HATI YANG MERACAU
Oleh: Edgar Allan Poe
Memang benar! Aku gelisah, sangat-sangat gelisah pada waktu itu, dan sekarang pun masih; namum mengapa kalian menyebutku gila? Rasa sakit menajamkan inderaku, bukan melemahkannya, apalagi membuatnya tumpul. Dan dibanding yang lainnya, indera pendengarankulah yang paling tajam. Aku mendengar semua hal di langit dan di bumi. Aku mendengar suara di neraka. Bagaimana bisa aku disebut gila? Dengarlah! Kalian akan tahu betapa warasnya, betapa tenangnya, aku menceritakan kepadamu seluruh kejadiannya.
Sulit menceritakan bagaimana mula-mula gagasan itu menyusup di benakku, tapi begitu masuk, ia memburuku siang malam. Tak ada niat dan dendamku. Aku mencintai orang tua itu. Ia tak pernah berbuat salah kepadaku. Juga tak pernah melukai hatiku. Emasnya pun tak kuinginkan. Kupikir yang menjadi persoalan adalah matanya. Ya, matanya! Salah satu bola matanya menyerupai mata burung pemangsa – mata yang biru dan berselaput. Setiap kali ia menatapku, darahku terasa beku. Dan sedikit demi sedikit – secara berangsur-angsur – aku membulatkan hatiku untuk membunuhnya sehingga terbebas selamanya dari sergapan mata burung pemangsa itu.
Di sinilah pangkal soalnya. Kau menganggapku gila. Semua orang gila pasti tidak tahu apa-apa. Namun kau akan melihat bagaimana aku akan melakukannya. Kau akan melihat betapa cerdiknya aku menyelesaikan pekerjaanku; begitu rapi, terencana, dan kemudian berpura-pura tidak tahu apa-apa. Aku menjadi lebih manis kepada oang tua itu pada seminggu terakhir sebelum aku membunuhnya. Setiap malam, menjelang tengah malam, aku memutar gagang pintu kamarnya dan membukanya – ehm, begitu hati-hati. Dan kemudian ketika pintu kamar itu terkuak dan cukup bagiku untuk memasukkan kepala, kumasukkan lentera berkatup yang kurapatkan semua lempengan katupnya sehingga tidak ada sinar yang menerobos keluar dair lenera tersebut, lalu kusorongkan kepalaku ke dalam. Oh, kau pasti terejut meliha betapa cerdiknya aku menyusupkan kepala. Semua kulakukan dengan pelan, sangat-sangat pelan, sehingga tidak mengganggu tidur rang tua itu. Kuperlukan satu jam untuk menempata posisi kepala sebaik-baiknya di celah pintu sehingga aku bisa leluasa melihat orang tua itu berbaring di ranjangnya. Nah, bisakah orang gila melakukan pekerjaan secerdik ini? Dan ketika kpalaku seudah leluasa, aku membuka katup penutup lentera dengan hati-hati – begitu hati-hati – jangan sampai engsel katupnya berderit. Aku membuka seperlunya saja, cukup agar seberkas tipis cahaya bisa menerangi mata burung pemangsa itu. Dan pekerjaan seperti ini kulakukan selama tujuh mala berturut-turut, tiap datang tengah malam, namun selalu kujumpai mata itu tertutup. Dalam keadaa seperti itu tentu mustahil melanjutkan rencanaku sebab bukan orang tua itu yang membangkitkan marahku, tetapi mata seta itu! Pagi harinya, di saat fajar, sengaja kudatangi amarnya, ku ajak ia bercakap-cakap kusapa namanya dengan penuh semangat, dan kutanyakan apakah tidurnya enak semalam. Dengan demikian, kau tahu, diperlukan kecerdasa tertentu pada si tua itu untuk menduga bahwa setiap malam, tepat pukul dua belas, aku selalu mengamatinya ketika ia tidur.
Pada malam ke delapan aku membuka pintu lebih hati-hati ketimbang malam-malam sebelumnya. Jarum menit jam dinding bahkan lebih epat ketimbang gerakan tanganku. Baru pada malam itu aku merasakan begitu besarnya kekuatanku – begitu cerdiknya akalku. Hmpir tidak bisa aku menahan luapan perasaan menangku. Membayangkan diriku sendiri sedang menguakkan pintu, sedikit demi sedikit, dan orang tua itu bahkan tidak pernah berkhayal tentang apa yang kulakukan dan apa yang kupikirkan. Aku tergeletak dengan lintasan pikiran ini, dan mungkin ia mendengar suaraku; sebab tiba-iba ia menggerakkan tubuhnya seperti orang terkejut. Sekarang kau pasti berpikir bahwa aku akan mundur. Tidak! Kamarnya gelap pekat, jendelanya gertutup rapat dan karena itu aku tahu bahwa ia tidak melihat pintu kamarnya terkuak, dan aku terus saja mendorong daun pintu itu sedikt demi sedikit.
Aku menyusupkan kepalaku ke celah pintu dan sedang membuka katup lentera ketika jemplku tiba-tiba selip dan mengetuk lempengan penutup, dan si tua itu bangkit dari ranjangnya.
“Siapa itu?” teriaknya.
Aku mematung di tempatku dan tak mengeluarkan sepatah pun kata. Dalam satu jam aku sama sekali tak bergerak, dan selama itu pula aku tidak mendengar ia merebahkan tubuhnya lagi. Ia tetap duduk di ranjangnya dan mendengarkan – seperti aku, malam demi malam, mendengar detak jam kematian di dinding.
Tiba-tiba kudengar erangan kecil, dan aku tahu itulah erangan yang muncul karena teror kematian. Bukan erangan karena sakit atau dukacita – sama sekali bukan – itu suara lemah orang tercekik, suara yang muncul dari dasar jiwa yang diteror kengerian. Aku kenal sekali dengan suara itu. Beberapa malam, tepat tengah malam, di saat dunia terlelap, suara itu bangkit dari dadaku, menusuk-nusuk, dengan gaungnya yang mengerikan – sebuah teror yang menggelisahkan. Kubilang aku kenal betul suara itu. Aku tahu apa yang dirasakan orang tua itu, dan turut berduka atas kemalangannya, meskipun dalam hati aku ketawa. Aku tahu bahwa matanya tak pernah lagi terpejam sejak ia dikejutkan oleh suara yang membangunkannya. Rasa takutnya tumbuh semakin besar. Ia coba menenangkan diri, tapi tidak bisa. Ia yakinkan dirinya sendiri, “Tidak ada apapun, hanya angi di cerobong asap – hanya tkus yang merayap,” atau “hanya jengkerik yang mengerik.” Ya, ia mencoba menenangkan diri dengan dugaan-dugaan seperti itu, tapi sia-sia. Sia-sia; sebab Maut yang menguntitnya diam-diam kini telah mengepung korbannya denga bayang-bayang hitam. Dan efek muram bayang-bayang yang tak tampak itulah yang menyebabkan ia merasakan – bukan mendengar atau melihat, namun merasakan – kehadiran kepalaku di kamarnya.
Setelah cukup lama menunggu, dengan sangat sabar, tanpa mendengar ia membaringkan kembali tubuhnya, maka kubuka sedikit – sedikit sekali – katup lentera untuk membuka celah kecil. Kau takkan bisa membayangkan betapa hati-hatinya aku membuka katup itu sehingga akhirnya sutas cahaya, setipis sulur benang laba-laba, memancar dari celah lentera dan jatuh tepat di mata burung pemangsa itu.
Mata itu terbuka – begitu lebar – dan amarahku bangkit melihat mata itu terbuka. Jelas sekali kulihat – mata biru berkabut, dengan selaput yang mengerikan, yang menusukkan hawa dingin di sumsum tulangku; namun sama sekali tak kulihat wajah orang tua itu: sebab seolah dibimbing oleh naluriku, cahaya lentera kuarahkan tepat pada bulatan mata keparat itu.
Jadi bukanlah yang kau sebut gila itu sesungguhnya adalah inderaku yang begitu tajam? Sekarang aku mendengar suara lemah, samar-samar, berdetak dalam tempo cepat seperti detak jam yang terungkus kain. Aku kenal betul suara itu. Ialah bunyi detak jantung orang tua itu. Kemarahanku memuncak, sebagaimana keberanian seorang serdadu naik karena pukulan genderang.
Kendati demikian aku masih menahan diri. Kutahan nafasku. Kujaga lentera di tanganku. Kujaga agar sinarnya tetap jatuh ke matanya. Sementara detak jantung terkutuk itu temponya semakin meningkat. Makin lama makin cepat, dan makin keras. Ketakutan si tua tu pastilah luar biasa! Suara itu makin keras, kubilang, bertambah keras setiap saat. Kau catatkah omonganku baik-baik? Telah kukatakan kepadamu bahwa aku gelisah: begitulah yang kurasakan. Dan sekarang pada jam kematian malam itu, di tengah kebisuan yang mencekam di rumah tua itu, dentam aneh itu menyiksaku layaknya sebuah teror yang tak tertanggungkan. Aku masih menahan diri beberapa menit dan tetap tak beraksi. Namun dentam itu makin memekakkan. Kupikir jantungnya pasti segera meledak. Dan sekarang aku merasakan kecemasan baru – para tetangga pasti akan mendengar bunyi itu! Tiba sudah waktu bagi si tua! Dengan teriakan keras, aku membuka semua katup lentera dan melompat kedalam kamar. Sekali ia memekik, hanya sekali. Dalam sekejap aku menyeretnya ke lantai dan membekapnya dengan kasur tebalnya. Setelah itu senyumku mengembang, semua pekerjaan beres. Bermenit-menit jantung itu masih berdetak samar-samar. Namun tak lagi membuatku jengkel; ia tak akan mampu menembus dinding. Akhirnya bunyi itu berhenti. Si tua sudah mati. Aku mengangkat kasur dan memeriksa mayatnya. Ya, ia sudah mati. Matanya tidak akan menyusahkan aku lagi.
Kalau masih kau anggap gila aku, anggapan itu tak akan berlaku lagi bila kulukiskan apa yang kulakukan untuk menyembunyikan mayatnya. Malam melarut, dan pekerjaanku kukebut, namun tanpa suara. Pertama-tama kupotong-potong mayat itu. Kupenggal kepalanya, kedua lengannya, dan kedua kakinya.
Kemudian kubongkar tiga bilah papan lantai kamar itu dan kumasukkan potongan-potongan tubuhnya ke dalam rongga di bawah lantai kamar. Setelah itu kukembalikan lagi papan lantai seperti semula, begitu sepele, begitu rapi, sehingga tak satupun mata – termasuk mata si tua itu – yang menemukan adanya kejanggalan. Tidak ada yang perlu di cuci – tak ada ceceran noda apa pun – tidak ada bercak darah sekecil apa pun. Aku sangat waspada terhadap semua itu. Bak mandi sudah menampung semuanya. Ha! Ha!
Jam empat pagi semua pekerjaanku selesai. Hari masih gelap seperti tengah malam. Bersamaan dengan dentang lonceng jam, terdengar ketukan di pintu depan. Aku turun dengan perasaan ringan, - apalagi yang perlu ditakutkan? Kubuka pintu, tiga orang lelaki masuk, mereka memperkenalkan diri, dengan sangat sopan sebagai petugas-petugas kepolisian. Seorang tetangga mendengar pekik semalam. Menduga ada tindak kejahatan, ia kemudian melapor ke kantor polisi, dan mereka (para polisi itu) ditugasi untuk melakukan penyidikan atas kecurigaan si tetangga.
Aku tersenyum – apa lagi yang perlu ditakutkan? Denga ramah kupersilahkan mereka masuk. Pekik itu, kataku, keluar dari mulutku di saat mimpi. Kujelaskan kepada mereka bahwa si orang tua sedang tidak di rumah. Lalu kubawa mereka melihat-lihat seisi rumah. Kupersialhkan mereka memeriksa – memeriksa dengan teliti. Akhirnya kubawa ketiga orang itu ke kamar si tua. Kuperlihatkan kepada mereka barang-barang berharga miliknya. Semua aman, tidak tercolek. Dengan kepercayaan diri yang melambung, aku ngusung kursi-kursi ke dalam kamar dan meminta mereka untuk melepas lelah di tempat itu, sementara aku sendiri, dalam gelegak keberanian karena kemenangan yang sempurna, meletakkan kursiku tepa di atas tempat aku menyimpan mayat korban.
Para petugas merasa puas. Perlakuanku meyakinkan mereka. Aku sendiri merasa tenang. Mereka duduk, dan sementara aku menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan keseharian yang remeh. Tapi sebentar kemudian aku merasa parasku memucat dan berharap agar mereka segera pergi. Kepalaku pening, dan aku merasakan dering di telingaku, namun mereka tetap duduk dan bercakap-cakap. Dring itu menjai lebih jelas: terus-menerus dan makin jelas. Aku bicara lebih keras untuk mengusir perasaan itu; namun dering itu terus saja dan makin pasti – sampai akhirnya aku sadar bahwa dering itu bukan di dalam telingaku.
Parasku aku yakin, makin memucat; namun bicaraku lebih fasih dan lebih lantang. Tapi suara itu bangkit – apa yang bisa kulakukan? Kudengar suara lemah, samar-samar, yang berdetak dalam tempo cepat, seperti detak jam yang terbungkus kain. Nafasku tersengal – namun para petugas itu tidak mendengarnya. Bicaraku lebih cepat – lebih meyakinkan; namun bunyi keparat itu makin kuat. Aku bangkit dan mendebat segala topik pembicaraan yang sepele, dalam nada tinggi dan gerak tubuh yang kasar, tapi bunyi itu terus menguat. Mengapa merea tidak mau pergi? Aku mondar-mandir dengan langkah panjang dan menghentak, seolah-olah merasa terganggu oleh pemeriksaan yang mereka lakukan – tapi bunyi keparat itu terus menguat. Ya, Tuhan! Apa yang bisa kulakukan? Aku meradang – aku meracau – aku mengutuk! Kuangkat kursi yang kududuki dan kuhempaskan benda itu ke lantai papan, namun kegaduhan yang ditimbulkanya tertelan oleh bunyi keparat yang terus menguat itu. Suara itu makin kencang, makin kencang, makin kencang! Para petugas, tetap melanjutkan percakapan seperti tak terjadi apa-apa, dan tersenyum. Bagaimana mungkin mereka tidak mndengar? Demi Tuhan! – Tidak!- Tidak! Mereka juga mendengar – mereka curiga – mereka tahu! Mereka pasti sedang menemoohkan ketakutanku – kupikir begitu. Cara lain kurasa jauh lebih baik dari siksaan seperti ini! Cara lain apa pun lebih bisa ditanggungkan daripada pelecehan ini! Aku tidak kuat lagi melihat senyum pura-pura mereka. Aku merasa bahwa aku haru berteriak atau mampus! – dan sekarang – bunyi itu lagi – dengar! Makin kencang – makin kencang – makin kencang!
“Jahanam!” aku memekik, “tak usah berpura-pura lagi! Aku yang melakukan semuanya! Bongkar saja papan ini – di sini, di sini! Di sinilah dentam jantung keparat itu!”
-**-
KESENIAN
SELAMAT DATANG
DI BLOG LooKM4N G4R3NG.
BLOG INI TERLAHIR KARENA KEINGINTAHUAN DAN KEHAUSAN
TENTANG KESENIAN
Rabu, 17 November 2010
Naskah HATI YANG MERACAU
Diposting oleh
Lukman Riyadi
di
04.13
0
komentar
Naskah Petruk Dadi Presiden
Petruk Dadi Presiden
Komedi Puthut Buchori
# 1
>>> MUSIK
NARATOR : Ontran-ontran perebutan kekuasaan. Konon katanya atas nama rakyat, namun sebenarnya atas nama perut melarat, yang haus kekuasaan, lapar kekayaan. Petruk kanthong bolong berhasil ngibuli rakyat untuk mendukungnya. Bersama rakyat menggulingkan kekuasaan mbak mega.
TERJADI PERTEMPURAN HEBAT ANTARA KUBU MBAK MEGA DAN KUBU PETRUK.
MBAK MEGA : Ayo jangan ragu-ragu, kita bertahan sampai titik keringat penghabisan.
PRO MEGA 1 : Gampang….
PRO MEGA 2 : Enteng…
PRO MEGA 3 : Sipil bos…
PETRUK : Sudahlah mbak mega, sampeyan itu terlalu gendut untuk fight. Serahkan saja mentah-mentah, segala kekuasaanmu. Nggak usah capek-capek. Ntar kurus lho.
MBAK MEGA : Whe lha jangan meremehkan keperkasaanku ya.
PETRUK : Serang ! ! !
SETELAH TERJADI PERTEMPURAN YANG PENUH TRIK, AKHIRNYA MBAK MEGA TERPURUK KALAH.
>>> MUSIK
MBAK MEGA : Baik, okelah, saya mengaku kalah. Sekarang saya akan buat pernyataan. Pernyataan: Sidang Istimewa Majelis Petruk yang berbahaya, dengan ini, saya, Meganingrum Kartono Putri, menyatakan takluk, hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, dalam hal ini juga penyerahan cabinet Pro Mega, akan saya serahkan sepenuhnya kepada penguasa baru Saudara Petruk, Alias SBY, Si Petruk Bertubuh Yangkiss, Alias Petuk Kanthong Bolong, Alias Prabu Belgeduwelbeh.
# 2
TEPUK TANGAN KEGEMBIRAAN DAN TANGIS KESEDIHAN MENGHIASI PEMINDAHAN KEKUASAAN
>>> MUSIK
NARATOR : Dunia gempar, Dunia heboh, Banyak perwakilan Negara yang siap-siap menjajah negeri ini menyatakan kegembiraannya. Kita ikuti liputannya.
>>> MUSIK
REPORTER : Selamat pagi pemirsa Televisi tercinta, Pagi ini CTV akan mengadakan wawancara langsung dengan Menteri Invansi Amerika serikat Chaterine Cartel Cartini, katanya sih…. Selamat pagi chaterine…
CHATERINE : Selamat Pagi..
REPORTER : Bagaimana pendapat anda tentang pergantian kekuasaan di Wayang City?
CHATERINE : Bagus, Sesuai rencana.
REPORTER : Maksudnya?
CHATERINE : Kami memang menjagokan Mister Petruk untuk menjadi Raja di Wayang City. Untuk menggantikan siapa itu ? Moga.. moga.. moga mola ya?...
REPORTER : Meganingrum.
CHATERINE : Bukan Megi Z ya?
REPORTER : Meganingrum Kartono Putri
CHATERINE : Ya .. ya.. Meganingrum… Negara kami sangat senang, karena dengan kemunculan mister Petruk ini, kami jadi semakin mudah mengendalikan Wayang City.
REPORTER : Mengendalikan Apa?
CHATERINE : Ya mengendalikan suhu politik, ekonomi dan lainnya.
REPORTER : Terima Kasih Catherine.
CHATERINE : Sama-sama, tetapi maaf, bahasa Wayang saya agak kagok ya..
REPORTER : Itulah tadi wawancara kami. Saya, Anggelina Tumini melaporkan dari Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat.
NARATOR : Demikian liputan kusus dari CTV, Hal senada juga di sampaikan oleh Negara-negara Inggris, Perancis, dan Negara-negara Eropa lainnya. Bagaimana kelanjutan Cerita Petruk dadi ratu, inilah….
PETRUK : Mulai detik ini, aku menyatakan kekuasaan baru oleh penguasa baru. Petruk Kanthong Bolong. Singkirkan Meganingrum dari Istana.
>>> MUSIK
GATOTKACA : Aduh… Mbak Mega.. kenapa demikian… kenapa mbak mega menyerah begitu saja oleh Si Petruk Kanthong Boleng ini.
MBAK MEGA : Saya dicurangi, dia tidak fair, di licik, Jimat kalimasada yang aku simpan di Bank Wayang telah dicurinya, sehingga aku mengalami kekalahan seperti ini.
GATOTKACA : Saya tidak terima, Saya tidak rido.
MBAK MEGA : Sakit, Sakit sekali rasa hati ini,
GATOTKACA : Saya akan balas…
PETRUK : Cut, cut, cut. . ., mana kunci istananya ?
GATOTKACA : Siapa sih loe?
PETRUK : Siapa sih loe ? Siapa sih Loe !!!
PETRUK BERHASIL MENGAMBIL KUNCI ISTANA.
PETRUK : Oke deh semua. Kunci istana dan Jimat kalimasada sudah ada di tanganku. Berarti semua harus tunduk padaku.
