tua. Juga kalau saja kita tidak punya jam kita tidak akan pernah tua.
Janda : Tapi kita punya matahari.
Nenek : Itu susahnya.
Kakek : Takdir. Sekarang mari kita minum seakan kita tidak punya matahari.
Janda : Alangkah sejuknya susu panas ini.
Kakek : Alangkah panasnya es jeruk ini. Tidak begitu, sayang?
Nenek : Ya.
Janda : Tapi kalau kita tidak punya matahari kitapun tak akan pernah punya bulan.
Nenek : Juga kita tidak akan punya siang hari dan rematik kau akan lebih parah lagi.
Janda : Kita tidak akan punya siang dan punya malam.
Kakek : Kalau begitu?
Nenek : Lebih baik punya matahari daripada sama sekali tak punya apa-apa.
Kakek : Ya, dan itu berarti tuapun merupakan rahmat.
Janda : Tidak, bukan rahmat tapi “apa boleh buat”
Kakek : Apa boleh buat mari kita minum lagi.
Mereka minum dan omong seperti tadi.
Janda : Tua dan tidak tua tetap saja ama, kaktus, misalnya.
Nenek : Ya, kaktus memang tetap kaktus kaku dan berduri kapanpun.
Kakek : Saya jadi ingat Old Shatterhand dengan Winnetou, bagaimana keduanya merangkak di atas padang rumput sambil membaui udara yang mengantarkan bau musuh, atau bagaimana mereka mendengarkan bentak-bentakan kaki kuda musuh dari jarak ber-mil-mil. Kaktus-kaktus liar banyak bertumbuhan di Amerika.
Janda : Indahnya.
Nenek : Apa tidak indah kemeriahan flamboyant, yang mampu menciptakan jalan selalu diliputi senja?
Kakek : Saya kira lebih indah, juga lebih bermanfaat. Kita bahkan bisa berteduh di bawah cahaya kuning merahnya.
Janda : Tapi flamboyant saya kira terlalu mewah dan kurang seerhana.
Nenek : Kaktus memang selalu kesepian.
Janda : Memang ia kurang dihiraukan orang.
Nenek : Lantaran berbahaya.
Kakek : Bagaimana kalau kita beralih kepada bunga bank saja. Ini lebih langsung menyangkut kepentingan ekonomi kita.
Janda : Sayang sekali kita telah sepakat menerima kehadiran matahari, sehingga saya kini telah ditegurnya. Sudah cukup lama.
Janda : ………Saya di jamu di sini. Saya minta diri sekali lagi saya mengucapkan selamat ata perkawinan emas tuan dan nyonya.
Sayang sekali dia sedang sakit: saya harus segera pulang.
Nenek : Terima kasih banyak ata kunjungan nyonya.
Kakek : Terima kasih banyak. Salam pada suami nyonya.
Janda : Terima kasih (Sambil pergi) Bisonku.

SEPULUH
Perang bisu meletus antara kakek dan nenek.

SEBELAS
Kakek : Kenapa kau diam begitu?
Nenek diam saja.
Kakek : Kenapa kau begitu diam?
Nenek : Kau juga begitu.
Kakek : Kenapa?
Nenek : Kau juga kenapa?
Kakek : Sayang, adalah tidak baik kita bubuhi pesta emas dengan kata-kata seru.
Nenek : Kau sendiri yang membubuhinya. Kau rusak bunga-bunga pesta kita dengan kaktus-kaktu pacar kau.
Kakek : Sejak muda kau begitu yakin seakan saya pernah punya hubungan percintaan dengan perempuan tadi. Saya heran kenapa kau begitu berhasil menciptakan tokoh yang fantatis itu menjadi tokoh yang seolah nyata dalam diri kau sehingga tokoh itu mampu mempermainkan kau sendiri selama hidup kau.
Nenek : Bukan fantastis. Tapi memang dia tokoh fantasi kau bahkan sampai saat kau tua (Menangis) Sengaja kau suruh Joni menyiapkan segera minuman kesukaannya begitu dia datang.
Kakek : Siapa? Saya? Menyuruh Joni? Minuman apa?
Nenek : Kau menyuruh Joni membuat es susu begitu nyonya janda itu datang.