GATOTKACA : Kurang ajar kamu truk.
PETRUK : Sebagai bawahanku, tugas pertamamu, tot, Gatotkaca, adalah memanggil semua mentri cabinet pro mega untuk menghadapku, kita adakan sidang istimewa.
# 3
>>> MUSIK
NARATOR : Dan Sidang Istimewapun digelar.
ASPREX : Saya Asprex, asisten Petruk Exlusive siap memulai sidang.
PETRUK : Mulailah. . .
ASPREX : Sidang segera di mulai, anggota sidang silahkan memsuki arena sidang.
PARA MENTERI LAMA MEMASUKI RUANG SIDANG.
ASPREX : Sebelum sidang dimulai, kita buka dengan berdoa. Berdoa mulai.
ANGGOTA SIDANG SEREMPAK BERDOA.
ASPREX : Selanjutnya, amanat kepala Negara.
PETRUK : Thank You… Thank You baby…
ASPREX : Semua anggota sidang wajib bertepuk tangan.
ANGGOTA SIDANG BERTEPUK TANGAN TIDAK SEMANGAT.
PETRUK : Rebat Cekap ! Singkat padat dan jelas. Program kerja lima tahun kedepan dan kelima tahun kelipatannya, adalah, Akan saya bangun pemerintahan yang effisien, ringkes, dan tanpa basa-basi. Akan terjadi mutasi besar-besaran di sini. GatotKaca . . .
GATOTKACA : Ya, saya. . .
PETRUK : Sebagai menteri angkatan udara, prestasimu buruk, banyak pesawat tidak layak terbang kau operasionalkan, sehingga banyak kecelakaan pesawat lima tahun terakhir ini.
GATOTKACA : Lho tetapi itu bukan mutlak kesalahan saya.
PETRUK : Tidak usah berkelit, aku sudah punya gantinya, lebih canggih, lebih gesit, dan yang jelas barang import, saya tak begitu percaya barang lokal, kakehan korupsi.
GATOTKACA : Siapa yang akan menggantikan saya ?
PETRUK : Inilah pengganti Gatotkaca: Superman. . .
>>> MUSIK
SUPERMAN : Hallo every body, I’m superman, I’m not suparman or suparmin, I’m superman, realy realy superman. I’m ready boss !
GATOTKACA : Saya tidak terima.
PETRUK : Terima atau tidak, gak peduli, sekarang kamu aku mutasi menjadi tukan sapu istana.
GATOTKACAPUN PERGI DENGAN TANGISAN SEDIH.
PETRUK : Srikandi . . ,
SRIKANDI : Koor Nok Noon, Nuwun inggih prabu Bel geduwekbeh. Apakah saya akan di mutasi menjadi wakil kepala Negara?
PETRUK : Husy, ngacau. Klemak-klemek gitu mau jadi wakil kepala Negara.
SRIKANDI : Lantas jabatan saya sebagai menteri kewanitaan dan datang bulan akan dimutasi jadi apa.
PETRUK : KAmu akan saya mutasi menjadi istri ke tujuh saya.
SRIKANDI : Astaga… mau dong… Tetapi bagaimana dengan kangmas arjuno…
PETRUK : Akan aku mutasi ke kutub utara.
SRIKANDI : Lantas siapa penggantiku.
PETRUK : Kamu akan diganti oleh yang lebih muda, lebih lincah, lebih gesit dan irit. Cat Woman.
>>> MUSIK
CAT WOMAN : Meaong. . . , Meoauw siap mengembang tugas, siap mengeaongi siapa saja. Akan meong bikin semua wanita mengeong-ngeong, agar lebih bersemangat, lebih bergairah, meaong…. Plis dong ah, meaong…
PETRUK : Bagus. . . bagus. . .
CAT WOMAN : Meaung.
PETRUK : Dan kamu Wisanggeni
W. GENI : Yoh, Apa ?
PETRUK : Kamu itu, sebagai menterinya anak-anak muda, brangasan, jembabasan, peciccilan, ra sopan akan aku ganti kamu.
W. GENI : Diganti karebmu, ra diganti karebmu. Sing arep ganti aku ki sapa? Wani ro aku po ?
PETRUK : Kamu itu belum apa-apanya dengan jagoku ini.
W. GENI : Yen wani kon metu.
PETRUK : Asprex, panggil, pengganti wisanggeni yang kemaki ini.
ASPREX : Prince Punk Ji Pang Panggang dipersilahkan masuk.
MASUK SEORANG PUNGKER DENGAN DANDANAN YANG SANGAR.
>>> MUSIK
PUNKER : Perkenalkan, Prince Punk Ji Pang Panggang, raja Punk Eropa timur.
W. GENI : (TERTAWA NGAKAK) Raj Punk kok dialognya pating pecothot, bagaimana bisa memimpin departemen.
PUNKER : dengan kekuatan cinta.
W. GENI : (TERTAWA NGAKAK) Mau apa jadinya, negeri ini, dipimpin orang-orang tak bermoral, gak punya hati nurani, kasihan rakyatnya pak. Wis Pek’en kabeh, ambil semua. Nikmati sepuasmu…. (MENINGGALKAN SIDANG)
PETRUK : Yah… posisi penting sudah kita dapatkan, kita mulai pesta. Bekerjalah anak-anak.
PENGIKUT PETRUK BERHAMBURAN. PETRUK TERTIDUR DI SINGGASANANYA.
NARATOR : Benar saja anak buah petruk bikin kekacauan ekonomi, politik, social dan budaya. Harga-haraga melambung tinggi, pengangguran dimana-mana, kejahatan merajalela, korupsi, kolusi semakin menjadi, tetapi tak ada yang dilakukan pejabat tinggi, petruk sendiri asyik dalam tidurnya. He.. he.. he… ada-ada saja, negeri kok macam gini, negeri kok kaya film India. He.. he.. he..
MBAK MEGA : Truk… bangun truk… tangi… mas… awan-awan kok turu nglinteg, kae latar mburi during di saponi. Tukang apu kok mung tura turu wae.
PETRUK : (KAGET) Whelhadhalah… ngimpi tho…
MBAK MEGA : ngimpi dadi SBY po?
PETRUK : Ho’o….
SELESAI
Puthut Buchori
Gowongan Yogyakarta 2006
[mementaskan naskah ini harus ada pemberitahuan kepada penulis]
Tentang Puthut Buchori
Nama Lengkap Puthut Buchori Ali Marsono, Kelahiran 6 September 1971. Alumni Jurusan teater ISI Yogyakarta, Selain Menjadi Direktur Artistik Bandungbondowoso ready on stage, Juga direktur Artistik di Teater MASA Jokjakarta, Perfomance Artist Post Punk Perfomance, dan bekerja secara freelance pada beberapa kelompok kesenian. Saat ini aktif menjadi konseptor dan pemimpin redaksi Underground Buletin Sastra ASK [Ajar Sastra Kulonprogo]. Berteater sejak kelas satu SMP di teater JIWA Yogyakarta pimpinan Agung Waskito ER. Telah Berproses teater lebih dari 100 repertoar, baik sebagai sutradara, pemain, tata artistik maupun tata lampu. Pernah membina kelompok teater, antara lain : Teater MAN Yogyakarta 1, Teater Puspanegara SMUN 5 Yogyakarta, SMUN 1 Depok Sleman Yogyakarta, Teater Cassello SMUN 1 Wates Kulonprogo Yogyakarta, Teater Thinthing Wates Kulonprogo Yogyakarta, SMU Kolese GONZAGA Jakarta (event tertentu), Kolese LOYOLA Semarang Jateng (event Tertentu). Teater Sangkar UPN Veteran Yogyakarta, Teater RAI ISI Yogyakarta, Teater DOEA KATA ISI Yogyakarta, dan saat ini sedang merintis kelompok teater di Wates Kulonprogo Yogyakarta. Tinggal di Gowongan Kidul Jt3/412 Yogyakarta, HP. 08179417613, e-mail:masa_teater@yahoo.com
Diposting oleh
Lukman Riyadi
di
04.11
0
komentar
Naskah ANJING ANJING MENYERBU KUBURAN
ANJING ANJING MENYERBU KUBURAN
Karya : Puthut Buchori
Diadaptasi dari cerpen karya : Kuntowijoyo
Babak I
TIDAK SEPERTI HARI BIASA, KUBURAN DESA ‘GIRILOYO’ YANG TERLETAK DI PERBUKITAN DESA GIRI GARING MENJADI RAMAI OLEH WARGA DESA YANG MENANGKAP TANGAN PENCURI MAYAT. WARGA MENCOBA MENGHAKIMI DAN MENGHUKUM PENCURI MAYAT DENGAN ANEKA MACAM PERTANYAAN YANG SESEKALI DISERTAI PUKULAN, HANTAMAN KE ARAH MUKA DAN TUBUHNYA.
WARGA 1 : Oh iblis, setan alas, demit gentayangan. Dasar manusia tak punya martabat, tega-teganya mengganggu mayat. Orang sudah mati kok ya di ganggu.
WARGA 2 : Ngaku saja mas, kamu mau mencuri mayat ini tho?
WARGA 3 : Tidak mau ngaku ?, (SAMBIL MEMUKUL KEPALA PENCURI MAYAT) nih… rasakan bogem mentahku.
WARGA 2 : Pasti kamu cari pesugihan.
WARGA 1 : Kasihan kan keluarganya, kalau jenazah yang sudah coba diistirahatkan, kamu permainkan seperti itu..!
WARGA 4 : (MENGAYUNKAN SEPOTONG BAMBU KE TUBUH PENCURI) Oh, kanibal ! Pemakan Bangkai !
PERONDA 1 : Kamu bukan warga sini ya ? Kamu pendatang ya ? kamu mau mengganggu ketenangan warga sini ya ?
PENCURI MAYAT : (HANYA DIAM)
WARGA 5 : Sedari kalau tadi ditanya baik-baik tidak mau menjawab, hanya diam, gelang-geleng kepala. Kurang ajar ! kamu nantang warga sini ya ? (SEMAKIN MARAH DAN LANGSUNG MEMUKULI PENCURI MAYAT. KEMUDIAN DIIKUTI WARGA LAIN YANG KEMUDIAN BERKEROYOKAN IKUT MENGHAJARNYA).
PERONDA 1 : Ayo, ngaku saja ! daripada badanmu aku remuk seperti peyek kepinyak !
PENCURI MAYAT : (HANYA DIAM, BIAR BAGAIMANAPUN TETAP PADA POSISI SALAH, DAN TAK MUNGKIN MELAWAN WARGA DESA YANG BANYAK JUMLAHNYA).
WARGA 5 : Huh ! Gregetan aku. Ditanya baik-baik nggak mau ngaku, dipukuli juga nggak mau buka mulut. Ayo kita kubur saja hidup-hidup biar tahu rasa !
PARA WARGA : (BERSAHUTAN) Ayo. Kita kubur biar merasakan jadi orang mati. Aku siapkan galian. Dikubur saja bersama kuburannya Lik Rukmini yang mau dicuri. Ayo, ayo !.Biar tahu rasa.
KEMUDIAN PARA WARGA BERRAMAI-RAMAI MENGANGKAT PENCURI MAYAT, HENDAK DIBAWA KE DALAM KUBURAN.
WARGA 5 : Orang seperti ini, tidak perlu dikasih hati. Biar jadi pelajaran bagi yang lain.
DARI KEJAUHAN PAK AMAN DAN PAK LURAH DATANG DIIKUTI WARGA 6, MENCOBA MENCEGAH PERBUATAN MAIN HAKIM SENDIRI TERSEBUT.
PAK AMAN : Hoei ! ! berhenti ! Stop !! jangan main hakin sendiri, jangan semena-mena.
PERONDA 2 : Kita harus memberi pelajaran pada maling ini, Pak Aman.
PAK AMAN : Jaman merdeka kok, masih ada yang main hakim sendiri.
PERONDA 2 : Kita nggak main hakim sendiri kok. Kita main hakim bersama-sama. Ya tho ?
PARA WARGA : Ya, Benar.
PAK AMAN : Alah, sama saja. Kalau mau jadi hakim, mau menghukum orang, mau mengadili orang, pakai sekolah dahulu.
WARGA 6 : moh larang !.
PAK AMAN : Hus! Bicara kok waton.
WARGA 6 : Waton bener tho pak?.
PAK AMAN : Sudah, sudah. Sebagai warga yang baik, yang berbudi, beretika, luhur hati, kita harus dapat bertindak arif. Tidak main pukul seenaknya. Main gebug sekenanya. Kasihan kan ?
WARGA 1 : Pak Aman, nggak usah pidato panjang lebar tentang etika, sopan santun dan thethek bengek lainnya. Sebab yang kita hajar ini adalah orang yang tidak punya etika, nggangguin orang yang sudah mati. Orang ini nggak punya sopan santun, menggali kembali kuburan orang mati. Apa pantas, orang seperti itu dikasihani ?
WARGA 5 : (HENDAK MEMUKUL LAGI) Oh dihajar lagi saja !!
PAK AMAN : Husy ! Sebentar tho! Kok terburu-buru main pukul.
WARGA 5 : Emosi pak ! emosi ! Panas nih pak, panas ati ini. Sebagai keponakan lik Rukmini saya tidak terima.
PAK AMAN : Emosi ya emosi, tapi ya mbok yang terkedali. Kalau kalian main aniaya seenaknya pada orang ini, kalian tak ubahnya orang ini. Orang ini menganiaya, menyakiti orang mati, kalian malah menganiaya, menyakiti orang hidup yang sudah tak mampu melawan seperti ini.
WARGA 1 : Pidato lagi…., ceramah lagi…., Oalah pak Aman, kalau mau pidato berbusa-busa, besok saja pas rapat desa, pidatolah sepuasnya.
PAK AMAN : Waduh, waduh. Orang kalau sudah pada emosi, panas semua, diluruskan tetap saja pingin bengkok. Kalau dikasih tahu, malah mental. Malah ngelawan (KEPADA PAK LURAH) Bagaimana pak Lurah ?
PAK LURAH : Ya sudah, sudah. Mari kita selesaikan secara baik-baik, tidak ada yang diuntungkan, tidak ada yang dirugikan.
PERONDA 2 : Sudah jelas-jelas bersalah, sudah jelas-jelas orang ini merugikan, mengusik ketenangan warga, memperkeruh suasana duka pihak keluarga lik Rukmini, mau diapakan lagi pak Lurah.
PERONDA 3 : Diputuskan langsung saja pak Lurah, nggak usah ditimbang-timbang lagi permasalahannya.Dikubur hidup-hidup, atau digantung.
PAK AMAN : Idih… Sadis!
PERONDA 3 : Sudah gamblang kok pak Lurah, kalau orang ini jelas-jelas pencuri mayat, untung saja ketahuan.
PAK LURAH : Itu kan menurut pendapat kalian. Siapa tahu dia punya pendapat berbeda.
WARGA 4 : Ya terang saja dia punya pendapat berbeda, masak ada maling ngaku maling.
PAK LURAH : Iya.., iya, sabar. Berilah saya kesempatan untuk mengusutnya. Dan kalau memang benar dia pencuri mayat, ya kita serahkan ke pihak yang berwajib. Tetapi kalau dugaan kalian salah, dan dia justru malah penyelamat mayat dari serbuan anjing-anjing liar, kita seluruh warga desa malah berdosa. (KEPADA PENCURI MAYAT) Mas, namanya siapa? Dan tampaknya mas bukan warga desa sini, mas dari mana?
PENCURI MAYAT : (MASIH DIAM, BELUM BERANI BUKA MULUT)
WARGA 5 : Ayo ngomong !
WARGA 1 : Ya begitulah pak Lurah, ditanya baik-baikpun juga tidak mau menjawab.
PAK LURAH : Ya tunggu sebentar, barangkali dia masih shock, masih menahan sakit karena kalian pukuli.
PAK AMAN : Ayo bicara mas, kalau Sampeyan jujur, akan kami lindungi.
PAK LURAH : Ayo mas. Saya Lurah di sini, saya yang bertanggung jawab di desa ini. Ceritakan semua yang terjadi menurut versi sampeyan.
PARA WARGA : (BERSAHUTAN) Ayo ngomong! . Jujur saja mas !. Iya dari pada dipukuli lagi! . Gak usah ngarang-ngarang!. Ayo bicara.! Ngaku, terus terang!.
PAK LURAH : (BERUSAHA MENENANGKAN WARGA YANG EMOSI) Iya…, iya… biar dia mengatur nafas dulu.
WARGA 5 : (MENGANCAM DENGAN PUKULAN) Ayo ngomong ! Tak jotos lagi kalau nggak ngomong. (GERAM) Sudah ada pak lurah belum mau ngomong juga.
PENCURI MAYAT : (MENCOBA BICARA DENGAN SEGALA KETAKUTANNYA) Begini, pak…..
LAMPU BLACKOUT
Babak II
FLASHBACK KE KEJADIAN SEBELUMNYA.
DI POS RONDA YANG LETAKNYA TIDAK JAUH DARI KUBURAN DESA, TAMPAK BEBERAPA PERONDA YANG SENGAJA MENJAGA KUBURAN BARU LIK RUKMINI, WANITA SETENGAH BAYA YANG MENINGGAL MALAM SELASA KLIWON.
MALAM ITU, KABUT DINGIN MEMBUAT DESA JADI SENYAP. HANYA SUARA ALAM YANG TERDENGAR. UNTUK MENGUSIR KANTUK DAN RASA TAKUT, DITEMANI LAMPU PETROMAK, PARA PERONDA MEMECAH KESUNYIAN DENGAN NGOBROL PENUH CANDA SAMBIL MAIN KARTU.
PERONDA 1 : Wah dingannya, seperti kemulan es.
PERONDA 2 : Ya kalau mau anget, ya kemulan kompor.
PERONDA 1 : Kalau kompornya Mbok Darmi aku mau, ngekep kompor sekalian orangnya.
PERONDA 3 : Huh, ngaco. Bicaramu ngawur. Gak usah mimpi ngekep mbok Darmi, di keplak kang Paimin tunangannya, baru kapok kamu.
PERONDA 1 : Wuih, mbok Darmi, Penjual soto yang janda kembang itu, sudah mau kawin lagi tho?
PERONDA 2 : Lha kamu itu yang ketinggalan spoor.
PERONDA 1 : Wah terlanjur mimpi je. Ngapeli mbok Darmi, jalan-jalan bergandengan, asyik-asyikan, indehoy semalaman. Asyoi pokoknya.
PERONDA 2 : Makanya sesekali dengar gossip.
PERONDA 4 : Yo main kartu. (MENGAMBIL KARTU DAN MULAI MENGOCOKNYA)
PERONDA 3 : (KEPADA PERONDA 1) Kang Dalimin, kalau masih kedinginan dan pingin peluk-pelukan, tuh sama lik Rukmini, yang barusan dikubur, dijamin masih anget, dan dijamin pasrah total.
PERONDA 1 : Husy! Jangan ngawur kalau ngomong. Kwalat.
PERONDA 4 : (SAMBIL MEMBAGI KARTU) Kang Sukri, jangan mengada-ada kalau ngomong, ntar diprimpeni lho.
PERONDA 3 : Takut ya?
PERONDA 4 : Kalau takut sih, tidak kang. Cuma gemetaran sedikit.
PERONDA 3 : Sama saja, itu juga takut namanya. Jangan ngompol lho.
PERONDA 4 : Sudah kang, jangan cerita tentang lik Rukmini lagi. Cerita yang lain saja. Cerita Desi Ratnasari atau Tamara Blesinsky.
PERONDA 1 : Wah, justru yang paling asyik itu, cerita lik Rukmini. Kita harus menelusur sebab musabab kematiannya, kenapa matinya bisa pas malam selasa kliwon. Apa dia mati dengan sendirinya secara alamiah, apa dia mati disantet.
PERONDA 2 : Yang jelas ya mati kehabisan napas.
PERONDA 1 : Ya jelas orang mati itu kehabisan napas. Maksudku itu kenapa lik Rukmini mati masih di usia semuda itu, padahal sebelumnya dia tidak pernah mengeluh apa-apa. Tidak pernah sakit yang serius. Paling juga hanya flu dan penyakit panu.
PERONDA 2 : Menurutku sih, entah dia mati disantet atau bukan, nggak usah kita pikirkan, yang jelas dia mati karena sudah garisnya Gusti. Nggak usah repot-repot mikir. Mati ya mati. Apa kalau kita mau menelusuri sebab kematiannya, terus lik Rukmini tidak jadi mati?
PERONDA 4 : Wuih, malah nambah nakut-nakuti kamu kang.
PERONDA 1 : Namanya juga orang penasaran, kalau belum ketemu jawabannya, rasanya belum titik otakku ini.
PERONDA 2 : Idih, sok polisi kamu.
PERONDA 1 : Soalnya lik Rukmini….
PERONDA 4 : Sudahlah kang, Desi Ratnasari saja, atau Tamara Blesinsky. Cerita soal mbak murti juga boleh asalkan jangan cerita tentang lik Rukmini, jangan cerita tentang malam selasa kliwon. Sudah merinding nih kang.
PERONDA 1 : Wah kalau tidak kita bahas, nanti kamu tidak tahu, kenapa kita bersusah payah, ronda, berjaga siang malam selama tujuh hari tujuh malam di depan makam ini.
PERONDA 4 : Memangnya kenapa kang?
PERONDA 1 : Nah bener kan ? Nggak tahu. Makanya kamu harus tahu le. Biar nggak sia-sia rondanya.
PERONDA 2 : Alah, sok tahu kamu.
PERONDA 1 : Wuih, bener lho. Wanita yang matinya malam selasa kliwon seperti lik Rukmini ini, harus kita jaga.
PERONDA 4 : Kok gitu kang?
PERONDA 1 : Supaya tidak dicuri.
PERONDA 4 : Yang bener kang, Masak nyolong mayit ?
PERONDA 1 : Wheladalah, gak percaya?
PERONDA 2 : Kalau mau serius nyolong, mbok ya itu, nyolong televisi, motor, mobil, kulkas atau apa kek, kok mayat?
PERONDA 1 : Ini, sungguh lho !
PERONDA 3 : Masak iya?
PERONDA 1 : Nah, ini. Konon, katanya kabar burung sesuai isu yang berkembang, mbah Surip dukun gunung srinthil, tetangga desa kita, pernah bilang, bahwa mayat wanita yang matinya malam selasa kliwon, dapat dijadikan sarana pesugihan, mencari kekayaan dengan jalan pintas.
PERONDA 2 : Anyak ! Tenane ?
PERONDA 1 : Whe Lha sungguh. Sebab wanita yang mati malam selasa kliwon itu punya daya, punya cahaya yang berbeda, memiliki kekuatan mistis.
PERONDA 4 : Jadi tambah merinding.
PERONDA 2 : Jangan percaya, le. Itu hanya kentut.
PERONDA 1 : Percaya silahken, tidak ya sumonggo. Ngomong kok dikira kentut.
PERONDA 4 : Pesugihan itu bagaimana tho kang?
PERONDA 1 : Pesugihan itu adalah sarana supranatural yang membantu orang bisa sugih, kaya raya. Tanpa harus bekerja keras, uangnya akan mengalir dari bawah bantal di kamarnya.
PERONDA 4 : Berarti hanya leha-leha bisa dapat duit banyak ya ?
PERONDA 1 : Persis, Tepat. Tetapi biar tidak kelihatan mencolok kalau punya pabrik uang di bantalnya, ya orang-orang semacam itu biasanya pura-pura buka warung kecil-kecilan atau apalah…
PERONDA 4 : Wah penak ya, di jaman orang kesulitan cari duit, di masa orang pusing bayar sekolah, di dunia paceklik sekarang ini, bisa punya mesin uang dari bantal.
PERONDA 1 : Iya, bantal ! Bayangkan.
PERONDA 4 : (HANYA BISA MEMBAYANGKAN TERHADAP HAL-HAL YANG TAK MUNGKIN TERJADI)
PERONDA 3 : Tetapi jangan ditiru. Syirik. Bertentangan dengan agama.
PERONDA 2 : Kalau pingin dapat uang banyak, ya kerja keras. Aku ini meski hanya bekerja narik becak, tetapi aku bangga, bisa mencukupi kebutuhan anak istri, aku bangga karena uangku halal.
PERONDA 1 : Selain itu, jangan dikira dapat pesugihan itu gampang.
PERONDA 4 : Memangnya harus ngapa kang?
PERONDA 1 : Wah angel. Ada yang harus bersemadi tujuh hari tujuh malam, dengan aneka macam godaan.
PERONDA 2 : Digoda, kenyo tanpo busono.
PERONDA 1 : Tidak hanya itu, ada yang pas semedi dikeroyok ribuan semut, dikeroyok macan yang gede-gede, disatroni singa yang galak-galak, ada yang merasa dibanjiri sampai terbenam dalam darah dan kotoran. Dan biasanya di akhir semadinya didatangi kakek-kakek yang memberi wangsit.
PERONDA 4 : Lantas kenapa yang dicari adalah wanita yang mati di malam selasa kliwon?
PERONDA 1 : Kata para orang pinter, selasa kliwon itu adalah hari anggoro kasih, hari keramat, sakral.
PERONDA 4 : Ooo….
PARA PERONDA KEMBALI ASYIK BERMAIN KARTU. SEMENTARA DI SUDUT LAIN DI AREAL TANAH KUBURAN, ADA SEORANG LELAKI MEMAKAI CELANA DAN BAJU TENTARA LUSUH, DENGAN LENGAN DIGULUNG SAMPAI ATAS, BERKOMAT-KAMIT SEDANG MEMBACA MANTERA. DENGAN TIDAK MENGGUNAKAN ALAS KAKI, IA TELUSURI TANAH KUBURAN BARU LIK RUKMINI.
PENCURI MAYAT : Permisi eyang penjaga kubur, cucumu mohon ijin masuk, dan meminjam salah satu wargamu. Hong ilahing, hong ilahing hyang kang kuasa ing bumi. Dengan jimat aji sirep begananda, ijinkan anakmu melepas gangguan orang-orang yang terjaga. Ijinkan anakmu membuat orang-orang penjaga menjadi lena, terbuai mimpi dalam tidurnya. Seperti halnya aji sirep begananda diturunkan Raden Indrajit dari Alengka Diraja untuk menidurkan prajurit Rama Wijaya.(DILANJUTKAN DENGAN MEMBUAT GERAKAN SAKRAL UNTUK SYARAT DOA DAN MANTERANYA)
SEMENTARA DI POS RONDA, SEBAGIAN PERONDA SEMAKIN ASYIK DENGAN PERMAINAN KARTUNYA.
PERONDA 3 : Nih, As !!! mampus kalian semua. K.O. Keok.
PERONDA 1 : Semprul !
PERONDA 2 : Ngocok lagi, ngocok lagi.
PERONDA 4 : Kang malam ini kok aneh ya, tidak seperti biasanya.
PERONDA 1 : Takut ya?
PERONDA 2 : Kalau takut pulang saja sana.
PERONDA 4 : Jangan gitu kang. Aku merasa aneh tenan.
PERONDA 2 : (MEMBAGIKAN KARTU) Ayo mulai lagi.
PENCURI MAYAT : Rem.. rem sidem premanem, rem rem sidem premanem, rem rem sidem premanem, kiblat papat, lima pancer. (MENABURKAN BERAS KUNING KE EMPAT PENJURU MATA ANGIN, DAN TERAKHIR MENEBAR BERAS KUNING KE ARAH PARA PERONDA) Semoga beras kuning pemberian eyang guru bekerja sesuai rencana.
PERONDA 2 : (KEPADA PERONDA 4) Nah ayo gentian, Sekarang kamu yang ngasut le.
PERONDA 4 : Wah diapusi wong-wong tuwa.
PERONDA 4 SETELAH MEMBAGIKAN KARTU TERAKHIR, LANGSUNG ROBOH TERTIDUR PULAS.
PERONDA 4 : (MENGUAP LEBAR) Oahem suk ruwah mangan apem.
PERONDA 3 : Wah, Bocah kurang ajar, habis bagi kartu terus ngorok. (TANPA SADAR MENGUAP LEBAR, DAN TERTIDUR DI POS RONDA)
KEMUDIAN SALING MENYUSUL PERONDA YANG LAIN, IKUT TERTIDUR PULAS.
PERONDA 1 : Bagaimana tho kalian ini? Disuruh ronda malah pada tidur.(MENGUAP DAN TERTIDUR).
PENCURI MAYAT : Ampuh juga, beras kuning, pemberian eyang guru. Hebat, betul-betul hebat, bisa sesepi ini, bahkan suara binatang-binatang malampun jadi bisu semua, hebat, sungguh hebat.(BERJALAN MENUJU POS RONDA DAN MEMATIKAN PETROMAK). Sekarang aku bisa mulai bekerja meneruskan langkah selanjutnya, menggali kubur ini. Mudah-mudahan tanahnya empuk dan bisa digali dengan tangan.
KETIKA PENCURI MAYAT HENDAK MULAI MENGGALI TANAH, DI KEJAUHAN TERDENGAR SUARA KENTHONGAN DIPUKUL.
PENCURI MAYAT : Astaga, ada yang belum terjangkau aji sirep begananda ini. (BERLARI KE BEBERAPA ARAH, MENGAMATI SEKELILING TERDEKAT DAN TAMPAK AMAN) Ah tapi suara kenthongan itu arahnya dari jauh, pasti tak akan tahu apa yang aku perbuat di sini. (MULAI MENGGALI TANAH KUBURAN LIK RUKMINI DENGAN TANGAN)
PERONDA 1 : (MENGIGAU DAN BANGUN) Mbok… mbok Darmi (TERTIDUR LAGI DI DEPAN POS RONDA)
PENCURI MAYAT : Kurang ajar, hanya nglindur, ganggu orang usaha saja. (KEMBALI BERUSAHA MENGGALI TANAH KUBURAN LIK RUKMINI). Aku harus berhasil, harus berusaha keras menggali kubur ini dengan tanganku, biarpun tangan ini lecet, kotor, tak apa. Sakit ini hanya untuk sementara. Tetapi lihat saja hasilnya nanti, kalau aku sudah berhasil menggigit kedua telinga mayat ini, oh… lihat saja. Aku pasti akan kaya raya. Aku pasti bisa mendandani istriku dengan sepasang subang emas berlian di telinganya. (MENGGALI TANAH SEMAKIN DALAM) Di tangannya melilit ular-ularan dari emas. Giginya emas…(TERUS MENGGALI TIADA HENTI) Ah tidak, bukan gigi emas, gigi emas sudah kuno.(MENGGALI DAN MENGGALI) Akan aku hiasi lehernya dengan kalung emas yang berat, cincin, gincu yang mahal, bedak yang bagus seperti artis-artis sinentron (MENGGALI DAN MENGGALI). Anak-anakku pasti tidak akan diejek lagi kalau sekolah, karena kemarin-kemarin kalau ke sekolah tidak pakai sepatu, akan aku belikan sepatu yang paling mahal seperti yang diiklankan di televisi. Uang SPP-nya tidak akan nunggak, aku bisa beli truk untuk usaha adikku yang bungsu, bisa beli rumah yang bagus, tidak kesulitan jika ada sumbangan ini sumbangan itu. Semua pasti beres, beres… res… res… (MENGGALI SEMAKIN DALAM) Uh terlalu sempit mereka menggali kuburan.(KETIKA SUDAH HAMPIR SAMPAI DI PAPAN JENAZAH) Nah kekayaan itu hampir tiba.
PERONDA 1 : (MENGIGAU LAGI) Mbok darmi… mbok… ayo tho…., dimana tho kamu. Mbok… Mbok Darmi…
PENCURI MAYAT : (KESAL) Mbok Darmi ke Singapur beli kacang goreng.
PERONDA 1 : (KEMBALI TERTIDUR) Oooo….
PENCURI MAYAT : Ah semoga tak ada gangguan lagi, waktu sirepnya hampir habis. (KEMBALI MENGGALI, KALI INI SUDAH MULAI MEMBUKA PAPAN PENUTUP MAYAT) Ah tempat ini terlalu sempit. Terpaksa aku harus membawa ke atas, untuk menggigit kupingnya.. (PELAN-PELAN MEMBAWA MAYAT KE ATAS DAN MEMBUKA KAIN KAFANNYA) Uh.. baunya, amis, anyir, busuk bercampur aduk. Tetapi tak apa, demi anak,istri, demi masa depan keluarga. (SETELAH MEMBUKA TUTUP KEPALA MAYAT) Panjang juga rambutnya, jadi sulit menggigit kupingnya.(KETIKA MENCOBA MENYIBAK RAMBUT MAYAT YANG PANJANG) Ah akhirnya ketemu juga kupingmu Mbakyu.(MENCOBA MENAHAN NAPAS UNTUK BERSIAP MENGGIGIT TELINGA MAYAT. DAN KETIKA HENDAK MENGGIGIT TELINGA, TIBA-TIBA TERDENGAR LOLONGAN ANJING. DI KEJAUHAN MEMANG TAMPAK SOROT MATA ANJING YANG SIAP MENERKAM). Bajingan. Ada saja masalah. (MENCOBA MENENANGKAN DIRI) Sabar… sabar… bekerja itu jangan grusa-grusu. .(LOLONGAN ANJING SEMAKIN DEKAT DAN TERDENGAR LOLONGAN BEBERAPA ANJING). Ini Anjing beneran atau anjing siluman sebagai ujian? (MENGUCAP MANTERA) Demit Periprayangan yang mbaureksa pohon randu kuburan, jangan di ganggu, ijinkanlah cucumu bekerja. Demit Periprayangan yang mbaureksa pohon randu kuburan, jangan di ganggu, ijinkanlah cucumu bekerja. Demit Periprayangan yang mbaureksa pohon randu kuburan, jangan di ganggu, ijinkanlah cucumu bekerja. (TERUS BERKOMAT-KAMIT TIADA HENTI) Siapa tahu aku lupa permisi pada jin penunggu pohon randu yang di pojok itu. (LOLONGAN ANJING SEMAKIN DEKAT) Kurang ajar, ternyata anjing beneran.
ANJING-ANJING MENDEKAT, PENCURI MAYAT MENJADI PANIK, BERUSAHA MENGUSIR ANJING-ANJING ITU UNTUK MENJAUH DARI MAYAT YANG DIGALINYA.
PENCURI MAYAT : (MENGUSIR ANJING) Shah.. shah….Pergi…Pergi… minggat sana !
SEMAKIN LAMA ANJING ANJING BERTAMBAH BANYAK SAMPAI BERJUMLAH SEMBILAN. LOLONGANNYA JUGA SEMAKIN KERAS DAN MENGERIKAN.
PENCURI MAYAT : (MENGUMPAT) Dasar binatang tidak mau lihat orang punya cita-cita. Pergi sana ! Asu kowe ! ! Shah !.. Hushah… !
ANJING ANJING MULAI MENDEKAT, MELIHAT MAYAT BAGAIKAN MELIHAT MANGSA YANG LEZAT. SECARA BERGANTIAN. DENGAN LOLONGAN YANG MENGERIKAN ANJING-ANJING MENYERBU MAYAT. SEDIKIT DEMI SEDIKIT MEROBEK KAIN KAFAN. PENCURI MAYAT BERUSAHA MENGUSIR DAN MELAWAN SEKUAT TENAGA DENGAN KAYU NISAN YANG ADA DI DEKATNYA.
PENCURI MAYAT : Anjing Kamu ! Minggat ! Diajak kompromi sedikit saja nggak mau. Anjing. (MEMUKULI ANJING YANG MENCOBA MENDEKAT. LOLONGAN ANJING SEMAKIN MENGERIKAN, ANJING ANJING ITU MENAHAN SAKIT KARENA PUKULAN). Nanti kamu dapat jatah, dan boleh kamu habiskan semua. (SECARA BERGANTIAN ANJING ANJING BERUSAHA MEREBUT MAYAT DARI KUASA PENCURI MAYAT) Aku hanya butuh pinjam. Aku tidak akan memakannya. Aku hanya butuh menggigitnya. Itupun hanya telinga. Hanya telinga. Lainnya makanlah sepuasmu.
MESKI PENCURI MAYAT MELAWAN ANJING ANJING SEKUAT TENAGA, NAMUN ANJING ANJING TETAP TIDAK PEDULI DAN TIDAK MAU KOMPROMI. ANJING ANJINGPUN JUGA BERUSAHA MEREBUT MAYAT ITU SEKUAT TENAGA. LOLONGAN ANJING SEMAKIN MENGERIKAN MEMECAH SENYAPNYA MALAM. LOLONGAN ANJING TERDENGAR SAMPAI JAUH DI UJUNG DESA.
PENCURI MAYAT : Dasar anjing, dasar anjing. (DENGAN KAYU DI TANGANNYA, MENGAMUK MEMUKULI ANJING) Kalian memusnahkan harapanku untuk jadi kaya, kalian memupuskan cita-cita keluargaku untuk jadi makmur. (MARAH SEJADI-JADINYA) Dasar anjing..!. Anjing buduk…!. Anjing kudisan…!. Anjing panuan….!, Anjing gudikan….!.(KEHABISAN TENAGA, DAN PUTUS ASA) dasar Anjing.. Dasar anjing…. Oalah… Nasib… Anjingpun tidak mau memberi kesempat kepada orang kecil seperti aku… Bangsat ! Bangsat ! Bangsat (DI PUNCAK KEMARAHANNYA, MENGAMBIL TANAH, BATU, KAYU SEKENANYA MELEMPARI ANJING ANJING. MEMUKULI ANJING ANJING TERSEBUT SEKUAT HATI DAN KEMARAHANNYA. ANJING ANJING JUGA SEMAKIN MARAH. LOLONGAN KESAKITAN DAN KEMARAHANNYA SAMPAI MEMEKAKKAN TELINGA. SUARANYA SUDAH TIDAK KARUAN). Oalah anakku, Istriku, Eyang guru… maafkan aku, aku tak dapat menyelesaikan tugasku (TERDUDUK LEMAS TAK BERDAYA, PASRAH)
SEMENTARA ITU, ANJING ANJING MELOLONG MEMEKAKKAN TELINGA, SELAIN KARENA RASA SAKIT AKIBAT PUKULAN, JUGA KARENA RASA PUAS AKAN KEMENANGAN BERHASIL MEREBUT MAYAT DARI PENCURI MAYAT. MALAM PECAH OLEH SUARA KENTONGAN YANG DIPUKUL SECARA BERTUBI-TUBI OLEH WARGA DESA YANG TERBANGUN MENDENGAR SUARA LOLONGAN ANJING ANJING TERSEBUT. PARA PERONDA SATU-PERSATU BANGUN, SALING MEMBANGUNKAN YANG LAIN, SALAH SATU PERONDA JUGA MEMUKUL KENTONGAN.
PERONDA 3 : Bangun… Bangun… banyak anjing di sini, memangsa mayat lik Rukmini.
PERONDA 1 : Ada apa ini, Ada apa?
PERONDA 4 : Apa tho kang?
PERONDA 3 : Anjing ! Anjing-anjing itu menyerbu kuburan lik Rukmini.
PERONDA 2 : Ayo kita selamatkan mayatnya.
PERONDA 3 : Kita usir anjing-anjing itu
PERONDA 2 : Kita panggil warga yang lain.
PERONDA 3 : (KEMBALI MEMUKUL KENTONGAN TANDA BAHAYA) Kuburan Lik Rukmini di serang anjing… Kuburan lik rukmini mau di maling… maling… maling… anjing… anjing….
PERONDA 1 : (SAMBIL MENCARI SENJATA KAYU ATAU BAMBU) Ini pasti bukan hanya karena anjing, pasti ada penyebab lain. Ini pasti gara-gara selasa kliwon !
SEMENTARA ITU PERONDA 2 DAN 4 SUDAH BERUSAHA MENGUSIR ANJING ANJING ITU DENGAN KAYU DAN BAMBU SEADANYA. TAK LAMA KEMUDIAN WARGA DESA YANG LAIN MULAI BERDATANGAN.
WARGA 2 : Mana malingnya ?, kita hajar bareng-bareng.!
PERONDA 3 : Itu, anjing-anjing itu ! kita usir anjing-anjing itu.!
WARGA 1 : O.. dasar kewan. Shah… hushah… shah….(MENGUSIR ANJING ANJING UNTUK MENJAUH DARI KUBURAN)
PERONDA 1 : Kita usir sampai jauh.
PERONDA DAN WARGA BERHAMBURAN KE PENJURU ARAH UNTUK MENGUSIR ANJING. ADA ANJING YANG MELAWAN, NAMUN AKHIRNYA KALAH, KARENA JUMLAH WARGA YANG IKUT MENGUSIR ANJING ANJING SEMAKIN TAMBAH BANYAK. ANJING ANJING MULAI MENYINGKIR DAN MENGHILANG DI GELAP MALAM.