Kakek : Tidak. Saya tidak menyuruh Joni.
Nenek : Kau lakukan itu ketika saya sedang menemui dia tadi ketika kau menyingkir dari dari sini tadi dan kemudian kau sembunyi ke kamar baca.
Kakek : Tidak, sayang, dari sini tadi saya langsung ke kamar baca dan kemudian saya asyik membaca mengenai para psikologi. Ketika kau datang tepat saya sampai pada baris-baris mengenai telepati. Saya ingat betul.
Nenek : Kau bohong.
Kakek : Kalau tidak percaya kau boleh memanggil Joni (Berseru) J o n i !

DUA BELAS
Pesuruh : Ya, tuan besar.
Kakek : Siapa yang menyuruh…..
Nenek : Biar saya yang Tanya (Kepada Joni) Joni.
Pesuruh : Ya, nyonya besar.
Kakek : Siapa yang menyuru…..
Nenek : Biar saya yang Tanya (Kepada Joni) Joni.
Pesuruh : Ya, nyonya besar.
Nenek : Sejak tadi pagi sudah berapa kali kau berbohong?
Pesuruh : Belum sekalipun nyonya.
Nenek : Akui saja toh tidak akan mengurangi penghasilanmu.
Pesuruh : Terus terang sudah dua kali, nyonya.
Nenek : Nah, begitu lebih jantan. Apa saja?
Pesuruh : Pertama kepada istri saya.
Nenek : Itu tidak perlu, yang kedua?
Pesuruh : Yang kedua kepada istri saya.
Nenek : Jadi kau selalu berdusta kepada istrimu sendiri?
Pesuruh : Tidak selalu, nyonya. Kadang kala, tetapi tidak pernah lebih tiga kali sehari.
Nenek : Kenapa kau lakukan itu?
Pesuruh : Karena saya percaya istri sayapun melakukan hal yang sama.
Nenek : Mengenai hal apa saja kau berbohong?
Pesuruh : hampir segala hal dari yang paling ringan sampai yang paling berat.
Nenek : Yang paling ringan misalnya?
Pesuruh : Pura-pura sakit.
Nenek : Yang paling berat?
Pesuruh : Soal sembahyang.
Nenek : Tentang perempuan?
Pesuruh : Itu taraf tengah-tengah, nyonya.
Nenek : Bagaimana?
Pesuruh : Saya kira pertanyaan ini sudah bersifat sangat amat pribadi, nyonya dan kurang sopan.
Nenek : Kau memang jago silat. Baik. Sekarang kau akui saja siapa yang menyuruh kau menyiapkan tiga gelas e susu begitu tamu tadi datang?
Pesuruh : Saya sendiri nyonya.
Nenek : Kenapa justru es susu?
Pesuruh : Saya tidak tahu. Saya asal saja. Nyonya, seperti halnya untuk tamu sebelumnya saya buatkan es sirop dan nyonya diam saja.
S u n y i .
Pesuruh : Ada yang perlu saya kerjakan lagi, nyonya besar?
Nenek : Pergi !
Joni exit.

TIGA BELAS
S u n y i .
Nenek : Berkomplot.
Kakek : Tidak baik mengada-ada.
Nenek : Bahkan kau diam-diam memelihara kaktus dalam kakus.
Kakek : Tidak melulu kaktus tapi beberapa jenis bunga lainnya, juga……
Nenek tiba-tiba menangis sangat kerasnya.
Kakek : Diamlah, sayang. Kalau kau diam saya akan menyanyi lagi. Diamlah. Saya akan menyanyi dua buah lagu sekaligus. Sayang diamlah. Lagi jangan terlalu keras kau menangis nanti kau batuk kalau batuk tenggorokan bisa luka dan suara bisa serak.
Selain itu apa kata anak-anak nanti kalau mereka datang. Sayang. Atau kau mau saya membaca kitab suci? Dongeng? Saya akan membaca bagaimana nabi Nuh melayani singa betina yang bunting, sementara seekor kera sakit Influensa.
Nenek : Biarpun kau dukung saya dari sini ke kamar saya tidak akan diam.
Kakek : Baiklah, saya tidak akan berbuat apa-apa tapi kau mau diam.
Nenek : Kalau kau tidak berbuat apa-apa saya akan menangis lebih keras lagi.
Kakek : Tuhanku,kepala saya Cuma satu dan puyeng. Kalau saja saya punya tiga kepala barangkali saya tahu apa yang harus saya perbuat agar kau diam. Tapi kepala saya Cuma stud an tangis kau memenuhi kepala saya dengan sejuta lalat hijau. Tuhan-ku.
Nenek : Saya akan terus menangis. Biar geledek menyambar saya tetap menangis.
Kakek : Katakan bidadariku apa yang……..
Nenek : Saya bukan bidadari.
Kakek : Katakan malaikat ku.
Nenek : Saya bukan malaikat!
Kakek : Katakan dewiku………..
Nenek : Saya bukan dewi.
Kakek : Terserah siapa kau tapi katakana………..
Nenek : Saya istrimu!
Kakek : Ya, katakana istriku apa yang……..
Nenek : Saya bukan istrimu!
Kakek : Tuhan-ku.
Nenek : Kau kejam. Kau bagaikan patung perunggu dengan hati terbuat dari timah. Kau tidak punya perasaan. Kau nodai percintaan kita dengan perempuan berhati kaktus. Hatimu ular cobra. Kejam! Kejam! Tuhan, masukkan dia ke dalam neraka sampai kukunya hangus.
Kakek : (Menangis) Doamu jahat.
Nenek : Biar
Kakek : Kau ingin saya masuk neraka?
Nenek : Bukan. Kerak neraka. Neraka paling neraka.
Kakek : Kau kejam dan kau sendiri?
Nenek : Ke sorga.
Kakek : Kau egoistis.
Nenek : Biar.
Kakek : Kenapa kita tidak sama-sama satu tempat?
Nenek : Tidak sudi.
Kakek : Kau rupanya ingin kita pisah.
Nenek : Ya, saya ingin kita pisah tapi kau tidak mengerti.
Nenek : ………..Saya ingin kita cerai.
Kakek : Cerai?
Nenek : Ya, cerai. Hari ini juga kita ke pengadilan. Kita cerai.
Kakek : Sayang, kau harus panjang berfikir untuk sampai ke sana.
Nenek : Kalau saya panjang fakir saya takut kita nanti tidak jadi cerai.
Kakek : Tapi kau harus berfikir…..
Nenek : Dalam soal perceraian tidak perlu fikiran tapi perasaan seperti halnya soal percintaan. Pokoknya kita harus cerai.
Hari ini juga kita harus selesaikan surat-suratnya.
Kakek : Sekarang sudah terlalu siang dan saya kira kantor-kantor………
Nenek : Kalau kantor-kantor tutup besokpun jadi, tapi mulai malam ini saya tidak sudi tidur satu kamar bersama kau.
Kau boleh tidur di kamar baca di ata kitab-kitabmu bersama rayap-rayapnya.
Suara Nita : B u s t a m i
Suara Joni : Ya, nyonya!
Kakek : Kau dengar? Nita sudah datang.
Joni lewat.
Kakek : Sayang diamlah.
Nenek : Saya tidak mau diam.
Kakek : Nita datang.
Nenek : Tidak perduli.
Joni lewat membawa banyak bungkusan belanja, begitu muncul Nita begitu nenek lari ke dalam.

EMPAT BELAS
Kakek : (Mengejar) Sayang.
Nita : Ada apa lagi, pak?
Kakek : Kaktus dalam kakus (Exit)
Nita : Bustam.
Joni : Ya, Nyonya.
Nita : Ibu dan bapak bertengkar?
Joni : Tudak tahu, nyonya, tapi saya dengar mereka tangis tangisan.

LIMA BELAS
Ketika Nita dan kemudian Joni exit, muncul Sopir Arba membawa beberapa kopar dan tas meletakkan di sana, tidak lama kemudian muncul Novia dengan anak-anaknya, Meli dan Feri.
Arba : Di sini, nyonya?
Novia : Ya, letakkan saja di sini dulu.
Arba : Yang lainnya, nya?
Novia : Biarkan saja di mobil, kau tunggulah disana.