PERONDA 1 MENEMUKAN PENCURI MAYAT YANG MASIH TERDUDUK LEMAS.
PERONDA 1 : Hoe… ! ini ada anjing yang pakai celana tentara!
PARA WARGA : (BERSAHUTAN) Mana ? kita hajar saja! Orang maksudmu? Kita seret ke pos ronda! Kita intrograsi! Dia pasti maling! Ya pasti maling, malam-malam kelayapan di kuburan.
PERONDA 1 : Kamu pasti maling. Kamu pasti yang membongkar makam ini, kamu pasti yang menggali kuburan lik Rukmini.
PENCURI MAYAT : (MASIH MENAHAN SAKIT, HANYA DIAM)
PERONDA 1 : Nggak mungkin anjing anjing itu bisa menggali sedalam ini, dan bisa mengeluarkan mayatnya ke atas kuburan. Pasti ini perbuatanmu? Ngaku !
PENCURI MAYAT : (MASIH MENAHAN SAKIT, DAN MASIH HANYA DIAM)
PERONDA 3 : Ngaku saja mas, daripada dihajar orang sedesa.
WARGA 5 : Ngomong mas.
WARGA 3 : Ini masalah Genting, Jangan mempersulit keadaan.
PERONDA 3 : Kamu mau mencuri mayat ini tho ? Kamu yang menggali tanah kuburan ini tho? Ayo ngaku.
PERONDA 4 : (KEPADA PERONDA 1) Wah betul apa katamu kang. Memang ada pencuri mayat, dan orang ini mencoba mencuri mayat lik Rukmini.
PERONDA 1 : Ngaku, ayo ngaku !
WARGA 5 : Kamu jangan bikin emosi Lho. Ngaku tidak?
PENCURI MAYAT : (HANYA BISA DIAM, MERASA BERSALAH)
WARGA 5 : Tidak mau ngaku ya. (MULAI MEMUKUL PENCURI MAYAT) Kurang ajar, ditanya baik-baik hanya diam (MEMUKUL LAGI) Ngaku tidak?
WARGA 4 : Ayo, ngomong mas.
WARGA 3 : Ayo ngomong ! (IKUT-IKUTAN MEMUKUL PENCURI MAYAT, DAN KEMUDIAN DIIKUTI OLEH BEBERAPA WARGA YANG LAIN).
WARGA 1 : Kalau sampeyan tidak mau ngaku, dan tidak mau ngomong, ntar dipukuli terus lho mas. Ayo jujur saja mas.
PENCURI MAYAT : (MASIH DIAM)
WARGA 5 : Oh bikin emosi tenan iki ! (KEMBALI MEMUKULI PENCURI MAYAT DAN DIIKUTI BEBERAPA WARGA YANG LAIN. PENCURI MAYAT HANYA BISA MENAHAN RASA SAKITNYA).
PERONDA 1 : Kamu membongkar makam ini, untuk pesugihan ! ngaku tidak ! atau untuk kekebalan ilmu hitam. Iya tidak?
WARGA 6 : Biar gamblang, saya panggilkan pak Aman dan pak Lurah.(PERGI MEMANGGIL PAK LURAH DAN PAK AMAN).
WARGA 5 : Sebelum pak Lurah datang, kalau nggak mau ngaku kita hajar saja dulu.(KEMBALI MEMUKUL PENCURI MAYAT, PENCURI MAYAT HANYA BISA DIAM MENAHAN SAKIT).
WARGA 4 : (MEMBAWA SEGELAS AIR MINUM DARI POS RONDA) Cukup.. cukup… jangan dipukul lagi. Mungkin dia capek, menggali kuburan sendirian. Biarkan dia minum dulu. Siapa tahu haus, kesel. (MENUNJUK TANGAN PENCURI MAYAT) Tuh lihat, tangannya sampai berdarah, menggali tanah tanpa pacul.(PURA-PURA BERBAIK HATI KEPADA PENCURI MAYAT) Nih minum dulu mas (BEGITU MENDEKAT PENCURI MAYAT, DENGAN SEGALA KEMARAHANNYA MEMUNCRATKAN AIR MINUM TERSEBUT KE MUKA PENCURI MAYAT. PENCURI MAYAT YANG SEMULA LEGA MENJADI KAGET DAN SEMAKIN TAKUT) Nih minum ! (KEMARAHAN ITU DIIKUTI WARGA LAIN YANG KEMUDIAN BERAMAI-RAMAI MEMUKULI PENCURI MAYAT)
PARA WARGA : (MEMUKULI SAMBIL BERSAHUTAN) Kurang asem. Ditanya baik-baik tidak ngaku. Bedebah busuk. Kita bakar saja ! Kita congkel matanya ! Ih jangan sadis-sadis, kaya jaman revolusi saja! Kita keplaki saja. Kita pukuli. Kita hajar.(SUARA ITU BERULANG-ULANG DAN SAMPAI PADA PUNCAK KEMARAN DENGAN NADA SUARA TINGGI)
DIPUNCAK KEMARAHAN, LAMPU BLACKOUT.
SUARA ORANG-ORANG FADE OUT SEMAKIN LIRIH DAN HABIS. SENYAP.
PENCURI MAYAT : (HANYA SUARA) Nasib tidak pernah berpihak pada orang susah. Roda memang bisa berputar, tetapi roda milikku macet. Sehingga aku selalu di bawah.
SELESAI
Keterangan kata yang berbahasa Jawa:
Peyek : Makanan ringan (digoreng) dari tepung yang ditaburi kacang
Kepinyak : Terinjak (kaki)
Moh larang : Tidak mau, mahal.
Waton : Asal
Waton bener : Asal benar
Gebug : Pukul
Kemulan : Berselimut
Ngekep : Memeluk
Keplak : Ditampar
Nyolong mayit : Mencuri Mayat
Anyak Tenane : Ah Yang bener
Sumonggo : Silahkan
Leha-leha : Bersantai-santai
Ngapa : Berbuat apa?
Angel : Sulit
Kenyo tanpo busono : Wanita tanpa busana.
Ngasut : mengocok kartu
Diapusi wong-wong tuwa : Ditipu orang-orang tua.
Nglindur : Mengigau
Asu kowe : Anjing kamu
Kewan : Hewan
Puthut Buchori
Yogyakarta, 15 Oktober 2005
Tentang Puthut Buchori
Nama Lengkap Puthut Buchori Ali Marsono, Kelahiran 6 September 1971. Alumni Jurusan teater ISI Yogyakarta, Selain Menjadi Direktur Artistik Bandungbondowoso ready on stage, Juga direktur Artistik di Teater MASA Jokjakarta, Perfomance Artist Post Punk Perfomance, dan bekerja secara freelance pada beberapa kelompok kesenian. Saat ini aktif menjadi konseptor dan pemimpin redaksi Underground Buletin Sastra ASK [Ajar Sastra Kulonprogo]. Berteater sejak kelas satu SMP di teater JIWA Yogyakarta pimpinan Agung Waskito ER. Telah Berproses teater lebih dari 100 repertoar, baik sebagai sutradara, pemain, tata artistik maupun tata lampu. Pernah membina kelompok teater, antara lain : Teater MAN Yogyakarta 1, Teater Puspanegara SMUN 5 Yogyakarta, SMUN 1 Depok Sleman Yogyakarta, Teater Cassello SMUN 1 Wates Kulonprogo Yogyakarta, Teater Thinthing Wates Kulonprogo Yogyakarta, SMU Kolese GONZAGA Jakarta (event tertentu), Kolese LOYOLA Semarang Jateng (event Tertentu). Teater Sangkar UPN Veteran Yogyakarta, Teater RAI ISI Yogyakarta, Teater DOEA KATA ISI Yogyakarta, dan saat ini sedang merintis kelompok teater di Wates Kulonprogo Yogyakarta. Tinggal di Gowongan Kidul Jt3/412 Yogyakarta, HP. 08179417613, e-mail:masa_teater@yahoo.com
Diposting oleh
Lukman Riyadi
di
04.09
0
komentar
Selasa, 16 November 2010
Naskah LoronG
L o R o n G
Karya Puthut Buchori
BAGIAN SATU
PADA SEBUAH TEMPAT: KUMUH, KOTOR. NAMUN TINGGAL DI TEMPAT TERSEBUT ORANG-ORANG YANG MEMILIKI SEMANGAT HIDUP DENGAN KERJA DAN USAHA.
Lagu orang lorong:
Lorong, Orang orang lorong
Bolong, Rumah kami bolong
Lorong, Orang orang lorong
Kosong, Nasib orang kolong
Kami yang di miskinkan oleh suatu sebab
Terpinggirkan di jurang kekalahan
Kami yang di kalahkan oleh suatu sistem
Tersingkirkan di ladang kami yang telah hilang
Kami yang lahir di tanah air subur makmur
Tapi hidup dan di besarkan di lahan kering kerontang
Tanah kami telah di rampas
Hak hidup entah telah di curi siapa?
Negeriku kaya, aku yang miskin
Bangsaku makmur, hidup kami yang hancur
Dasar Orang orang lorong
Beginilah nasib dan hidup
Yang harus tertindas
Kalah , kalah , kalah
TIBA TIBA SAJA DAERAH KAWASAN KUMUH ITU TERSERANG PENYAKIT ANEH, YANG HAMPIR BELUM PERNAH TERJADI DI DAERAH TERSEBUT. SALAH SEORANG WARGA MENGERANG KESAKITAN.
001. JAMBUL : (TERIAK KESAKITAN) Aug !!! kergh... aduh ulu hatiku, aduh kepalaku, aduh kakiku. Akh... Aduh.. akankan kematianku datang hari ini.
002. SELIP : Hus ! Jangan omong ngawur seperti itu, kalo Gusti Allah dengar, kuwalat kamu, bisa dicabut beneran.
003. JAMBUL : Tetapi ini sungguh sakit, aku tak kuat lagi.
004. GAGE : Iktiar mas, dedonga biar sakitnya berkurang.
005. ATI : (SESUDAH AMBIL MINUMAN DI KOLONGNYA) ini minum dulu biar tenang.
006. GAGE : Iya ini di minum dulu, biar enteng.
ORANG YANG SAKIT MEMINUM AIR YANG DI BERIKAN TETANGGANYA, NAMUN AIR ITU TERASA PANAS DAN MEMUNTAHKANKEMBALI.
007. JAMBUL : Panas... Panas... racun... racun... (SEMAKIN MENGERANG KESAKITAN)
008. LIK GANDUL : Wah Kalau ini pasti Ayan !
009. ORANG YANG LAIN : Hus !
010. LIK GANDUL : Kalau bukan ayan, pasti kesurupan.
011. SELIP : Wah bisa jadi. (KEPADA YANG SAKIT) kamu tadi nguntal apa tho? Kok jadi kangsluban ? Kamu tadi dolanan dimana ? kok bisa kesurupan, sadar mas, sadar.....
012. LIK GANDUL : Sekarang panggilkan mbah karto dukun saja, biar di jampi-jampi.
013. GEMPIL : Jangan mbah karto dukun, kurang ampuh. Lebih baik lik minah cucunya mbah kartono.
014. SELIP : Hus ngaco ! Lik minah itu dukun bayi !
015. GEMPIL : Tapi pas selasa kliwon kemarin, dia juga bisa sembuhkan orang kesurupan.
016. SELIP : Nggak aja ! dia itu Cuma pura-pura menyembuhkan. Lha wong yang kesurupan waktu itu keponakannya sendiri, dan itu Cuma bohong-bohongan, dia itu Cuma akting menyembuhkan, dan ponakannya pura-pura kesurupan.
017. GEMPIL : Tetapi mantra-mantra dan rapalannya mantep lho!
018. SELIP : Ngapusi, Bohong ! itu Cuma ngawur.
019. ATI : Lha wong saya lihat sendiri kok.
020. LIK GANDUL : Alah... malah cerigis. Sudah tho sekarang panggil mabh karto.
021. GEMPIL : Aku tetep nggak setuju kalau mbah karto, Orang nya sudaH pikun. Lik minah saja.
022. ATI : Dasar Wong ngeyel ! Sudah dibilang minah itu dukun bayi ! sudah. Aku aku pergi panggil mbah karto.(HENDAK PERGI)
023. LIK GANDUL : Sa’karebmu ! aku pergi panggil lik minah ! (HENDAK PERGI)
024. GAGE : Cukup ! temannya sakit malah ribut diskusi soal dukun.
025. LIK GANDUL, ATI : Tetapi kita harus panggil dukun.
026. JAMBUL : (TERIAK LEBIH KERAS) Aku tidak kesurupan. Aduh jantungku, otakku, kupingku, tanganku, semua tambah sakit.
027. GAGE : Ayo sekarang kita bawa saja ke dokter !
028. JAMBUL : Jangan ! nggak usah ke dokter. Terlalu mahal harganya... biarlah kutanggung sakit ini, tetapi jangan ke dokter.
029. LIK GANDUL : Memang kalau akan pergi kedokter, kita akan bayar pakai apa? Pakai entut ? Dokter itu hanya tempatnya orang-orang kaya saja, orang-orang yang berduit. Menjual gundulmu-pun tak akan cukup untuk ke dokter. Sudah aku panggilkan mbah karto dukun saja.
030. ATI : (KEPADA ORANG 2) sok sugih kamu, Kita ini bukan siapa-siapa. Nggak bakalan ada yang mau nggratisin kita ke dokter. Meskipun kemarin ada yang koar-koar pengobatan gratis. Sudah sekarang yang pasti-pasti saja, aku panggilkan lik minah.
031. SELIP : Diskusi maneh. Sudah tho, pokoknya bagaimana sekarang, kawan kita cepat sembuh, dan kita lekas bekerja lagi. Ora obah, ora mamah. Kalau kita nggak kerja mau makan apa kita.
ORANG SAKIT MENGERANG SEMAKIN KERAS KARENA SEMAKIN KESAKITAN, ORANG ORANG SEMAKIN BINGUNG HENDAK MELAKUKAN APA. HINGGA PADA AKHIR DATANG SESEORANG (PRANTORO) YANG BERPAKAIAN AGAK BERSIH DATANG MEMBANTU.
032. PRANTORO : Walah... walah gusti Allah, ada apa ini, ada apa kok ribut banget. Mas-mas, mbak-mbak ada apa ini.... ? apa butuh pertolongan ?
033. SELIP : Wah Kami betul-betul kewalahan mas, Kawan saya ini sakit luar biasa, tetapi kami tak dapat berbuat apa-apa.
034. GAGE : Mau kami bawa ke dokter, tetapi kami tak punya biaya, sebab katanya dokter hanyalah tempat orang kaya.
035. ATI : Sudah akan kami usahakan memanggil dukun, tetapi kata dia tidak kesurupan.
036. SELIP : Dengan segala kerendahan diri, dengan tidak menjajikan imbalan apa-apa, kami hany abisa berharap, dan memohon barangkali saudara dapat membantu kawan kami ini.
037. PRANTORO : Gampang, jangan kuatir. Sebelum kita bersaudara lebih jauh. Perkenalkan, nama saya Prantoro, kebetulan saya sedikit memiliki ilmu pengobatan, bersukur sekali saya pernah dapat anugerah, di percaya untuk berguru pada seorang tabib dari China, sehingga ya beginilah saya yang memiliki sedikit kelebihan tentang pengobatan. Dan masalah biaya jangan dipersoalkan. Pesan dari guru saya, dalam mengobati seseorang, janganlah mengharap imbalan.
038. ORANG-ORANG : Terima kasih..
039. LIK GANDUL : Wah andaikan semua dokter juga bisa berbuat seperti itu....
040. PRANTORO : Sekarang coba kuperiksa, barangkali cocok dengan gaya penyembuhan saya.
KEMUDIAN PRANTORO MEMERIKSA ORANG SAKIT, MENGANALISA DAN MEMBERI OBAT. DAN “AJAIB” OARANG SAKIT LANGSUNG SEMBUH TOTAL.
041. JAMBUL : Wah ajaib, sembuh total. Saya sekarang tidak merasakan sakit apapun. (KEPADA PRANTORO) terima kasih mas, terima kasih banget.
042. ORANG ORANG : Terima kasih, terima kasih.
043. PRANTORO : Sudah.. jangan berlebihan begitu, ini hanya pertolongan kecil.
044. ORANG ORANG : Tetapi tetep terima kasih, terima kasih.
045. PRANTORO : Iya, iya..., sekarang lebih baik saudara-saudara kembali bekerja, janganlah buang-buang waktu hanya untuk mengucapkan terima kasih. Saya cukup senang kok membantu saudara-saudara.
046. ORANG ORANG : Baik, terima kasih, terima kasih.
ORANG ORANG LORONG MULAI BERANGKAT BEKERJA MENINGGALKAN RUMAH LORONG MEREKA.
PRANTORO YANG SEBELUMNYA TAMPAK HALUS BUDI, LEMAH LEMBUT, MULAI TAMPAK SIFAT LICIKNYA.
047. PRANTORO : Dasar orang-orang goblog, kena tepu prantoro kalian. Prantoro dilawan.
KEMUDIAN PRANTORO MEMANGGIL DUA ORANG : PAK PENGEMBANG DAN AJUDANNYA.
048. PRANTORO : Bagaimana ? Gampangkan?
049. PAK PENGEMBANG : Beres ?
050. PRANTORO : Beris ! Siapa dulu ? Prantoro.... Menyelesaikan masalah tanpa masalah, tidak perlu susah-susah datanglah berkah.
051. PAK PENGEMBANG : Bagus... bagus.... Bagus.
052. AJUDAN : Bagus... bagus... bagus... Bagus juga pak.
053. PRANTORO : Inilah yang namanya politik balas budi. Jadi bapak pengembang yang terhormat, perlu bapak ketahui bahwa untuk rencana pepmbebasan tanah lorong ini, saya telah membikin skenario politik balas budi ini. Adapun skenarionya adalah: adegan satu: Sengaja saya sebarkan virus penyakit di daerah lorong ini, yang tentu saja sudah saya siapkan penawarnya. Sejak awal saya yakin kok, kalau orang orang lorong pasti kesulitan dalam pengobatan. Mau ke dokter nggak punya uang, mau ke dukun pasti juga tidak dapat menyembuhkan. Nah pada saat yang tepat itulah, sang Prantoro datang sebagai pahlawan penyembuan. Dengan begitu orang-orang itu akan sangat berterima kasih kepada saya sebagai dewa mereka, dan sekarang tinggal tunggu balas jasa meraka yang telah menganggap saya sebagai pahlawan.
054. PAK PENGEMBANG : Sip. Indah. Top. Skenario penggusuran tanah rancanganmu memnag sip. Seindah tempat tamasya yang hendak kita bangun disini, dan sengetop, ketenaran kita kelah. SIP. INDAH. TOP.
055. AJUDAN : Sip. Indah. Top. Bagus juga pak.
056. PRANTORO : Dan sekarang kita akan memainkan adegan dua, dari lima adegan yang telah saya persiapkan.
057. PAK PENGEMBANG : Adegan dua, adegan apa itu ? saya nurut saja, yang penting aku bisa dapat tanah murah di sini.
058. AJUDAN : Adegan dua ? Bagus juga pak.
059. PAK PENGEMBANG : Adegan dua... ayo ceritakan skenariomu, aku sudah tak tahan menunggu. Apkah adegan ini aku perlu bermain ? Aku nurut saja.
060. AJUDAN : Nurut saja Pak ? Bagus juga.
061. PRANTORO : Adegan dua adega pemilu...
062. PAK PENGEMBANG : Pemilihan umum maksudmu ?
063. PRANTORO : Bukan. Pemili adalah pertemuan milik umum. Pada adegan ini bapak sudah mulai jadi aktor. Kita bikin pertemuan antara bapak dengan warga. Sementara itu karna warga di sini telah menganggap saya sebagai pahlawan, warga akan saya provokasi untuk menerima kehadiran bapak. Dan kita yakinkan pada warga bahwa bapak datang dengan maksud mulia.
064. PAK PENGEMBANG : Setuju... setuju... Bagaimana ajudan ?
065. AJUDAN : Bagus juga kalau setuju.
066. PAK PENGEMBANG : Terus...? terus..? apa yang aku lakukan di pertemuan itu, langsung menawar tanah-tanah mereka ? langsung membelinya? Atau terus terang kita rampas saja?