Meli : Papa nanti ke sini, Mam?
Novia : Ya, sayang (berseru) Pak Arba!
Arba : Ya, nyonya?
Novia : Tidak, nanti saja.
Arba : Baik, nyonya (exit)
Feri : Mana bude Ita, Mam?
Novia : Sebentar, sayang.
Feri : Feri ingin lihat ikan, Mam?
Novia : Sebentar, sayang, sebentar.
Meli : Meli juga, Mam.
Novia : Ya, sayang Meli dan Feri boleh lihat ikan dengan janji tidak main-main air. Nanti ikannya sakit. Kalau ikannya sakit nanti kakek dan nenek menangis.
Feri : Nenek juga suka menangis, Mam?

ENAM BELAS
Muncul Nita dan terkejut.
Nita : (Setelah memainkan Meli dan Feri) Ada apa lagi Novia?
Novia : Nanti saya ceritakan semuanya. Mana Memet?
Nita : Bustam!
Joni : Ya, nyonya.
Novia : Memet!
Nita : Ya, nyonya.
Novia : Bawa masuk Meli dan Feri (pada anak-anaknya) Siapa yang mau lihat ikan?
Meli dan Feri mengacungkan tangannya: Saya Mam.
Novia : Ikutlah sama Mang Memet.
Joni : Ayo lita nonton ikan.
Joni dan Meli dan Feri masuk ke dalam.

TUJUH BELAS
Nita : Lagu lama?
Novia : Tapi kali ini saya kira yang terakhir.
Nita : Dulu kau juga bilang begitu.
Novia : Tapi, Nita, kau sendiri bisa menimbang bagaimana sakitnya perasaan saya melihat tingkah Vita terhadap pasiennya yang pura-pura sakit itu.
Nita : Siapa lagi?
Novia : Icih, anak sunda itu, pacarnya waktu sekolah.
Nita : Tapi kalau memang dia sakit apa salahnya berobat kepada suamimu?
Novia : Saya yakin dia hanya pura-pura sakit.

DELAPAN BELAS
Kakek : Begitu Nita. Kau harus dengar dari permulaan sekali soal ibumu……
Novia : Pak…..
Kakek : Ada apa kau? Baru kemarin kau pulang dari sini? Dengan siapa?
Novia : Anak-anak.
Kakek : Mana mereka?
Novia : Di belakang. Lihat ikan seperti biasanya.
Kakek : (Setelah berfikir) Kebetulan kau datang. Begini. Tidak salah kalau kau juga sebagai anak tahu. Ini persoalan juga sangat runcing dan bisa mengakibatkan kesedihan berlarut-larut.
Novia : Soal apa pak?
Nita : Ibu Purih. Ibu marah.
Novia : Kenapa?
Kakek : Itulah dengarkan saya (berfikir). Begini. Soalnya sepele dan tidak bermutu. Ibumu tidak suka tanaman kaktus. Saya suka tanaman itu. Bahkan saya punya tanaman kaktus dalam kakus. Ibumu marah-marah.
Novia : Bapak tidak maumengalah?
Kakek : Selama hidup saya selalu mengalah dan terus-terusan kalah malah.
Novia : Buang saja kaktus itu.
Nita : Soalnya bukan kaktus. Soalnya itu cemburu pada nyonya Enas.
Kakek : Ya, begitulah kalau tanpa tedeng aling-aling. Ibumu cemburu dan minta cerai.
Novia : Minta cerai?
Kakek : Minta cerai. Bahkan ibumu minta supaya hari ini juga diselesaikan surat-suratnya.
Novia : Ibu?
Nita : Ya, seperti kau sekarang.
Kakek : Apa? Seperti kau, Novia? Ada apa? Kau juga sedang minta cerai? Dari siapa?
Nita : Dari siapa. Dari suaminya tentu, Vita.