067. PRANOTO : Yang perlu pak pengembang ingat. Bapak di sini sebagai aktor, “AKTOR”. Jadi bapak di sini harus akting, “AKTING”. Pura-pura saja bapak akan membeli dengan harga standar bahkan harga tinggi, kemudian akan membangun kawasan ini sebagai tempat relkreasi yang indah yang akan membuat harum nama bangsa. Kalau atas nama bangsa mereka pasti percaya pak. Kemudian Bapak janjikan mereka pekerjaan yang layak...
068. PAK PENGMBANG :Wah.. wah.. apa nggak rugi aku nanti. Membeli tanah dengan harga standar, plus mempekerjakan mereka, padahal mereka tak punya skill apa-apa.... rugi... rugi... bisa melebihi budget....
069. PRANTORO : Ingat pak, ingat.... ini hanya akting, bapak hanya aktor. Pura-pura saja pak.
070. AJUDAN : Pura-pura, bagus juga.
071. PAK PENGEMBANG : Oh iya. Lupa aku. Aktor. Akting , pura-pura....(KEMUDIAN TERTAWA GEMBIRA, BANGGA).
072. PRANTORO : Nah perkara kita beli dengan harga berapa, kita pekerjakan mereka, atau kita perbudak mereka, atau kita injak-injak gundul mereka, itu nanti kita atur di adegan tiga pak.
073. PAK PENGEMBANG : Oh iya... masih ada adegan tiga.... maaf, sori... sudah kebelet kaya raya, sudah kebelet sukses jadi maunya cepet saja....
074. AJUDAN : Adegan satu, adegan dua, adegan tiga ? boleh juga.
075. PRANTORO : Nah, saya kira adegan satu sudah cukup, silahkan bapak kondur, cuci tangan terus makan, cuci kaki lantas sleeping beauty. Dan nantikan saja kabar selanjutnya. Selamat jalan.
PAK PENGEMBANG DAN AJUDANNYA SEGERA MENINGGALKAN TEMPAT KUMUH TERSEBUT. DENGAN SENYUM BANGGA AKAN KEPINTARAN DAN KELICIKANNYA, PRANTORO JUGA MENINGGALKAN TEMPAT TERSEBUT.
SETELAH PRANTORO PERGI, TERNYATA ADA SALAH SEORANG PENGHUNI YANG MENDENGAR DAN MELIHAT SENDIRI AKAL LICIK PRANTORO, PENGHUNI ITU BERNAMA SELIP, MUNCUL DARI SALAH SATU SUDUT KAWASAN KUMUH DAN KOTOR ITU.
076. SELIP : Kurang ajar, dasar begundal , sundal, kadal mangan sandal. Mentang mentang kami ini orang bodho lantas dibodohi. Kurang asem. Maling, ngaku pulisi. Iblis ngaku malaikat.
BAGIAN 2
HARI TELAH PETANG, MALAM TELAH MENJELANG. ORANG ORANG LORONGPUN TELAH KEMBALI PULANG KE ISTANA KUMUH MEREKA. MENSKIPUN DALAH KEADAAN LELAH SEHARIAN BEKERJA, MEREKA MASIH MEMILIKI RASA MARAH KETIKA SELIP MENCERITAKAN KEJADIAN SESUNGGUHNYA YANG TELAH DI SKENARIO OLEH PRANTORO. ORANG ORANG ITUPUN MENGADAKAN REMBUG KERE .
077. SELIP : Wah kalau itu sudah sangat terlalu dan bajigur sekali. Kita ajar saja iblis itu.
078. GAGE : Lha tiwas saya itu sudah percaya je ! sudah saya kira tabib beneran, omongannya meyakinkan, prejengannya wangun, bodinya juga apik tenan.
079. GEMPIL : Gombal, gombal tenan, gombal mukiyo tenan, iblis, iblis tenan. Huh.. pingin aku remas-remas mukanya. Mentang mentang kita ini orang miskin, trus diperlakukan seenaknya.
080. JAMBUL : Saya yang lebih kecewa lagi, masak nyawa orang di permainkan, diatur oleh yang kuat, dipenggawe, memang kita ini boneka, saya nggak terima, akan saya lawan, saya hajar mati-matian.
081. LIK GANDUL : Tunggu dulu, sabar, sareh... marah ya marah, tapi jangan gedubruh gedubrah waton sasak sana sasak sini. Nesu bolah boleh saja tetapi jangan grusa grusu, aja kesusu.
082. JAMBUL : Lha piye saya harus sabar, saya yang kena tipu, saya yang dipermainkan.
083. LIK GANDUL : Kita semua kena tipu, kita semua yang di permainkan.
084. JAMBUL : Tetapi kan aku sing ketiban kuman, kena sakitnya, sakit yang sesungguhnya di sebarkan oleh si brengsek, tempe bosok itu. Emosi aku, marah tenan iki aku.
085. ATI : Marah ya marah, tetapi mbok ya dengarkan dulu omongan lik Gandul ini. Siapa tahu dia punya cara jitu untuk meluapkan amarahmu.
086. SELIP : Iya mbul, Bener apa yang dikatakan adimu ini, kita berkumpul disini kan untuk membicarakan langkah selanjutnya, tidak waton emosi begitu.
087. JAMBUL : Lha marah je, bebas tho.
088. LIK GANDUL : bebas gundulmu, mbul... jambul ! hei mbul, meski kita marah, kita emosi, nesu, kita sebagai orang yang berbudaya, orang yang punya sopan santun, punya adat yang adiluhung, kita ini masih punya aturan, masih memiliki tata krama tidak waton bebas.
089. JAMBUL : oalah entut lik !. orang bebas kok dilarang, lha wong mereka saja, orang-orang yang selalu berbudaya, juga setiap hari dengan bebasnya menginjak-nginjak harga diri kita. Mereka yang ngakunya pejabat negara, pemegang kekuasaan, pemegang tampuk pemerintahan, juga dengan bebas membiarkan kita miskin, terinjak-injak, dan banyak orang lagi yang dengan bebas dan cueknya melupakan kita, anak-anak kita. Mereka rebutan uang, sementara orang seperti kita kelaparan. Tai kucing, tai kucing semua. Gitu kok kita nggak boleh bebas.
090. LIK GANDUL : Oalah Gusti Allah pangeran. Kok bisa-bisanya kamu bicara seperti itu. Seperti bukan orang beriman saja.
091. SELIP : Sudah ! Sudah ! lha kok omongannya malah ngalor ngidul ra karuan. Kita kumpul di sini itu kan untuk bicarakan nasib kita.
092. ATI : Iya sekarang lik Gandul biar ngomong dulu.
093. LIK GANDUL : Kita di sini memang marah, tidak terima dipermainkan, diperlakukan tidak sewajarnya. Tetapi kita kan tidak tahu maksud apa orang pagi tadi mempermainkan kita, kita tidak tahu tipuan apa yang sesungguhnya.
094. SELIP : Benar Lik, kita tidak tahu udang di balik batunya.
095. LIK GANDUL : Nah ! untuk itu, kita telusuri saja dulu maksud-maksud itu. Dan ingat jaman seperti sekarang ini jangan grusa grusu pakai okol, tapi harus pakai akal. Kalau hanya pakai okol kita pasti mudah di perdaya. Gampang di adu domba.
096. SELIP : Bener Lik, saya setuju.
097. ATI : Terus yang akan kita lakukan apa lik ?
098. LIK GANDUL : Menunggu.
099. JAMBUL : Alah.. kesuwen lik, dan nggak jelas nunggu apa?
100. ATI : Kita nunggu apa lik ?
101. GEMPIL : O.. cah goblok, gitu aja nanya.
102. GAGE : Memang kita nunggu apa pil ?
103. GEMPIL : Ya jelas nunggu berubah jadi kaya, kita bisa beli senjata, dan kita rompolkan gigi mereka.
104. GAGE : wih kok sadis banget pil.
105. ATI : Hu.. dasar gemil, otak kamu itu juga gempil.
106. LIK GANDUL : Kita tunggu kedatangannya.
107. ORANG ORANG : Siapa lik ?
108. LIK GANDUL : Ya orang yang tadi pagi ngadalin kita.
109. JAMBUL : Lha kok kamu yakin, justru dia yang akan datang.
110. LIK GANDUL : Lha sudah jelas-jelas kelihatan tho?
111. GEMPIL : Mana lik, sebelah mana, saya kok nggak cetho ?
112. ATI : Oalah Pil, mbok ya nggak usah reko-reko , kecuali utek mata kamu itu juga sudah gempil, sekarang lebih baik kamu diam dan manut saja.
113. GEMPIL : moh ! nggak demokratis !
114. ATI : lha kamu itu kalau diajak omongan nggak pernah gathuk.
115. GAGE : Jaka sembung bawa terompet. Gak nyambung monyet !
116. GEMPIL : cah cilik melu-melu, tak keplak kowe!
117. GAGE : Lho sadistis lagi !
118. LIK GANDUL : Yang kelihatan itu, geliat gelagatnya kadal satu itu. Sudah jelas jelas tadi pagi, kata Selip dia menemui cukong tanah, terus pura-pura dia menolong kita. Biar kita berterima kasih dan manut dengan semua omongan dia.
119. GEMPIL : Nah kalau dalam sejarah, ketika saya sekolah sampai kelas lima SD dulu, perilaku semacam itu namanya ‘politik balas budi’.
120. ATI : kok ndengaren kowe pinter pil ?
121. LIK GANDUL : Mereka ingin bermain, kita ikuti permainnya. Pura-pura saja kita tidak tahu apa-apa, bersikaplah biasa-biasa saja.
122. YANG LAIN : Akur lik.
123. PRANTORO : (TIBA-TIBA MUNCUL) Selamat malam saudara-saudaraku tercinta.
124. LIK GANDUL : Oh selamat malam, silahkan.. silahkan mampir....
125. PRANTORO : Terima kasih, kebetulan saya lewat, dan saya sempatkan mampir. Bagaimana yang sakit pagi tadi, sudah sembuh ?
126. JAMBUL : Sukurlah mas, tidak kambuh lagi.
127. PRANTORO : YA baguslah...
128. LIK GANDUL : Maaf mas... ?
129. PRANTORO : Prantoro, Pran-to-ro, p-r-a-n-t-o-r-o.
130. GEMPIL : Prantoro iti calo ya mas...
131. ATI : Hus.
132. PRANTORO : oh bukan, bukan calo, calo itu, perantara, lain dengan prantoro.
133. LIK GANDUL : Ya maaf mas, tadi pagi kami baru sempat berucap terima kasih, namun belum sempat mengetahui nama mas.
134. PRANTORO : Oh tidak apa, toh apa sih artinya sebuah nama.
135. ATI : Lah penting lho mas, nama itu doa, seperti saya , nama saya ati biar saya itu jadi orang yang ati-ati, setiti, juga welas asih.
136. PRANTORO : Yah mungkin begitu juga baik.
137. LIK GANDUL : Lha kok njanur gunung di sempatkan mampir segala, ada yang bisa kami bantu, sebagai rasa ucapan terima kasih akan kami bantu semampunya.
138. JAMBUL : Ya, kalau cuma bantuan tenaga, kami masih bisa kok mas.
139. PRANTORO : Bukan, kami kesini bukan bermaksud akan merepotkan saudara-saudara di sini kok. Saya hanya ingin berkunjung, silaturahmi. Hanya itu, tidak lebih. (TIBA-TIBA SUARA PONSEL PRANTORO BERBUNYI, DAN DIA MENJAWAB PANGGILAN TERSEBUT) Oh.. ya... sudah.. beres.. pasti beres kalau ditangan saya, bapak gak usah kuatir.... tidak lama.... paling dalam hitungan hari... iya... terima kasih pak.
140. GEMPIL : Yang di bawa itu namanya TG
141. GAGE : Apa itu ?
142. GEMPIL : Tilpun Gembol.
143. SELIP : Hus Ngaco... !
144. PRANTORO : Maaf, sahabat bisnis saya sedang membutuhkan keahlian saya. Oh ya pak, saya lewat kampung sini, sebenarnya sedang mencari alamat?
145. GEMPIL : Alamatnya mana mas, sebagai pemulung yang baik dan benar, saya hapal semua kok daerah disini.
146. SELIP : Halah Pil sok idih.
147. PRANTORO : Saya sedang mencari desa yang bernama LOH IJO. Mungkin ada yang tahu, saya sudah mondar mandir kesitu kesini kok tidak ada papan nama desa LOH IJO.
148. LIK GANDUL : Yah kebetulan, desa kami ini namanya LOH IJO, dan kami memang tidak memasang papan nama, karena memang kecuali kami miskin, toh juga tida ada yang bakal berkepentingan dengan orang-orang semacam kami.
149. PRANTOR : Oh, kebetulan sekali, kebeulan yang betul-betul tak terduga.
150. LIK GANDUL : Memang ada kepentingan apa mas?
151. PRANTORO : Yah kebetulan ada seorang investor yang tertarik untuk bekerjasama dengan masyarakat desa LOH IJO ini, dan beliau investor ini sangat ingin bertatap muka dan berdiskusi dengan warga di sini.
152. LIK GANDUL : Kebetulan mas, kami ini cukup bisa mewakili masyarakat desa LOH IJO ini, Saya sendiri dipercaya untuk koordinir daerah tengah, Jambul kawan saya yang tadi pagi sakit ini, mengkoordinir kawan-kawan pemulung di selatan, Ati di barat, Selip di timur, jadi bertemu dengan kami,cukup bisa mewakili.
153. PRANTORO : walah-walah, saya ini kok seperti ketiban ndaru berturut-turut. Lha kalau begitu langsung saja kita bahas. Kebetulan saya yang di percaya untuk penjadwalan.
154. LIK GANDUL : kalau pertemuan itu bermaksud baik untuk kepentingan semua, ya bolah boleh saja.
155. PRANTORO : Bagaimana kalo besok?
156. ORANG ORANG : Besok ?
157. PRANTORO : Ya lebih cepat lebih baik. Tetapi jangan kuatir, uang penghasilan besok akan kami ganti dua kali lipat, jadi saudara-saudara tidak perlu bekerja dulu.
158. SELIP : Kalau begitu sih oka oke saja.
159. LIK GANDUL : Ya kalau memang maunya demikian, tidak masalah.
160. PRANTORO : Bagus, bagus. Besok jam 9 pagi ya ? Dan saya akan secepatnya mengabari pak investor itu, kalau begitu saya pamit dulu, terima kasih, permisi.(MENINGGALKAN PERKAMPUNGAN ITU) Adegan selanjutnya segera di mulai, skenario berjalan mulus. (PERGI)
161. LIK GANDUL : Nah benarkan? Pasti ada maunya.
162. ATI : Pura-pura saja cari alamat, pura-pura ini,itu, ah.. gombal.
163. GEMPIL : Berarti udangnya sudah muncul dari balik batu.
164. JAMBUL : Terus sekarang bagaimana lik?
165. LIK GANDUL : Kita ikuti permainannya, mari kita susun di dalam saja, ntar malah ada mata-matanya.
KEMUDIAN ORANG ORANG LORONG ITU, MASUK DALAM SALAH SATU GUBUK YANG ADA DI SITU.
BAGIAN 3
PAGI HARI, ORANG ORANG LORONG TELAH BERSIAP MENGADAKAN PERTEMUAN DENGAN ROMBONGAN INVESTOR.
ROMBONGANPUN TIBA.
167. LIK GANDUL : Monggo, silahkan, silahkan duduk, tetapi maaf apa adanya, sebab kami memang tidak memiliki tempat duduk yang layak.
168. PAK PENGEMBANG : Tidak apa-apa, kami kesini memang dengan konsep merakyat, jadi duduk di kursi darurat, tidak masalah.
169. AJUDAN : Benar pak, tidak masalah.
170. GEMPIL : (KEPADA KAWANNYA) alah bapak ini seperti pejabat saja, kalau pas perkenanalan sok merakyat, kalau sudah jadi pejabat, nggak bakalan kenal rakyat, melirikpun kagak bakalan.
171. ATI : Hus.
172. PAK PENGEMBANG : Kami kesini tidak akan sok, sok diatas, sok kuasa, sok kaya, sok-sokan lah.
173. AJUDAN : Benar pak, Sok-sokan.
174. PAK PENGEMBANG : Kami kesini kan bertujuan mengajak kerja sama, jadi posisi kita sama.
175. LIK GANDUL : Terima kasih kalau memang bapak sekalian berkehendak demikian. Mungkin bisa langsung kepada pokok persoalan.
176. PAK PENGEMBANG : Begitu lebih bagus. Jadi kami engaja ke sini untuk kerja sama, adapun kerja sama yang kami tawarkan adalah pengelolaan sebuah tempat pesiar yang elok nan indah dipandang. Tim sukses kami telah berembuk berbulan-bulan tentang proyek ini, yakni akan membangun sebuah taman pesiar yang termegah sepanjang sejarah. Dan setelah lirik sana lirik sini, tanah disinilah yang cocok dengan proyek kami itu. Untuk itu kami akan bekerja sama dengan saudara saudara.
177. LIK GANDUL : Teru kerja sama yang di ingini ?
178. PAK PENGEMBANG : kami akan beli semua tanah di sini dengan harga yang cocok, kami tidak akan menggusur, tetapi kami akan menempatkan penduduk disini sebagai bagian dari pesiar itu, akan kami rombak, renovasi perkampungan di sini menjadi perkampungan wisata.
179. ATI : Lantas kami di situ harus bagaimana?
180. GEMPIL : Apa akan di jadikan pajangan “pameran orang miskin” mungkin ?
181. PAK PENGEMBANG : Bukan, bukan pajangan, tetapi sebagai pekerja.
182. SELIP : Sebagai pemungut sampah seperti pekerjaan kami sekarang ini?
183. PAK PENGEMBANG : Bukan, bukan. Seamua akan kami pekerjakan selayaknya karyawan.
184. GAGE : tetapi kami kan tidak memiliki pengalaman dan keahlian?
185. PAK PENGEMBANG : Gampang, gampang itu bisa diatur, bekerja itu tidak membutuhkan keahlian kok, yang penting koneksi. Kami akan atur sedemikian rupa sehingga....
186. JAMBUL : (SUDAH TIDAK KUAT MENAHAN AMARAHNYA SEJAK TADI) sudahlah pak tidak usah basi basi, tidak usah ekting di depan kami, (MARAH) kami semua disini sudah tahu akal bulus,rencana busuk kalian. Kami sudah mendengar semua tentang rencana penggusuran ini. Jadi bapak ngggak usah basa basi, kerja sama segala, tai kucing. Kami disini tidak akan setuju apapun rencana bapak, hanya tipu-tipu belaka, jadi karyawan, jadi budak sama saja, mau di beli, mau di rampas, mau diambil, dan apapun bahasanya, tetap saja kami ini akan di gusur, di singkirkan, di tendang. Dan saya tau bajingan mana yang turut berperan.
187. PAK PENGEMBANG : Lho Pran, kok mereka tau rencana kita ?
188. PRANOTO : Saya juga tidak tahu pak, aduh kenapa jadi melenceng dari skenario?
189. JAMBUL : Bapak heran kenapa kami tahu rencana busuk bapak? Karena salah satu warga kami telah mendengar, melihat dengan mata kepala sendiri rembugan bapak dengan saudara prantoro ini.
190. PAK PENGEMBANG : Lho Pran....
191. JAMBUL : Prantoro, kamu memang begundal, yang tega dengan sesama, dan orang seperti kamu ini pantas mati !
TERJADI KEGADUHAN, JAMBUL TIBA-TIBA MENYERANG PRANTORO.
192. JAMBUL : (SAMBIL MEMUKULI PRANTORO) Ini biang keladinya.
SUASANASEMAKIN GADUH, SEBAGIAN ORANG ORANG PUN MEMUKULI PRANTORO, PAK PENGEMBANG DAN AJUDANNYA SIBUK MENYELAMATKAN DIRI.
193. PAK PENGEMBANG : Polisi, sekuriti, tentara, FBI, CIA, KGB, PBB, BKIA atau siapa saja, tolong ada keributan. Ayo panggil mereka semua.
194. AJUDAN : Ya pak saya akan panggil semua itu pak. (SEGERA PERGI)
ORANG ORANG SEMAKIN GANAS MEMUKULI PRANTORO DAN MENGEJAR AJUDAN, PAK PENGEMBANG YANG SELALU BERHASIL LOLOS.
AKHIRNYA BEBERAPA ORANG BERPAKAIAN SERAGAMPUN DENGAN SANGAT ANARKIS MELUMPUHKAN PARA PEMBANGKANG. ORANG ORANG LORONGPUN TETAP SAJA MENJADI ORANG KALAH.
195. ORANG BERSERAGAM : Mereka sudah dilumpuhkan, laporan selesai.
196. PAK PENGEMBANG : Ya. Bungkam dan Ikat mereka semua, masukkan dalam gubuk mereka masing-masing dan bakar perkampungan ini. Biar terkesan kebakaran.
197. ORANG BERSERAGAM : Siap pak.
198. AJUDAN : Prantoro bagaimana pak ?
199. PAK PENGEMBANG : Biar saja mati membusuk dengan lukanya, biar sekalian jadi makanan anjing liar.
ORANG ORANG LORONG, TERBUNGKAM, TERIKAT, DIBAKAR SEKALIAN RUMAHNYA.
200. LAGU KALAH ORANG ORANG LORONG:
Orang orang lemah
Orang orang kalah
Tak mungkin kami melawan
Hanya ajal yang terjelang
Orang orang lorong
Tetap saja kosong
Tak ada harapan
Tak pernah ada kepastian
Kami yang kalah
Kami yang tersingkir
Kami yang selalu terpinggir
Selesai
Puthut Buchori 2004
Didedikasikan untuk saudara-saudaraku yang selalu digusur dari kemajuan jaman, disingkirkan dengan alasan apapun.
[mementaskan naskah drama ini harus ada pemberitahuan kepada penulis]
Tentang Puthut Buchori
Nama Lengkap Puthut Buchori Ali Marsono, Kelahiran 6 September 1971. Alumni Jurusan teater ISI Yogyakarta, Selain Menjadi Direktur Artistik Bandungbondowoso ready on stage, Juga direktur Artistik di Teater MASA Jokjakarta, Perfomance Artist Post Punk Perfomance, dan bekerja secara freelance pada beberapa kelompok kesenian. Saat ini aktif menjadi konseptor dan pemimpin redaksi Underground Buletin Sastra ASK [Ajar Sastra Kulonprogo]. Berteater sejak kelas satu SMP di teater JIWA Yogyakarta pimpinan Agung Waskito ER. Telah Berproses teater lebih dari 100 repertoar, baik sebagai sutradara, pemain, tata artistik maupun tata lampu. Pernah membina kelompok teater, antara lain : Teater MAN Yogyakarta 1, Teater Puspanegara SMUN 5 Yogyakarta, SMUN 1 Depok Sleman Yogyakarta, Teater Cassello SMUN 1 Wates Kulonprogo Yogyakarta, Teater Thinthing Wates Kulonprogo Yogyakarta, SMU Kolese GONZAGA Jakarta (event tertentu), Kolese LOYOLA Semarang Jateng (event Tertentu). Teater Sangkar UPN Veteran Yogyakarta, Teater RAI ISI Yogyakarta, Teater DOEA KATA ISI Yogyakarta, dan saat ini sedang merintis kelompok teater di Wates Kulonprogo Yogyakarta. Tinggal di Gowongan Kidul Jt3/412 Yogyakarta, HP. 08179417613, e-mail:masa_teater@yahoo.com
Diposting oleh
Lukman Riyadi
di
02.26
0
komentar
Naskah SANDIWARA ANAK-ANAK - SANG PEMAHAT
SANDIWARA ANAK-ANAK
SANG PEMAHAT
Oleh: Arswendo Atmowiloto
Naskah sandiwara ini pernah memenangkan hadiah pada sayembara penulisan naskah sandiwara anak-anak, yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta, 1976. Hak cipta ada pada pengarang. Mementaskan atau memperbanyak naskah harus mendapat ijin tertulis dari pengarangnya, d/a Majalah Hai, Palmerah Selatan 22 Jakarta Barat.
DENGAN PELAKU
1. AMAT : Berusia 11 tahun.
2. PAK AMAT : Ayah Amat, seperti juga setiap penduduk Kali Putih pekerjaan membuat patung.
3. BU AMAT : Ibu Amat.
4. YANTI : Kakak Amat. Sejak kecil ikut keluarga lain.
5. SUROTO : Adik Amat.
6. PAK BROTO : Guru kelas Amat.
7. PAK INDRA : Kepala sekolah yang baru diangkat.
8. BU INDRA : Istri Pak Indra. Lincah dan trampil, terutama kalau bicara.
9. PAK LURAH :
10. PAK CAMAT :
11. PAK BUPATI :
12. PAK GUBERNUR :
13. MANOWO : Teman-teman Amat.
14. KRISTANTO :
15. TEDI :
16. PERMADI :
BABAK I
(DESA KALI PUTIH, DI LERENG GUNUNG MERAPI SEBUAH RUMAH SEDERHANA. MILIK PAK AMAT, SEPERANGKAT MEJA TAMU YANG BERISI MAKANAN KECIL DAN GELAS PENUH PADA TIAP-TIAP SUDUT YANG DITUNGGUI KURSI KOSONG. PERABOT RUANGAN TIDAK ADA YANG PANTAS DISEBUTKAN. SELAIN KESEDERHANAAN DALAM KESELURUHANNYA. SATU-SATUNYA DAN ITU BERARTI SELURUHNYA. HANYALAH BEBERAPA BONGKAH BATU. SEBAGIAN SUDAH ADA YANG DIBENTUK DALAM WUJUDNYA. SEPERTI CALON PATUNG PANGERAN DIPONEGORO, CALON PATUNG JENDRAL SUDIRMAN, ATAUPUN BEBERAPA BENTUK PATUNG YANG BELUM BISA DITANDAI. SAMPAI DENGAN BATU NISAN BELAKA. AMAT MASUK, TERHERAN-HERAN MELIHAT SUASANA RUMAHNYA. MENGAMATI KUE-KUE DI MEJA DAN BERSENGUT. IA BARU SAJA DATANG DARI MAIN BOLA. KERINGAT DAN AIR HUJAN BERSATU DI DADANYA YANG TELANJANG. AMAT MASIH CELINGUKAN ANTARA MENGAMBIL KUE DAN SEGAN KETIKA MELIHAT IBUNYA MUNCUL).
IBU AMAT : Ssstttt.
(AMAT TERKEJUT)
AMAT : Apa? Pakai ssttt segala? Kue itu untuk siapa kalau bukan untukku? Anak ibu berapa jumlahnya?
(CARA AMAT BERBICARA MENIRU KALAU IBUNYA TENGAH MENGOMEL)
IBU AMAT : Duduk yang baik. Seharian aku mencarimu. (KINI AMAT MULAI LEBIH BERANI UNTUK MENGAMBIL KUE)
IBU AMAT : Sssttt. Pak Broto kemari. (TANGAN AMAT SUDAH DI ATAS KUE. TAPI TERTARIK TERHENTI DENGAN MENDADAK. KEPALANYA MENOLEH SEAKAN INGIN MENANGKAP SUARA IBUNYA LEBIH YAKIN)
IBU AMAT : Pak Broto, guru kelasmu.
AMAT : (SETENGAH KURANG PERCAYA). Mana? Ada persoalan apa?
IBU AMAT : Mencarimu. Itulah yang mengejutkan.
AMAT : Wah!
IBU AMAT : Soal apa?
(IBU AMAT TERDIAM. IBUNYA KUATIR TIBA-TIBA PAK BROTO SUDAH MUNCUL. BERSAMA DENGAN PAK AMAT. PAK AMAT NAMPAK SANGAT MENGHORMAT, TAKUT DAN SETENGAH SEGAN. PAK BROTO TERSENYUM MEMANDANG KEARAH AMAT).
PAK BROTO : Dari mana?
(AMAT TERSENYUM AGAK HERAN).
IBU AMAT : Masak diam saja. Ditanya Pak Guru kok diam saja. Nanti disangka anak bisu.
AMAT : (MASIH TERSENYUM)
Ah, pak guru sudah tahu, bu.hujan begini kan biasa main bola. Sudah lama, Pak?
IBU AMAT : Sudah sejak tadi.
PAK BROTO : Tadi kami melihat-lihat patung yang kamu buat. Baru saja diantarkan bapakmu.
(MEREKA DUDUK. IBU AMAT MEMPERSILAKAN MINUM. KEMUDIAN MENARIK TANGAN AMAT).
IBU AMAT : Pakai baju dulu, nanti masuk angin.
AMAT : Dari dulu tidak pernah masuk angina kalau tanpa baju.
IBU AMAT : Ada Pak Guru. Tidak sopan.
(IBU AMAT LANGSUNG MENDEKATI ANAKNYA. DAN MENARIK DAUN TELINGANYA. TIDAK SAKIT MEMANG, NAMUN AMAT SAMBIL MENGIKUTI TARIKAN IBU BERTERIAK SEAKAN KESAKITAN. AYAHNYA MELIHAT SAMBIL MENGGELENG-GELENGKAN KEPALANYA. SEMENTARA PAK BROTO HANYA TERSENYUM. AMAT MENGIKUTI IBUNYA YANG MENGAMBIL BAJU DAN MEMAKAINYA SEKALIGUS.
AMAT : Baju baru. Malu ah.
IBU AMAT : Diam dan menurut, seperti waktu kecil.
AMAT : Masih bau toko.
(SAMBIL MENCIUM LENGAN BAJU).
IBU AMAT : Kalau tidak mau pakai,
(SAMBIL BERUSAHA MELEPASKAN KEMBALI)
Lebih baik pakai gombal sobek saja.
AMAT : Kan yang malu nanti ibunya.
IBU AMAT : Manja amat. Kan ditunggu Pak Guru.
AMAT : Apa perlunya? Kenapa melihat patung-patung? Mau beli?
IBU AMAT : Ingin melihat hasil karyamu
AMAT : Itu tidak biasanya. Di sekolah tadi atau sejak aku sekolah tak pernah menanyakan. Heran!
IBU AMAT : Jangan-jangan karena kau lalai membayar uang sekolah.
AMAT : Soal itu salah ibu.
IBU AMAT : Jika begitu…..
(AMAT MENGANCINGKAN BAJUNYA SAMBIL BERJALAN KE DEPAN MENEMUI AYAHNYA DAN PAK BROTO YANG ASYIK BERBICARA).
PAK BROTO : Tadi ada berita dari Semarang. Bahwa patung yang kau pamerkan mendapat perhatian besar. Aku kemari ingin melihat mana patung karyamu yang lain.
AMAT : Tidak ada, Pak. Karya ayah lebih banyak.
PAK BROTO : Karyamu sendiri?
AMAT : Hanya yang di Semarang. Selama ini kan saya hanya membantu ayah saja.
PAK BROTO : Kalau membuat baru bisa?
AMAT : Bisa sekali.
PAK BROTO : Kapan bisa selesai?
AMAT : Seminggu, Pak
(AMAT MEMPERLIHATKAN PATUNG KECIL DARI BATU, MEMBENTUK GARUDA).
Yang seperti ini.
PAK BROTO : Kau boleh tidak masuk. Nanti aku yang mengatur waktu pelajaranmu. Baiklah besok kucarikan batu yang baik sebagai bahan.
PAK AMAT : Tak usah Pak Guru, disini banyak sekali.
PAK BROTO : Ongkosnya?
PAK AMAT : Tak usah, janggal nanti malahan.
PAK BROTO : Wah, bagaimana ini?
AMAT : Pak Guru terima jadi saja. Pak Guru ingin patung apa? Garuda atau banteng?
PAK BROTO : Saya hanya ingin menyimpan hasil karya murid saya. Banteng ya boleh, garuda lebih suka.
AMAT : Wah, Pak Guru bakal dapat banyak. Setiap murid kan bisa membuat patung.
PAK BROTO : Tidak dari semuanya. Memangnya mau dagang sendiri?
(SEMUA TERTAWA SENANG. MASIH ADA SEDIKIT PEMBICARAAN LAGI SEBELUM AKHIRNYA PAK BROTO PERMISI AKAN PULANG).
AMAT : Kok tergesa-gesa?
PAK BROTO : Sudah sejak tadi. Waktu kau masih main bola, kami sudah menghabiskan selusin kue.
(SETELAH BERJABAT TANGAN DENGAN PAK AMAT, DAN MENGANGGUK KE ARAH IBU AMAT. SERTA MENGELUS KEPALA AMAT, PAK BROTO PERGI. DIANTARKAN PAK AMAT SAMPAI PINTU. AMAT MELIHAT SEJURUS).
AMAT : Ada baiknya Pak Broto membayar.
IBU AMAT : Haasssshhhh.
AMAT : Bukankah….
IBU AMAT : Haashhh. Pak Guru belum jauuh benar.
(AMAT MENGANGGUK. BARU KEMUDIAN MAKAN KUE. AGAK BERLEBIHAN DAN TERGESA. SEHINGGA SULIT DITELAN).
IBU AMAT : Seperti kelaparan saja.
AMAT : Bukan seperti. Memang kelaparan. Habis kalau tidak ada tamu saya tak pernah diberi kue.
PAK AMAT : Sudahlah. Makan ya makan. Tidak usah banyak komentar.
AMAT : Habis ibu…
PAK AMAT : Sudah. Soal kue sudah. Habiskan kalau memang kuat perutmu.
AMAT : Ini baru ayah yang baik.
PAK AMAT : Ada yang lebih penting dari sekedar kue. Tadi Pak Broto datang. Dan itu tak biasa bagi kehidupan kita. Ternyata inti kedatangannya ingin melihat patung karya Amat yang lain. Berarti ada perhatian yang besar. Padahal pameran itu diadakan di Semarang.
AMAT : Khusus pameran kerajinan tangan anak-anak Sekolah Dasar seluruh Jawa Tengah.
PAK AMAT : Dan karyamu menarik perhatian. Berarti…
IBU AMAT : Tahun depan kau naik kelas.
AMAT : Berarti aku nanti malam boleh nonton Wayang Kulit.
PAK AMAT : Tunggu dulu…
AMAT : Boleh kan? Kalau Pak Guru saja memberi ijin untuk tidak mengikuti pelajaran, masak ayah melarang nonton Wayang Kulit. Hanya karena takut paginya terlambat sekolah.
PAK AMAT : Tunggu dulu. Berarti, kau harus makin sungguh-sungguh membuat patung.
AMAT : Boleh kan? Nonton Wayang?
IBU AMAT : Itulah kalau terlalu dimanja.
PAK AMAT : Siapa yang memanjakan? Kau atau aku?
AMAT : Tidak ada. Nonton Wayang Kulit saja tidak boleh. Kok dimanjakan. Kris boleh nonton. Manowo boleh nonton. Aku..
PAK AMAT : Boleh juga.
AMAT : Ini baru putusan jitu.
IBU AMAT : Khusus untuk malam nanti. Apa ceritanya?
AMAT : (MELEDEK) Mau ikut?
IBU AMAT : Kalau ayahmu boleh.
PAK AMAT : Boleh. Untuk malam ini saja.
AMAT & : Ini baru putusan yang jitu!
IBU AMAT (MEREKA TERTAWA LIRIH.. BAHAGIA. SUROTO MASUK. IA KEHERANAN MEMANDANG SEKELILING).
SUROTO : Semua kok tertawa.
AMAT : Aku mau nonton wayang kulit.
SUROTO : Aku ikut.
AMAT : Kau hanya pindah tempat tidur. Mengapa kemari?ingin main sepak bola lagi?
SUROTO : Bukan, tadi ada tamu.
AMAT : Sudah tahu.
SUROTO : Pak Guru…..
AMAT : Sudah tahu…
SUROTO : Pak kepala sekolah.
AMAT : Guru kelasku, bukan kepala sekolah.
SUROTO : Pak Indra.
AMAT : Pak Broto.
SUROTO : Itu masih di luar.
(TERDENGAR SUARA “ASSALAMUALAIKUM” DI LUAR).
SUROTO : Itu suara Indra.
AMAT : Ya, kepala sekolah yang baru. Meskipun jarang mendengar, suara itu sangat kami hapal.
IBU AMAT : Persoalan apa? Jangan-jangan…
AMAT : Ini bukan soal uang sekolah yang terlambat. Jelas.
PAK AMAT : Tunggu dulu…
(TERDENGAR SUARA “ASSALAMUALAIKUM” LAGI. YANG LEBIH KERAS).
AMAT : Tak salah lagi. Suaranya khas. Tak ada suara yang lebih ditakuti diseluruh sekolah kecuali dia.
IBU AMAT : Suaranya berwibawa.
(PAK AMAT KE DEPAN, LALU TERDENGAR PERCAKAPAN KECIL. MENYILAHKAN MASUK. PERKENALAN DIRI DAN SEBAGAINYA).
PAK INDRA : Apa kabar Amat?
(AMAT TERSIPU HINGGA PAK INDRA MENGULANGI LAGI).
AMAT : Kabarnya baik saja, Pak. Katanya ke Semarang?
PAK INDRA : Baru saja datang.
PAK AMAT : Mari, Pak duduk dulu.
IBU AMAT : Mari, Pak. Silahkan.
(SEMUA DUDUK. MENGAMBIL TEMPAT SEPERTI PAK BROTO. HANYA SAJA KALI INI TEMPAT DUDUK PAK BROTO DIGANTI PAK INDRA. SUASANANYA JUGA SAMA, PERBEDAANNYA KINI SUASANA MENGHORMATI. SUASANA YANG DIPENUHI RASA SEGAN. LEBIH BERLIPAT DAN MENEKAN. IBU AMAT MENGATUR KURSI DAN MENAMBAH YANG BARU. JUGA MINUMAN YANG BARU).
PAK INDRA : Dalam pameran karya anak-anak sekolah, kita menjadi nomer satu, karena patung Amat yang berjudul Adipati Karna mendapat hadiah utama. Kau telah membuat kami semua bangga.
(SETELAH MINUM SEJENAK).
Desa Kali Putih menjadi dikenal semakin luas. Saat ini juga saya kemari. Ingin mengumpulkan karyamu yang lain. Siapa tahu akan banyak membantu keuangan.
AMAT : Selama ini sudah begitu, saya dan Suroto membantu keuangan ayah.
PAK INDRA : Yang karyamu sendiri?
AMAT : Sekarang belum ada.
PAK INDRA : Jadi selama ini apa yang kamu buat?
AMAT : Membuat nisan.
PAK INDRA : Jangan berolok-olok.
PAK AMAT : Benar, kami lebih banyak membuat nisan katimbang patung.
PAK INDRA : Maukah kau membuat untukku?
AMAT : Dengan senang sekali, Pak.
PAK INDRA : Kapan selesai?
AMAT : Seperti yang untuk pameran itu, Pak?
PAK INDRA : Bolehjuga.
AMAT : Seminggu.
PAK INDRA : Bagus.
AMAT : Akan tetapi giliran Pak Indra pada minggu ke dua. Pak Broto telahmemesan sebelumnya.
PAK INDRA : Tak apa, ia bisa mengalah. Berapa biayanya, Mat?
AMAT : Tak usah Pak Guru pikirkan.
IBU AMAT : Batunya tinggal mencari ke sungai, Pak Guru. Tinggal membuat.
PAK INDRA : Terima kasih kalau begitu. Tetapi biasanya harganya berapa?
AMAT : Tak tentu.
PAK INDRA : Tak tentu?
PAK AMAT : Tigaribu juga sudah lumayan.
AMAT : Adakalanya dibeli limaribu rupiah, Pak.
PAK INDRA : Padahal hanya dikerjakan seminggu. Banyak duit, Mat.
AMAT : Mestinya begitu, Pak. Kalau laku. Kadang sebulan tak ada yang membeli. Makanya lebih suka membuat nisan. Pasti ada pembelinya. Meskipun harganya rendah.
PAK INDRA : Soal belajarmu nanti bisa diatur. Akan kita bicarakan dengan Pak Broto.
AMAT : Wah, kalau semuanya dapat perkecualian sekolah kita dapat bubar.
IBU AMAT : Kenapa?
AMAT : Kan semunya membuat patung. Kris, Manowo, Tedi membuat semua.
(IBUNYA TERTAWA KERAS. AYAHNYA TERTAWA, LEBIH PELAN).
PAK INDRA : Tidak semuanya mendapat perkecualian, meskipun semua membuat patung. Milikmu istimewa. Hasil karyamu istimewa.
AMAT : Bapak membuat saya bangga.
PAK INDRA : Nyatanya hasil patungmu dinilai nomer satu. Mendapat penghargaan dari Pak Gubernur dan hadiah. Sedangkan kita mengirim banyak patung dalam pameran tersebut.