Kakek : Kau dan ibumu memang satu jiwa. Alasan apa yang mendorong kau meminta kesedihan serupa itu? Kebodohan macam apa yang mengotori otakmu? Cerai! Seakan dengan mendapatkan kata itu kau dapat mengecap hidup ini lebih nikmat? Novia, kau jangan seperti gadis ingusan. Kamu kira rumah tangga itu rumah-rumahan dari kotak geretan yang dengan mudah dapat kau bongkar-bongkar dan kau susun-susun? Novia, kau sudah waktunya menginsafi bahwa rumah tangga adalah rumah suci yang lain, seperti masjid, gereja dan kelenteng. Dan rumah suci adalah tempat dimana firman-firman Tuhan yang agung dan suci dimulyakan, rumah suci adalah tempat dimana cinta kasih ditumbuh-kembangkan menjadi gairah hidup, untuk meraih maka hidup yang samara dalam semesta ini.
Tuhanku……………….
Novia, alasan picisan apa yang menjadikan kau begitu gairah mendapatkan surat talak? Jangan main-main. Ini bukan lagi semata persolan kau, juga bukan persoalan suamimu semata, tetapi persoalan anak-anakmu yang masih kecil (Menangis) Meli, Feri…. Ini sudah menjadi persolan Negara, persoalan dunia, saya tidak boelh membiarkan rumahmu terbakar hanya disebabkan api mainan yang diminyaki cemburu buta. Saya harus beritahu segera ibumu. (Exit)

SEMBILAN BELAS
Nita : Novia, apakah kau tidak pernah memperhatikan baik-baik betapa jernih mata anak-anakmu yang lucu itu. Meli dan Feri.
Novia : Tapi kau juga bisa menimbang betapa sakitnya hati saya. Coba saja, icih. Si sundal itu hampir setiap hari ia berobat ke rumah.
Nita : Tiap hari?
Novia : Tidak. Maksud saya hampir seminggu sekali.
Nita : Seminggu sekali?
Novia : Katakanlah sebulan sekali tapi sekalipun begitu tingkahnya yang kekanak-kanakan cukup membakar seluruh amarah saya.
Nita : Bagaimana kau tahu? Apa kau ikut memeriksa penyakitnya?
Novia : Saya terpaksa jadi polisi kalau tahu perempuan itu mau berobat. Sengaja saya masuk dalam kamar praktek. Pura-pura mencari sesuatu.
Nita : Kau juga dengan apa yang dipercakapkan Icih dengan suamimu?
Novia : Dengar.
Nita : Apa?
Novia : Seperti dokter dan pasien.
Nita : Lalu apa yang kau cemburukan?
Novia : (Setelah diam) Kalau periksa dalam.
Nita : Kenapa kau tidak ikut ke dalam dan menyaksikan Vita memeriksa tubuh perempuan itu.
Novia : Gila.
Nita : Lalu kau di luar saja.
Novia : Tentu saja.
Nita : Itulah kesalahanmu.
Novia : Lalu apa saya perlu juga membuka kancing roknya? Gila!
Nita : Daripada kau di luar dan membayang-bayangkan yang tidak-tidak?
Novia : Saya tidak membayang-bayangkan tapi memastikan.
Nita : Tapi nanti dulu. Coba jelaskan. Jujur. Icih sudah bersuami?
Novia : Ini bukan masalah bersuami atau belum tapi masalah watak. Sekalipun perempuan jalang itu sudah mati saya yakin rohnya masih banal.
Nita : Betul-betul kau diliputi kemarahan saja. Cobalah berfikir dengan tenang. Sebegitu banyak sudah kata yang kau ucapkan tapi tidak sepatahpun kata yang dapat menjelaskan kenapa kau minta cerai dari suamimu. Kalau kau mau jujr sebenarnya kau hanya digerakkan oleh prasngka-praangkamu sendiri saja. Coba. Kalau kau bisa cemburu oleh Icih kenapa oleh puluhan perempuan-perempuan lain atau bahkan gadis-gadis yang juga berobat kepada suamimu?
Novia : Apa kau kira semua perempuan banal seperti sundal itu? Kalau ternyata memang demikian sayapun pasti cemburu sebesar-besarnya terhadap semua perempuan. Tapi saya kira kaupun yakin tidak semua perempuan punya leher selenggang-lenggok leher Icih yang suka membelit leher suami orang lain.

DUA PULUH
Muncul Nenek dan Kakek.