(MELIHAT JAM TANGANNYA). Sudah larut, lagipula saya ada pekerjaan di rumah. Lebih baik saya pamit dulu.
(BERDIRI DAN BERSALAMAN). Jangan lupa Mat ya? (AMAT MENGANGGUK. PAK INDRA DIANTARKAN PAK AMAT KELUAR RUMAH. KINI GILIRAN SUROTO YANG MEMAKAN KUE LAHAP. IBUNYA HANYA MELIHAT SAJA).
IBU AMAT : Hebat. Belum pernah ada tamu hebat berturut-turut datang masuk ke rumah ini.
PAK AMAT : (SETELAH MENGANTAR TAMU).
Mimpi apa kau semalam?
AMAT : Tidurnya terlalu lelap tak sempat mimpi.
IBU AMAT : Patungmu jadi rebutan. Kau bakal naik kelas.
PAK AMAT : Jangan terlalu gembira.
IBU AMAT : Sudah pasti. Kan bapak kepala sekolah sendiri sudah kemari.
(KEPADA AMAT).
Buatkan patung yang benar-benar hebat Mat. Aku akan membantu.
AMAT : Aku ingin nonton wayang.
SUROTO : Ikut.
PAK AMAT : Lebih baik kau bikin sket. Atau memilih batu yang baik.
AMAT : Wah, saya kan mau nonton. Tadi janjinya…
PAK AMAT : Kau mau bikin patung apa?
AMAT : Kan waktunya masih seminggu.
(TIBA-TIBA TERDENGAR ASSALAMUALAIKUM LAGI. LIRIH KINI. SUROTO CEPAT BERJALAN KELUAR. DAN TERGESA KEMBALI).
AMAT : Pak Broto sudah, Pak Indra sudah, siapa lagi?
SUROTO : Pak Lurah dan…
AMAT : Siapa?
SUROTO : Aku belum mengenal, cuma…
Cuma kau takut!!
(PAK AMAT KEMBALI KE DEPAN. DISUSUL BU AMAT. YANG SEGERA KEMBALI. TANGANNYA MENUDING KESANA- KEMARI).
IBU AMAT : Sana bereskan segalanya. Minuman bawa ke belakang. (PADA SUROTO).
Roto, jangan habisi kue. (KEPADA AMAT).
Mat, bajunya jangan dilepaskan dulu. Pak Lurah dan Pak Camat datang.
AMAT : Bukan soal uang sekolah.
SUROTO : Kau tampaknya tak enak hati, kak.
AMAT : Kalau tam uterus menerus begini, aku tak jadi nonton.
SUROTO : Aku juga. (MENYESAL).
(KERIBUTAN MULAI LAGI. SEPERTI SEMULA, IBU AMAT MEMRINTAH KESANA-KEMARI DENGAN SUARA, PAK AMAT MENGHORMAT, SERTA SUARA-SUARA MENANYAKAN AMAT, SERTA PATUNG ADIPATI KARNA DAN SEBAGAINYA).
BABAK II
(SEKOLAH DASAR KALI PUTIH. RUANG UTAMA NAMPAK, SEDIKIT, DIHIAS. ADA KERAMAIAN AKAN TERJADI. TIDAK SEPERTI BIASANYA, ANAK-ANAK SEKOLAH MENGENAKAN SERAGAM PRAMUKA. BERKUMPUL DAN SALING BERBICARA, SANGAT ASYIK. PEMBICARAAN TERUS MENGALIR. DAN TIBA-TIBA SETENGAH BERHENTI KETIKA AMAT MUNCUL. SECARA TIBA-TIBA SAJA IA MENJADI PUSAT PERHATIAN).
YANTI : (MENGULURKAN TANGAN)
Selamat.
(AMAT MENYAHUTI DENGAN OGAH-OGAHAN).
Sebagai kakak perempuannya, aku ikut bangga. Nanti ada upacara.
AMAT : Hampir tiap hari ada upacara.
YANTI : Jangan sok. Tak baik. Kau harus cukup bangga, tapi tak usah besar kepala. Ya meskipun prestasimu memungkinkan untuk itu. Hari ini Pak Bupati datang mewakili Pak Gubernur.
AMAT : Permadi, kau yang menjaga pameran di Semarang. Bagaimana sebenarnya cerita sesungguhnya?
PERMADI : Jadi kau masih belum percaya?
AMAT : Jangan memaksa untuk percaya. Aku kan belum mendengar secara lengkap.
PERMADI : Patung Adipati Karna memperoleh penghargaan nomer satu. Dibeli dengan uang lima puluh ribu rupiah. Mau dengar lagi? Lima puluh ribu rupiah yang akan diserahkan Pak Bupati atas nama Pak Gubernur.
AMAT : Lima puluh ribu rupiah, untuk patung yang sekecil itu?
YANTI : Kita cuma senang. Turut senang.
AMAT : Aku sendiri senang. Karena hari ini tak ada pelajaran.
(TERJADI KERIBUTAN. SEDIKIT KERIBUTAN. “PAK BUPATI DATANG”, PAK BUPATI DATANG YANG DISERUKAN BERULANG-ULANG. SEMUA MENENGOK KEARAH DATANGNYA SUARA. PAK INDRA, PAK BROTO KELIHATAN MENYAMBUT. JUGA HADIR PAK LURAH, PAK CAMAT, SERTA PENGURUS LENGKAP, GONG BERBUNYI).
YANTI : Inilah upacara yang kita tunggu.
PERMADI : Hari yang bersejarah.
(SEMUA BERKUMPUL. MULAILAH PIDATO. PERTAMA KALI, TENTU SAJA PAK INDRA, YANG MENGULANGI PENJELASAN TENTANG KEMENANGAN AMAT. DAN KEMUDIAN TEPUK TANGAN DIMULAI KETIKA PAK BUPATI MAJU KE TENGAH DAN MULAI PIDATO).
PAK BUPATI : Tak ada yang lebih menggembirakan kerja saja, selain hari ini. Sekolah Dasar Kali Putih memenangkan hadiah utama.kalau yang menang sekolah di kota, kita maklum. Akan tetapi sekolah Kali Putih. Sekolah di lereng Gunung Merapi. Desa yang penuh batu dan pasir, sebagai mata pencarian utama. Dan atas kemurahan Tuhan Yang Maha Esa, lewat seorang anak bernama Amat, kemiskinan desa kita menghasilkan sesuatu yang lain. Bagi guru-guru dan kami sendiri. Justru dengan latar belakang yang seperti ini, kita mampu berdiri.
(AJUDANNYA MAJU MEMBERIKAN MAP. PAK BUPATI MEMBUKA MAP DAN MENGAMBIL AMPLOP).
Atas nama Pak Gubernur dan seluruh rakyat Jawa Tengah kami serahkan penghargaan ini.
(AMAT DIDORONG-DORONG MAJU KE DEPAN. IA MENOLAK. TAPI DISERET OLEH PERMADI).
PERMADI : (BERBISIK). Kau harus mengucap terima kasih.
AMAT : Itu soal mudah.
(AKHIRNYA AMAT MAJU. MENERIMA AMPLOP DAN BERJABAT TANGAN. KEMUDIAN AMAT DIPERSILAHKAN MENGUCAPKAN TERIMA KASIH).
Kawan semua, jangan berkecil hati. Kalaupun saya menang itu bukan berarti lebih dari kalian semua. Bapak Gubernur ingin membantu sekolahan kita. Jadi kalau aku tidak ikut, hadia itu akan diberikan salah seorang dari kita.
(SEMUA TERKEJUT. JUGA PAK BUPATI, PAK INDRA DAN PAK BROTO. DENGAN SEGERA MENGAJAK PAK BUPATI KE RUANGAN YANG LAIN. SEMETARA ITU AMAT TERCENGANG SENDIRIAN. IA DIKERUBUNGI TEMAN-TEMANNYA).
YANTI : Mengapa kau begitu lancang?
AMAT : Apakah ada yang keliru tata bahasanya?
PERMADI : Mengapa kau berkata seperti itu?
AMAT : Bukankah itu wajar? Kalian tahu sendiri. Kita semua membuat patung batu. Patungku tidak istimewa. Kristanto membuat patung Karna juga. Manowo malah membuat patung Gatotkaca. Lebih besar dan lebih bagus. Semua anak Kali Putih membuat patung. Seperti juga orang tuanya.
PERMADI : Tapi kaulah yang terbaik.
AMAT : Ini tidak jujur.
YANTI : Apa?
AMAT : Ini tidak jujur.
YANTI : Apanya yang tidak jujur?
AMAT : Aku mengerjakan bersama ayah.
SEMUA : Ssssssttttttt….
YANTI : Jangan keras-keras nanti kedengaran Pak Bupati.
AMAT : Jadi kau tahu?
YANTI : Ya.
AMAT : Sejak semula kau tahu?
YANTI : Ya. Bahwa ayah yang memilih batu. Meski kau yang memberikan sketsa Karna sedang mendongak ke langit.
AMAT : Seharusnya ayah yang menerima hadiah itu.
YANTI : Tak mungkin.
AMAT : Memang tidak. Karena ayah tidak sekolah. Aku sendiri tidak berhak menerima. Sebaiknya kukembalikan saja. Sebelum Bapak Bupati pergi.
(AMAT MEMBERONTAK DARI KERUMUNAN, IA MENCOBA LEPAS. PERMADI MENAHAN SEKUAT TENAGA. MEMEGANG BAJU AMAT DENGAN SERENTAK KERAS. DAN MENARIK).
PERMADI : Jangan, Mat. (AMAT NAMPAK HERAN).
Jangan, Mat. Jangan. Tidakkah kau berpikir bahwa jika kau kembalikan sekolah kita tidak nomer satu?
AMAT : Memang tidak.
PERMADI : Gila kau.
AMAT : Tetapi aku tidak berhak atas uang itu. Bayangkan lima puluh ribu rupiah. Betapa besar dosa yang kutanggung.
TEDI : Itu soal uang. Tapi yang kita persoalkan, mengenai penghargaan yang diberikan sekolah kita. Apakah kebanggaan ini akan kau buyarkan begitu saja? Sebagai ketua umum aku tak suka kamu main gila.
(AMAT MENAHAN LANGKAH. SEMUA MEMANDANGKE ARAHNYA. YANTI MENDEKATI DAN MEMBELAI ADIKNYA).
YANTI : Meskipun kita tidak serumah, karena aku di rumah paman, tetapi aku mengetahui pasti kerisauanmu. Aku menyadari. Namun kau tak usah mengembalikan.
AMAT : Aku tak bisa membohongi diriku sendiri.
YANTI : Kau perlu berkorban sedikit. Untuk kepentingan bersama.
TEDI : Seluruh sekolahan…
YANTI : Memang berat, tapi kau harus menahan diri. Supaya kita semua tidak malu.
(AMAT BIMBANG. TEMAN-TEMANNYA SENANG MELIHAT PERUBAHAN INI).
AMAT : Aku harus mengembalikan.
YANTI : Jika aku melarang?
(AMAT MENGANGGUK).
TEDI : Dan seluruh teman menghalangimu?
(AMAT MENGANGGUK).
MANOWO : Jangan serahkan dulu. Kita panggil Pak Guru.
(MANOWO BERJALAN DIANTARA KERUMUNAN. KEMUDIAN KEMBALI BERSAMA PAK BROTO YANG KEMUDIAN MEMBUJUK NAMUN KELIHATANNYA TIADA HASIL. JALAN BUNTU. PAK BROTO PERGI DAN KEMBALI BERSAMA PAK INDRA. DAN PAK LURAH DAN PAK CAMAT. AMAT DIKELILINGI).
PAK INDRA : Apakah putusanmu tidak berubah?
AMAT : Tetap, Pak.
PAK INDRA : Apakah kau ingin kelihatan gagah?
Ataukah kau merasa seorang jagoan?
(AMAT MENUNDUK. TANGANNYA YANG MEMEGANG AMPLOP GEMETAR).
AMAT : Tidak.
PAK INDRA : Uang itu bisa disimpan dalam Tabanas. Dikemudian hari kau pasti memerlukan. Pasti. Untuk bayaran sekolah bulan lalu dan untuk sekolahmu yang akan datang. Pikirkan dulu sebelum kau serahkan.
AMAT : Semalam saya telah yakin apa yang harus saya kerjakan. Saya malu karena ini bukan hak saya.
PAK INDRA : Kau mengerti akibatnya untuk sekolahan kita?
AMAT : Ya. Telah saya pikirkan. Apakah Pak Indra melarang saya mengembalikan?
PAK INDRA : Tidak. Saya tak melarang. Pak Lurah tak melarang. Pak Camat tak melarang. Tetapi ingatlah. Akibat untuk dirimu, untuk sekolahmu, dan untuk desa semua. Saran saya boleh diturut dan boleh tidak.
(AMAT MENDONGAK. DIPEGANGNYA AMPLOP ITU).
AMAT : Akan saya kembalikan. (AMAT BERJALAN. MENUJU PAK BUPATI. DENGAN GEMETAR DISERAHKAN KEMBALI AMPLOP ITU).
Maaf. Dengan sangat menyesal saya kembalikan amplop dan penghargaan dari Pak Gubernur. Saya tidak berhak menerima. Patung tersebut saya kerjakan bersama ayah saya.
(AMAT MENCOBA MENJABAT TANGAN PAK BUPATI LALU MUNDUR. LANGKAHNYA PELAN. SEMUA MEMANDANG KETIKA AMAT LEWAT. PAK LURAH MEMBERI JALAN TANPA MENOLEH. PAK INDRA BERDIAM SAJA. KETIKA AMAT LALU DI DEPANNYA. JUGA PAK BROTO, DAN MEMANDANG DENGAN PERASAAN TERTENTU. KASIHAN DAN MASA BODOH. AMAT BERJALAN SENDIRIAN, DAN GONTAI).
BABAK III
ADEGAN I (DI BENGKEL KERJA PAK AMAT. PAK AMAT TENGAH BEKERJA MENATAH PATUNG BATU. YANTI MEMANDANG DARI DEKAT. AMAT SENDIRI TENGAH MERAMPUNGKAN SEBUAH PATUNG, TIDAK SEBESAR YANG DIKERJAKAN AYAHNYA. DI SEKITARNYA BEBERAPA BONGKAH BATU YANG SETENGAH JADI, SUDAH JADI, MAUPUN TELAH RAMPUNG SEBAGAI PATUNG).
YANTI : Masih jadi pertanyaan dalam hatiku. Sebagai saudara kandung aku ternyata tidak pernah mengenalmu secara dekat. Bukan karena sejak kecil aku ikut paman. Tapi….
AMAT : Soal pengembalian itu lagi?
YANTI : Tahukah kau bahwa Pak Indra kecewa?
AMAT : Tahu.
YANTI : Tahukah kau bahwa Pak Bupati sendiri kecewa?
AMAT : Tahu.
YANTI : Bahwa aku sendiri kecewa.
AMAT : Ha… ha… ha..
YANTI : Tetapi mengapa kau lakukan juga?
AMAT : Aku akan mendapatkan penghargaan itu secara lebih jujur. Aku bisa memperolehnya tanpa bantuan siapa saja.
YANTI : Kapan?
AMAT : Tahun depan atau tahun depan lagi.
YANTI : Hanya untuk itu kita semua kecewa.
AMAT : Tak apa. Sesekali ada baiknya merasa kecewa. (YANTI MENGELUARKAN TAS SEKOLAH MENGELUARKAN PINSIL).
YANTI : Inilah pinsil gambar yang kau pinjam. Sesuatu yang bisa kau miliki sendiri jika…
(AMAT YANG SIAP MENERIMA ULURAN MENJADI TERTAHAN. AMAT MENOLAK. TAPI YANTI TETAP MEMAKSA. AMAT MENERIMA DENGAN KAKU).
AMAT : Soal pensil kan kau bisa memberikan.
YANTI : Apakah bapak setuju apa yang dilakukan Amat?
PAK AMAT : Amat sendiri telah berpikir sebelum melakukan itu. Saya tinggal menyetujui saja.
YANTI : Ayah tak memarahi?
PAK AMAT : Marah tak bakal merubah si Amat.
YANTI : Resilo Amat terlalu besar. Ia mengecewakan semua guru dan pejabat di sini.
AMAT : Jangan menambah rasa takutku, kak.
(PAK AMAT TERUS BEKERJA. MENATAH DENGAN HATI-HATI. BEGITU JUGA DENGAN AMAT. KINI MENGANGKAT TINGGI-TINGGI PATUNG JENDRAL SUDIRMAN).
Kak Yanti, kau tahu patung siapa ini? Inilah patung pak Dirman tengah melambaikan tangannya. Bayangkan di depannya laskarnya sedang deville menghormat ke arahnya.
YANTI : Untuk siapa?
AMAT : Pak Indra. Akan kuantar sore ini. Juga pesanan pak Broto. (KATANYA SAMBIL MENUNJUKKAN PATUNG GARUDA).
Tolong ambilkan Koran.
(YANTI MENGAMBIL KORAN DAN MEMBUNGKUS KEMUDIAN MENGIKAT DENGAN SANGAT HATI-HATI).
AMAT : Inilah hasil karyaku sendiri.
YANTI : Dibayar berapa?
AMAT : Kata ibu, kalau diberi uang, harus dikembalikan. Kalau diberi kain sarung tak ada alas an untuk menolak.
YANTI : Mudah-mudahan diberi kain yang cocok untuk aku.
AMAT : Biasanya aku pergi bersama teman-teman yang lain. Kali ini aku pergi bersama saudaraku sendiri. Sebagai pengganti teman-teman yang kini menjauh.(SUARANYA SEDIKIT PARAU. MENOLEH KE AYAHNYA).
Aku berangkat dulu.
(AYAHNYA MENGANGGUK. YANTI MEMBAWA PATUNG YANG KECIL. AMAT MEMBAWA PATUNG YANG BESAR. MEREKA BERJALAN BERSAMA. SALING BERBICARA PELAN, RUKUN , TERUS BERJALAN).
BABAK IV
ADEGAN II (AMAT BERJALAN DI DEPAN DIIKUTI YANTI. MEREKA SAMPAI DI RUMAH PAK BROTO. YANG KALA ITU BERADA DI HALAMAN. MASIH MEMAKAI KAOS SPORT).
AMAT : Selamat sore, pak….
PAK BROTO : Sore, darimana kalian?
AMAT : Dari rumah.
YANTI : Badminton pak, ya?
PAK BROTO : Sekedar latihan. Duduklah. Saya ingin mengeringkan keringat dan mandi dulu.
AMAT : Hanya sebentar, kok pak. Menyerahkan ini.
(SAMBIL MENUNJUKKAN YANG TERBUNGKUS KORAN)
PAK BROTO : Apa itu?
(AMAT MEMBUKA BUNGKUS KORAN PATUNG GARUDA . AMAT MENGACUNGKAN KE ATAS).
AMAT : Ini pesanan pak guru.
PAK BROTO : Ah, sekarang tak begitu suka burung garuda.
YANTI : Lebih senang banteng, barangkali?
PAK BROTO : Tak usah repot. Nanti aku ambil sendiri daripada merepotkan kalian. Aku kan bisa beli sendiri.
AMAT : Tetapi….
PAK BROTO : Tak usah. Rumah ini sempit. Bawa saja pulang.
YANTI : Bagaimana kalau ditaruh di kelas?
PAK BROTO : Boleh saja. Asal ada persetujuan seluruh kelas. Bagaimana jika dirundingkan besok pagi di dalam kelas saja?
YANTI : Lebih baik memang begitu.
PAK BROTO : Silahkan duduk dulu. Saya mandi sebentar. Keringat sudah kering.
AMAT & YANTI : Terima kasih pak. Kami akan ke rumah pak Indra sebentar.
(AMAT DAN YANTI MINTA DIRI. MELANJUTKAN PERJALANAN. KINI NAMPAKNYA BAIK AMAT ATAUPUN YANTI MEMBAWA BEBAN YANG JAUH LEBIH BERAT. NAMPAK SANGAT KELELAHAN DAN KESAL.TAPI TERUS SAJA BERJALAN).
BABAK V
ADEGAN III : (MEREKA TERUS BERJALAN HINGGA AKHIRNYA SAMPAI DI RUMAH PAK INDRA. LEBIH MEWAH KEADAANNYA, NAMUN LEBIH SURAM SUASANANYA. SEORANG PEMBANTU KELUAR DAN BERCAKAP SEBENTAR SAMBIL MENGGELENGKAN KEPALANYA .LALU AMAT MENDESAK DAN PEMBANTU ITU MASUK. MEREKA BERDUA MENUNGGU SEBENTAR SAMPAI IBU INDRA DATANG).