Nenek : (Menubruk Novia sambil menangis) Novia, sayang, kau jangan suka membaca roman-roman picisan. Kau bisa bayangkan sendiri apa jadinya isi kepalamu dengan roman-roman seperti itu. Dengan membaca cerita-cerita cengeng seperti itu kau sama dengan mengisi usus besarmu dengan minuman keras. Sekali-kali tentu kau boleh, tapi kalau setiap hari kau minum arak sama dengan memperpendek usiamu sendiri.
Nenek : ………….Novia, ibu yakin kau telah terpengaruh roman-roman sampah itu sehingga hidup bagimu tak ubahnya seperti mainan peraan belaka. Bacalah Romeo Juliet. Bacalah tentang kesetiaan cinta, dan singkirkan bacaan yang mengajarkan kebencian dan perceraian. Kau kira perceraian itu jalan cuci?
Kakek : Kau kira kau akan menjadi betina yang jantan kalau kau berhasil bercerai dengan suamimu?
Nenek : Jangan kau sangka perasaanmu dan kecemburuanmu akan menuntun hidupmu kea rah kebahagiaan.
Nita : Juga jangan lupakan Meli dan Feri.
Kakek : Hanya karena soal cemburu, soal-soal roman picisan rumah tangga kau bongkar? Kenapa tidak kandang ayam saja yang kau bongkar yang sudah jelas sudah tapuh itu?
Nenek : Novia, sayang, tidak satupun kebaikan yang terselip dalam niatmu untuk bercerai dari suamimu. Lagi tidakkah kau dapat membayangkan kembali kebaikan-kebaikan suamimu seperti katamu dulu, ketika kau mendesak ibu agar menerima lamaran? (novia akan bicara) tidak perlu kau bicara apa-apa.
Kakek : Ya, tidak perlu sebab, kata-kata seru saja yang kau punya sekarang.
Nenek : Kau dalam keadaan marah. Dalam keadaan marah lebih baik orang diam, dan lebih baiklagi kalau kau mau mendengarkan sayan orang lain.
Kakek : Ya, saya kira begitu. Ibumu sebenarnya juga sedang marah tetapi tak sepatahpun kata kata yang diucapkan.
Nenek : Ban ini, kopor-kopor iniapa perlu artinya? Main-main kau sudah keterlaluan.
Novia : Saya tidak main-main, bu, saya sungguh-sungguh.
Nenek : Lebih jelek lagi (menangis lagi) Tuhanku, apa jadinya nanti kalau kau jadi berpisah dengan Vita yang dulu kau agung-agungkan? Apa jadinya hidupmu?
Nita : apa jadinya anak-anakmu? Meli dan Feri akan kehausan cinta sebab mereka tidak akan lengkap menerima keutuhan cinta.
Nenek : Fikirkan baik-baik, sayangku. Singkirkan kegelapan yang dibenihkan setan cemburu.
Kakek : Apa kira surat talak itu cek?
Nenek : Tuhanku, limpahilah anak saya dengan cahaya kasih Mu. Novia, tidakkah kau bisa menimba pelajaran dari pengalaman-pengalaman ibu dan ayahmu?
Kakek : Ayah dan ibumu berumah tangga selama setengah abad, tanpa sedikitpun membiarkan setan talak bertelur dalam kamar tidurnya, bahkan tidak dalam dapurnya.
Nenek : Kami bagaikan Adam dan Hawa.
Kakek : Apa kau pernah mendengar Hawa minta talak kepada Adam? Berkacalah kepada ibu dan Ayhmu. Kamilah pasangan abadi dunia dan akhirat.
Nenek : Kami bagaikan Sam Pek dan Eng Tay.
Kakek : Pronocitro dan Roro Mendut.
Nenek : Di sahara kami adalah Leila dan Qais.
Kakek : Kau sendiri tahu betapa setianya Layonsari sampai-sampai ia bunuh diri demi cintanya kepada Jayaprana.
Nenek : Bacalah semua itu, sayang. Semua itu pusaka nenek moyang kita yang manjur.
Kakek : Demi menegakkan tiang-tiang rumah tangga kita, berfikir dengan tenang.
Nita : Dan demi kebahagiaan anak kita. Adikku, kau begitu bahagia dengan Meli dan Feri dan papanya Vita kenapa kau sebodoh itu mau memuaskan kebahagiaan itu? Tidakkah kau tahu bahwa diam-diam saya sebagai kakakmu selalu merasa iri karena saya dan suami saya tidak pernah diberkahi anak?
Nenek : Belum. Nita.
Kakek : Kau tidak boleh berkata begitu.
Novia : Tapi bu.
Nenek : Tidak, jangan bicara.
Kakek : Sekarang kau tidak akan bicara kecualimarah-marah.
Nenek : Marah-marah hanya menghasilkan kerut muka.
Kakek : Ibumu juga tidak suka marah.
Nenek : Sekali-kali tentu saja boleh sekedar olah raga urat muka, tapi kalau terlalu sering bisa membuat penyakit.
Nita : Dan anak-anakmu, Novia, anak-anakmu? Akan kau biarkan mereka kehausan cinta hanya demi kepuasan amarahmu? Egoistis?
Novia : Saya tidak akan bicara apa-apa, saya hanya akan menjelakan panjang lebar. Duduk perkaranya.
Nenek : Bicaralah.
Kakek : Apa persoalannya.
Nita : Sudahlah, kita semua sudah mengerti.
Nenek : Biarlah dia jelakan semua, Nita.
Kakek : Bagaimana kita bisa mengerti tanpa lebih dulu mendengar penjelasannya?
Novia : Vita mau kawin lagi.
Nita : Apa kau bilang?
Kakek : Dia bilang apa?
Nenek : Apa kau yakin itu kalimatmu? Saya yakin kalimat itu kau pungut dari salah satu buku picisanmu (berseru) Joni! (tak ada sahutan)
Nita : Bustam !
Novia : Memet !
Kakek : Joni!
Joni : Ya, tuan besar.
Nita : Air dingin, Bustam!
Novia : Cepat, Met!
Joni : Sebentar, nyonya.
Nita : permainanmu terlalu kasar, Novia, kalau kau teruskan ibu bisa pingsan.
Novia : Maksud saya, maksud saya, Vita serong.
Nenek : Dari halaman berapa kau pungut kalimat itu? (berseru) Joni!
Novia : Met !
Kakek : Joni !
Nita : Bus !
Joni tergesa membawa empat gelas air dingin, mereka berempat sama-sama minum.
Nita : Ganti kalimatmu, Novia.
Kakek : Ya, kalau kau tidak ingin perut kamu kembung oleh air dingin.
Nenek : Cari halaman lain yang lebih lembut kata-katanya.
Novia : Ibu, saya cemburu.
Nenek : Nah, itu baik. Cemburu itu suci. Hanya dengan modal itu kaumampu bercinta.
Novia : Tapi vita keterlaluan.
Kakek : Barangkali cemburu kau yang keterlaluan.
Nita : Novia, cemburu pada salah seorang pasien Vita.
Nenek : Novia, rupanya kau beluim menyadari bahwa usapan tangan seorang dokter lembut dan suci seperti lembut usapan orang-orang suci atau bahkan nabi. Dokter-dokter bekerja atas tugas suci. Merekalah yang paling nyata mengamalkan firman-firman Tuhan. Kalau kau mau mengerti para dokterlah yang paling banyak tahu tentang penderitaan manusia sepanjang sejarahnya. Merekalah yang berjuang dengan nyata agar kita bisa mengecap hidup ini bertambah baik.
Kakek : Merekalah menghibur kita, menyembuhkan kita dari segala macam luka yang ditatahkan sang kala.
Nenek : Saya jadi terharu.
Kakek : Kasihan Vita.
Nenek : Anak sebaik itu dicurigai.
Kakek : Seperti nabi-nabi yang diludahi oleh umatnya sendiri.
Nenek : Kau kejam, Novia Abu Jahal kau.
Kakek : Judas kau.
Dengan pucat dan tergesa Joni muncul.
Nita : Ada apa, Bus?
Nenek : Ada apa, Joni?
Novia : Ada apa, Met?
Joni : Meli, nya.
Keempatnya : Meli?
Joni : Feri.
Keempatnya : Feri?
Joni : Meli dan Feri ?
Keempatnya : Meli dan Feri?
Joni : Ya, nya.