IBU INDRA : Oo, Amat dan Yanti. Mari-mari. Mau ketemu bapak? Sayang baru pergi. Baru saja. Mungkin belum jauh benar. Padahal seharian tadi di rumah terus. Ada perlu apa, nak?
AMAT : Mau menyerahkan patung ini.
(SAMBIL MEMBUKA KORAN PENUTUP PATUNG JENDRAL SUDIRMAN).
BU INDRA : Alangkah bagusnya. Ini hasil karyamu sendiri, ya?
YANTI : Dan sudah dipesan bapak.
BU INDRA : Sayang bapak lagi pergi. Dan saya tidak bisa memberi putusan apa-apa. Mungkin jalan upaling baik kalian berdua menunggu. Tapi, ini susahnya, saya tak dapat menetukan kapan pulangnya. Berangkatnya baru saja dan lagi, ini memang kebiasaan bapak, tak pernah memberi tahu kemana perginya, untuk urusan apa dan berapa lamanya. Saya sendiri jarang menanyakan, urusannya sendiri-sendiri. Jadi bagaimana enaknya? Kalian berua menunggu disini? Tak apa-apa kan? Silahkan duduk. Saya menyelesaikan urusan di dapur. Maklum, pembantunya hanya satu dan…
AMAT : Bagaimana kalau ditinggal saja, bu?
IBU INDRA : Boleh saja. Hanya saya kurang berani. Boleh dikatakan begitu. Lucu ya, kedengarannya. Istri kok takut sama suami. Tetapi begitulah kenyataannya. Bapak kalau lagi marah, wah, ini sebenarnya rahasia. Tak ada yang berani mendekat. Soalnya menambah marah. Jadi kita diam saja. Terus diam. Tak ada yang mendekat sampai kemarahannya pulih kembali. Kalau bapak sudah tertawa-tawa, itu tandanya sudah pulih. Apalagi soal patung. Hari ini bapak lagi uring-uringan. Lihat patung salah. Tidak lihat salah. Diletakkan di tengah salah. Diletakkan di pinggir salah. Lihatlah, tak ada lagi hiasan di sini. Semua patung batu disapu bersih.
AMAT : Ngggnnnnnnngg…..
IBU INDRA : Ini usul yang tidak simpatik. Bagaimana kalau dibawa pulang saja?
YANTI : Ngggnnnngggg..
IBU INDRA : Memang. Sudah kukatakan tadi ini usul yang tidak, atau kurang simpatik. Rasanya seperti menyuruh kalian pulang. Ini tentu saja bertentangan dengan sopan santun yang diajarkan di sekolah. Nah, jika kalian berpikir begitu,lebih baik tunggu di sini. Ruangan ini terbuka luas untuk kalian.
YANTI : Apakah sebelumnya bapak tak pernah menyinggung patung yang dibuat Amat?
IBU INDRA : Bukan tak pernah. Selalu. Selalu, baik pagi waktu sarapan, sampai malam hari sesudah makan malam. Tetapi kini terus terang saja, bapak lagi tidak suka sama patung. O, tadi sudah kami terngkan bukan? Sebabnya ialah, eng, ini kira-kiraku sendiri, bapak kecewa. Ia pernah berhubungan dengan pedagang barang seni. Lalu pedagang itu marah-marah. Dan sekarang bapak marah-marah.
YANTI : Pedagang….
IBU INDRA : Ini rahasia kita sendiri. Bapak sudah merencanakan menjual patung dalam jumlah yang besar. Mestinya ini hanya kira-kiraku saja, ada untungnya. Tapi entah kenapa, semuanya menjadi buyar.
YANTI : Ibu…..
IBU INDRA : Saya tidak pernah menanyakan sebabnya. Memang tidak perlu pokoknya urusan rumah tangga selesai, urusan dapru selesai. Nah, kalau itu aku sudah merasa longgar. Memang tambah repot. Dulu sebelum bapak menjadi kepala sekolah, tidak begini, sekarang, jadi kepala sekolah malah lebih banyak marahnya.
YANTI : Bu…..
IBU INDRA : Mungkin juga karena tanggung jawabnya lebih besar. Karena kekuasaannya tambah besar. Tapi sekarang jarang ada anak bermain di sini. Jarang sekali. Rasanya baru kalian sejak….
(AMAT MENGANGKAT KEMBALI PATUNGNYA DAN MEMBERI ISYARAT YANTI UNTUK MENGANGKAT PATUNGNYA PULA).
Jadi kalian setuju usul yang tidak simpatik ini? Nanti saya tunggu. Terus terang saja, ini rahasia kita saja, saya kesepian. Sekarang tak ada anak-anak yang les kemari. Tak ada, ah, berat juga tanggung jawab kepala sekolah. (AMAT DAN YANTI MINTA DIRI). Jika bukan urusan patung, kita bisa bicara semalam suntuk. Atau, kalaupun urusan patung, nanti-nanti saja. Baiklah, selamat jalan. Sampai nanti. Nanti saya katakana pada bapak kalau kalian berdua datang kemari. Ya, salam hormat buat pak Amat dan bu Amat. Untuk bu Amat, kok lama tidak muncul arisan? Ya, ya, ya, sampai ketemu lagi. Hati-hati ya.
(DENGAN PENUH RASA HORMAT YANTI DAN AMAT BERJALAN PULANG. KINI DIPERJALANAN, PATUNG INI SANGAT MEMBERATI. SEAKAN TAK KUASA LAGI AMAT MENGANGKAT. MEREKA BERJALAN TERUS).
BABAK III
ADEGAN IV : (AMAT BERIRING DENGAN YANTI. TIBA-TIBA DI SEBUAH JALAN. AMAT MENGHENTIKAN LANGKAHNYA. YANTI MENUNGGU, CEMAS. AMAT MENGANGKAT PATUNGNYA TINGGI-TINGGI KE UDARA).
YANTI : Kau mau membuangnya?
(AMAT MENENGOK SEBENTAR. LALU MEMBANTINGNYA KERAS DAN DUDUK MENAGIS. YANTI MENDEKATI).
Pak Broto memang…
AMAT : Pak Broto memang jujur dan terus terang. Seperti juga pak Indra dan yang lainnya.
(AMAT MENCOBA MENGAMBIL PATUNG DARI TANGAN YANTI. YANTI MENAHAN SEBENTAR LALU MEMBERIKAN).
YANTI : Itu memang karyamu sendiri. Tapi kukira ayah tak senang mendengar ini.
AMAT : Ayah?
YANTI : Ayah yang selam ini tidak marah kepadamu. (GERAKAN AMAT TERTAHAN). Ayah ingin melihat kau membuktikan tekadmu. Menang dalam perlombaan secara jujur. Menang karena itu hasil karyamu sendiri, yang kau tangani sendiri. Dan kau telah menghasilkan. Apa artinya jika kau menghancurkannya?
AMAT : Ini tidak ada artinya.
YANTI : Yang menilai bukan satu dua orang.
(AMAT MELETAKKAN PATUNGNYA).
AMAT : Benar. Aku harus membuktikan. Supaya ayah tidak menyesal. Supaya aku sendiri tidak menyesal.
YANTI : Supaya aku tidak menyesal juga.
AMAT : Akan kubuat patung yang megah. Untuk membuktikan keampuhanku. Aku akan membuat patung Budha bersamadi. Seperti yang di Borobudur.
(AMAT BERJALAN BEGITU SAJA MENINGGALKAN YANTI. YANTI MENGAMBIL PATUNG TERSEBUT, DAN BERJALAN MENGEJAR ADIKNYA YANG TINGGAL BAYANGAN).
BABAK IV
ADEGAN I : (SUASANA SEKOLAH DASAR KALI PUTIH, WAKTU ISTIRAHAT, SEMUA ANAK BERMAIN BERSAMA TEDI, PERMADI, MANOWO, DLL. MEREKA MAIN BOLA, MAIN PETAK UMPET, MAIN LONCAT. DALAM SUASANA BERGEMBIRA. AMAT HANYA BERDIRI DI TEPI. MENONTON, KETIKA LONCENG SEKOLAH BUBAR, SEMUA BERLARI SALING DORONG, BERCANDA, BERGEMBIRA. TAPI TIDAK UNTUK AMAT. IA NAMPAK SENDIRI DIANTARA KERIAHAN. TAK ADA YANG MENEGUR SAPA. TAK ADA YANG MENGAJAK BERCANDA. AMAT SENDIRI TIDAK BERUSAHA MENGAJAK. IA MELIHAT SEGALA KERAMAIAN DAN KEGIATAN. MELIHAT SAJA. JUGA PADA SUASANA YANG LAIN. SENDIRI. KESEPIAN MENGGURAT DI WAJAH AMAT. SATU-SATUNYA YANG SERING MENEMANI HANYALAH SUROTO KETIKA MEREKA MAIN BOLA).
SUROTO : Tidak main bola, kak?
AMAT : Bolanya Cuma satu. Nanti kalau bolanya dua aku akan ikut.
(KETIKA PADA PERMAINAN YANG LAIN).
SUROTO : Tidak ikut, kak?
AMAT : Tidak.
SUROTO : Kok tidak ikut?
AMAT : Kok Tanya terus?
SUROTO : Tidak boleh.
AMAT : Boleh.
SUROTO : Jadi kenapa?
AMAT : Tapi ini rahasia.
(SUROTO MENDENGARKAN SUNGGUH-SUNGGUH).
Saya sedang membuat rencana besar. Jangan bertanya. Akan kujelaskan padamu. Setiap hari Sabtu aku pergi ke Borobudur. Mempelajari patung yang besar. Aku akan membuat sebesar itu. Itu adalah rencana yang besar. Lebih besar dari sekedar main bola atau menangkap cengkerik.
SUROTO : Lebih besar dari main layang-layang.
AMAT : Jelas.
SUROTO : Aku ikut.
AMAT : Kau, tak bisa. Soalnya aku bermalam di sana. Hari Senin pagi baru kembali. Langsung ke sekolah.
SUROTO : Jadi?
AMAT : Kau harus menunggu sampai sebesar aku.
SUROTO : Ya, memang lebih baik. Aku menunggu. Tapi ibu sakit memikirkanmu.
AMAT : Memang sakit. Tetapi tidak selalu memikirkan. Untuk apa memikirkanku?
SUROTO : Kata kak Yanti, karena kau sekarang dijauhiteman-teman.
AMAT : Ya.
SUROTO : Diasingkan.
AMAT : Apalagi?
SUROTO : Kita ini orang gagal.
AMAT : Memang. Tetapi kita bukan orang jahat.
SUROTO : Mengapa diasingkan?
AMAT : Tidak diasingkan. Di sekolah akumasih bercakap dengan mereka bilamana perlu. Tetapi nampaknya mereka segan. Aku sendiri juga segan.
SUROTO : Apakah benar jika kau tidak mengatakan bahwa itu patung buatanmu bersama tak ada yang tahu?
AMAT : Mungkin. Tetapi kejujuran bermula dari hatiku sendiri.
SUROTO : Mengapa tak sayang uang?
AMAT : Siapa mengatakan itu?
SUROTO : Banyak.
AMAT : Siapa?
SUROTO : Semua.
AMAT : Katakan kepada mereka supaya membuat patung seperti aku. Agar menerima uang limapuluh ribu rupiah. Kepada siapa saja yang mengatakan soal ini. Tahu?
SUROTO : Akan kukatakan.
AMAT : Malam nanti kau menjaga ibu. Aku akan pergi ke Borobudur.
(AMAT BERLALU SAMBILMENGEMASI DAN MEMBUKA PERLENGKAPANNYA. SELIMUT DAN KAIN SARUNG. SERTA NASI DAN TEMPAT MINUM).
SUROTO : Naik truk lagi?
(HANYA ANGGUKAN SEBAGAI JAWABANNYA).
BABAK IV
ADEGAN 2 : (RUMAH PAK AMAT, PAK AMAT SEDANG MENGERJAKAN SESUATU. ADA SUROTO DAN YANTI. ABU AMAT BERBARING. NAMPAKNYA MASIH KHAWATIR. MASIH CEMAS DAN MASIH ADA TANDA-TANDA SAKIT. SETIDAKNYA KESEHATAN YANG NORMAL BELUM TERLIHAT PULIH).
IBU AMAT : Ia makin sering ke Borobudur.
PAK AMAT : Janganlah terlalu dikhawatirkan.
IBU AMAT : Ini soal anak.
PAK AMAT : Amat bisa menjaga diri.
IBU AMAT : Katanya ingin membuat patug Budha. Apa ini normal?
PAK AMAT : Normal saja.
IBU AMAT : Sebesar Amat.
PAK AMAT : Sebesar Amat ingin membuat patung Budha kan normal. Hasilnya, mungkin ia sadar hal itu mungkin. Keinginan itu sendiri apa salahnya.
IBU AMAT : Di sekolah dijauhi temannya.
PAK AMAT : Dan itu soal lain. Untuk sementara waktu ada baiknya. Kan Amat jadi risi jadi perhatian terus menerus, ditanya soal yang sama terus menerus. Ia perlu menenangkan diri.
IBU AMAT : Baginya, tak ada yang buruk. Semua baik. Semua beres. Juga anak yang ikut truk ke Borobudur.
PAK AMAT : Nanti juga datang.
IBU AMAT : Aku jadi sedih.
YANTI : Sudahlah bu. Tak ada gunanya menyesali.
IBU AMAT : Akan begini jadinya. Kasihan Amat. Ia pasti lekas tua.
YANTI : Ah, ada-ada saja.
(TERDENGAR ASSALAMUALAIKUM. SUROTO BERLARI KE DEPAN. DI DALAM HENING LALU SEGERA KEMBALI).
SUROTO : Pak Broto.
IBU AMAT : Aduh, pak Broto lagi.
PAK AMAT : Mari, kita persilahkan masuk.
YANTI : Kita benahi dulu.
PAK AMAT : Dengan siapa?
SUROTO : Dengan pak Indra.
IBU AMAT : Waduh, pak Indra juga. Jangan-jangan Amat membuat kesalahan lagi.
(YANTI MENENANGKAN IBUNYA. PAK AMAT KE DEPAN DAN MASUK LAGI BERSAMA PAK BROTO DAN PAK INDRA. TENTU SAJA MENGATUR RUANGAN YANG SEDERHANA AGAK REPOT).
PAK INDRA : Katanya ibu sakit?
IBU AMAT : Hanya masuk angina.
PAK AMAT : Kena air hujan.
PAK BROTO : Mana Amat?
(SUASANA HENING DAN SALING PANDANG. TERDENGAR SUARA ASSALAMUALAIKUM LAGI.SUROTO BERLARI KE DEPAN DAN KEMBALI LAGI. AGAKNYA IA CUKUP DITUNGGU SEMUA MEMANDANG KE ARAHNYA).
SUROTO : Pak Lurah.
IBU AMAT : Tambah pak Lurah.
SUROTO : Dan seorang yang sangat dihormati.
YANTI : Pak Camat.
IBU AMAT : Apanya yang gawat?
(PAK AMAT SEGERA KE DEPAN. LALU KEMBALI BERSAMA PAK LURAH DAN PAK CAMAT. TENTU SAJA MAKIN KIKUK. KARENA TAK ADA KURSI UNTUK MEREKA).
PAK LURAH : Mana Amat?
PAK INDRA : Kami juga menanyakan.
PAK CAMAT : Sudah dengar beritanya?
PAK BROTO : Sudah.
(PAK AMAT DAN IBU AMAT HANYA SALING PANDANG. JUGA SUROTO DAN YANTI. AGAK LAMA TERHERAN-HERAN).
PAK LURAH : Kami menanyakan Amat. Apakah masih di Borobudur?
PAK AMAT : Masih.
IBU AMAT : Ada peristiwa apalagi?
(PAK LURAH, PAK CAMAT, PAK BROTO, DAN PAK INDRA. BERDIRI BERSAMA-SAMA TERSENYUM).
BABAK IV
ADEGAN 3 : (PAK LURAH, PAK CAMAT, PAK BROTO, PAK INDRA TERSENYUM GEMBIRA. SEMENTARA TEDI, MANOWO, KRISTANTO, PERMADI DAN YANTI SERTA SUROTO DAN TEMAN-TEMAN YANG LAIN JUGA DALAM SUASANA GEMBIRA. IBU AMAT TERTAWA-TAWA BERSAMA IBU INDRA. TERJADI SEDIKIT KERIBUTAN KETIKA PAK BUPATI DATANG SALING BERSALAMAN SALING BERCAKAP-CAKAP. RUANGAN MERIAH. KETIKA AMAT MUNCUL SEMUA MENYALAMI. SATU PERSATU DENGAN MERIAH. IBU AMAT SAMPAI MELONJAK-LONJAK. DEMIKIAN JUGA YANTI. AMAT SENDIRI BERGEMBIRA. HANYA DENGAN AYAHNYA IA TAK BERJABAT TANGAN. HANYA BERPANDANGAN. KEMUDIAN MUNCUL PAK GUBERNUR. IA NAMPAK RAMAH, DAN TIDAK SUKA RESMI-RESMIAN KELIHATANNYA. LANGSUNG MENDEKATI AMAT DAN MENJABAT TANGANNYA. ACARA BERLANGSUNG).
PAK GUBERNUR : Saya hanya ingin menjabat tangan Amat. Supaya kejujuran mengalir pada saya. Kejujuran sangat dibutuhkan, pada saat-saat dilalaikan. Amat telah memperlihatkan. Ketika mengembalikan hadiah. Akan tetapi sesungguhnya Amat sah mendapat hadiah itu. (TERDENGAR TEPUK TANGAN). Bahwa sketsa patung Karna mendongak ke langit itu dibuat Amat adalah suatu bukti. Bahwa ia masih ikut mengerjakan bersama dengan ayahnya, itu suatu bukti. Bahwa Amat pemahat. Di jaman maju kini, kerja sudah demikian erat dan besarnya. Seorang desainer batik hanya merancang malahan. Ia bekerja sama dengan pembuat batik. Saya tak ingin pidato panjang lebar. Karena semua sudah tahu apa yang terjadi. Kalau saya memuji Amat sebagai anak jujur dan mampu, itu tidak untuk membuatnya besar kepala. Semoga pujian ini dapat mendorong langkahnya lebih jauh. Mendorong teman-temannya. Mendorong desa Kali Putih. Semoga keinginannya membuat “Borobudur kedua” bukan hanya angan-angan kala sedih. (TERHENTI SEBENTAR). Yang mengatakan Amat seorang pemahat bukan saya. Tetapi pendapat pemahat lain yang lebih mengetahui. Semoga keterangan ini bisa lebih memuaskan Amat, dan keluarganya. (SUASANA BENAR-BENAR GEMBIRA SETELAH AMAT MENERIMA PENGHARGAAN).
TEDI : Untuk apa uangnya?
AMAT : Aku akan nanggap wayang kulit. Kita semua nonton paling depan.
TEDI : Bagus, tak ada yang tidak setuju.
PAK BROTO : Kita memang menanggap wayang kulit. Tapi itu sumbangan dari pak Bupati.
AMAT : Lalu untuk apa uang ini?
TEDI : Masak kau tidak punya rencana?
AMAT : Lima puluh ribu rupiah, membuat rencana palsu yang banyak sekali. Aku akan berdusta. Lebih baik…
PAK BROTO : Akan kau kembalikan?
AMAT : Tidak. Ini hak saya. Akan saya berikan ibu.
YANTI : Ya. Ia selalu mempunyai rencana yang mentakjubkan.
(KEGEMBIRAAN MASIH BERLANGSUNG AMAT MENCARI-CARI AYAHNYA. DAN MENEMUI TENGAH MENYENDIRI. KETIKA AYAHNYA MENYALAKAN ROKOK, AMAT MENYALAKAN KOREK API).
Apa yang ayah pikirkan?
PAK AMAT : Kalau engkau benar-benar membuat Borobudur kedua, aku kuatir.
AMAT : Kenapa?
PAK AMAT : Semua batu kita akan habis untuk itu. Dan kita tak bisa membuat nisan.
(AMAT TERSENYUM. AYAHNYA TERTAWA GIRANG. KEGEMBIRAAN TERUS BERLANGSUNG).
Selesai
05/07
Diketik ulang oleh studio teater PPPGKesenian Yogyakarta
Diposting oleh
Lukman Riyadi
di
02.15
0
komentar