Keempatnya : Kenapa?
Joni : Hilang.
Keempatnya : Apa?
Joni : Hilang.
Keempatnya : Diculik ?
Joni : Hilang.
Novia : Kau gila.
Nita : Kau taruh dimana mereka?
Kakek : Beberapa kali saya bilang, hati-hati.
Nenek : Dunia penuh culik.
Nita : Kenapa kau bengong begitu?
Keempatnya : Cari.
Nita : tidak telpon dulu.
Kakek : Polisi.
Kemudian mereka berimprovisasi, mereka betul-betul cema, takut dan lain-lain.
Nita : Meli ! Feri ! Di mana.
Kakek : Cucuku.
Nenek : Cucuku.
Novia : Met !
Joni : Ya, nya.
Novia : Panggil Arba.
Arba : saya di sini, nya.
Novia : Kenapa kau diam saja?
Arba : Saya di sini, nya.
Novia : Meli dan Feri hilang.
Arba : Mereka diculik, nya.
Novia : diculik?
Arba : Papanya sendiri yang menculik, kira-kira seperempat jam yang lalu tuan dokter tadi menemui saya dan diam-diam mengajak Meli dan Feri pulang.
Novia : Gila kamu.
Kakek dan Nenek dan Nita muncul.
Nenek : Di mana mereka?
Kakek : Sudah ada telpon dari Polisi?
Nita : Tukang rokok seberang jalan Cuma bilang bahwa seorang laki-laki telah membawa lari Meli dan Feri dalam sebuah mobil.
Nenek dan Kakek : Apa?
Nenek : (minum) Telpon polisi lagi.
Telpon berdering.
Kakek : Pasti dari Polisi.
Nenek : Cucuku yang malang…. Oh saya sedang membayangkan mereka menangis karena penculik itu mengeluarkan pisau cukur.
Nita : (menyerahkan pesawat telpon) untuk mamanya Meli.
Kakek : Dari Polisi?
Nita : Dari Meli.
Kakek : Berapapun bayar saja permintaannya.
Nenek : Saya yakin pisau cukur itu menyentuh lehernya yang halus.
Nita : Meli dan Feri sudah di rumahnya ekarang. Mereka diculik oleh papanya sendiri.
Nenek : Dongeng apa ini?
Kakek : Keterlaluan! Keterlaluan! Saya tidak bisa memaafkan permainan kasar seperti ini ini.
Nenek : Kenapa berang begitu? Seharusnya kita bersyukur bahwa ini semua Cuma main-main.
Kakek : Justru lantaran main-main saya jadi berang.
Nenek : Lalu apa kau berharap semua ini sungguh-sungguh? Apa memang kau berharap agar Meli dan Feri diculik?
Kakek : Bukan begitu maksud saya, tapi permainan ini bukan untuk orang-orang tua macam kita. Ini permainan pemuda dan bukan untuk orang-orang yang rapuh jantungnya.
Stelah Novia telpon, Nita mendekati dan keduanya bercakap tampak Nita membujuk Novia.
Kakek : Betapapun akan saya marahi Vita. Akan saya katakana bahwa sebagai dokter dia kurang mempertimbangkan kemungkinan effek psikologis dari permainannya. Apa dia tahu bahwa setiap kali saya harus mengatur peredaran darah saya sedemikian rupa di depan aquarium sambil mendengarkan lagu-lagu yang paling lembut agar kesehatan saya terpelihara? Dengan permainan baru saja, sama dengan dia meledakkan granat di atas batok kepala saya. Apa dia fakir dia mampu mengobati kalau saya sakit keras? Barang kali dia lupa bahwa dia dokter muda. Dokter muda jelas baru tahu tentang ilmu kedokteran seninya. Untuk ia, ia perlu bergaul dengan alam. Banyak tingkah. Coba……
Novia : Pak, Ibu, saya permisi pulang.
Kakek : Tanpa minta maaf?
Pulanglah dan bilanglah pada suamimu besok dia harus menghadap kemari.
Novia : Pulang dulu, bu.
Nenek : Jangan lupa semua naehat ibu.
Novia : Ya, bu.
Joni : Polisi, Nyonya.
Nita : Sebentar, saya ke muka.